IMM Toyota - Mojokerto
Kitoshindo
Birth Beyond

Mengapa Bunuh Diri Menjadi Tren? Ini Kata Psikolog

Avatar of Jurnalis : Dinda - Editor : Yunan
woman 1006100 1920
Ilustrasi depresi (pixabay)

Kota Malang, Kabarterdepan.com – Bunuh diri kini seolah menjadi tren di kalangan remaja terutama mahasiswa. Lalu, bagaimana penjelasan tentang tren ini dari sudut pandang psikologis?

Isu bunuh diri di Indonesia makin sering dibicarakan di media-media mainstream maupun sosial. Tak hanya isu belaka, nyatanya kasus bunuh diri juga meningkat. 

Responsive Images

Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri, mencatat 971 kasus bunuh diri di Indonesia. Data tersebut diambil dari periode Januari hingga 18 Oktober 2023. Angka ini ternyata lebih tinggi ketimbang kasus bunuh diri di tahun 2022 yang jumlahnya 900 kasus.

Sedangkan, menurut World Health Organization (WHO), bunuh diri merupakan penyebab kematian tertinggi keempat di antara orang-orang berusia yang 15-29 tahun di seluruh dunia. Dan mahasiswa berada pada rentan umur tersebut.

Sebab Terjadinya Bunuh Diri

Dosen Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Fuji Astutik menjelaskan, banyak media yang memberitakan mengenai kasus-kasus bunuh diri menjadi sebab tren bunuh diri semakin dilirik. 

“Artinya ini timbulnya mayoritas atau apapun yang dilakukan oleh seseorang apalagi bunuh diri menjadi sebuah kejadian yang mudah sekali untuk terdengar oleh orang lain,” ujar Fuji, Selasa (26/12/2023). 

Selain itu, pengaruh media sosial dirasa memberikan dampak yang kuat. Terutama bagi kesehatan mental di usia remaja yang berujung pada keputusan mengakhiri hidup sendiri. 

Fuji memberi contoh pada fenomena Generasi Z yang gemar membanding-bandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Perasaan sendirian dan kecemasan bisa muncul karena terlalu banyak melihat euforia orang lain di media sosial . 

“Karena yang biasa di unggah orang lain di media sosial biasanya hanya yang senang-senang saja, seperti mengunggah pencapaian besar di usia muda. Sehingga ketika seseorang tidak mencapainya apa yang orang lain capai, itu akan menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan,” jelasnya.

Meski begitu, Fuji mengatakan, sebagai manusia sangat wajar apabila suka membandingkan diri dengan orang lain. Yang menjadi masalah adalah ketika kebiasaan tersebut dilakukan secara terus menerus. Apalagi saat seseorang memiliki potensi permasalahan mental. 

Kecenderungan Bunuh Diri Akibat Masalah Mental 

Ternyata, depresi menjadi salah satu masalah kesehatan mental yang banyak berujung pada aksi bunuh diri. Depresi diketahui merupakan fase pertengahan, dimana penderita sudah memiliki niat untuk mengakhiri hidupnya. 

Dosen yang fokus pada kepakaran Psikologi Klinis itu mengungkapkan, ketika sudah memasuki fase terakhir atau fase depresi berat, di sanalah aksi bunuh diri kemungkinan dilakukan.

“Tetapi tidak serta merta seseorang langsung masuk ke fase depresi. Bisa jadi awalnya ada post-traumatic stress disorder (PTSD) yang tidak terselesaikan juga,” tambah Fuji.

Perlu diketahui, PTSD merupakan gangguan mental karena trauma di masa lampau. Sebab-sebab dari PTSD sendiri juga bervariasi, salah satunya akibat dari pengasuhan orang tua yang tidak baik.   

PTSD dapat dikategorikan sebagai gangguan mental yang mempunyai potensi juga pada aksi bunuh diri. Trauma di masa lalu yang belum sembuh akan semakin memperburuk kesehatan mental, apalagi saat trauma ini terpantik suatu masalah. 

“Di situasi sekarang, kalau ada orang yang tertinggal sedikit saja dianggap aneh. Contohnya belum lulus saat teman-temannya yang lain sudah lulus. Sudah ada potensi ditambah pula pemicu. Ibaratnya, tinggal tunggu waktu meledaknya saja,” ujarnya. 

Gejala yang Perlu Diwaspadai 

grayscale shot chair small pond concept loneliness min scaled
Ilustrasi kesendirian (freepik)

Beberapa penelitian menemukan rasa kesepian mempunyai korelasi dengan depresi. Awalnya, penderita bisa saja merasa tidak ada orang yang memahami, peduli, membutuhkan atau yang dapat membantunya. 

Ketika persepsi tersebut terbentuk, biasanya penderita akan menarik diri dari lingkungan. Saat itulah, penderita sekaligus orang di sekitar harusnya menyadari. 

“Jadi memang kita harus menyadari kalau pemikiran itu tidak benar. Sadar diri kalau kita tidak sedang baik-baik saja. Cross check ulang pemikiran merasa sendirian itu, sebelum terjerumus lebih dalam,” ujar Dosen Psikologi itu.

“Kita sebagai orang di sekitar juga seharusnya berusaha untuk datang. Tidak harus menanyakan “eh kamu kenapa kok menarik diri”. Cukup sekedar “ayo makan bareng yuk”. Coba bangun kepercayaan diri mereka karena pasti tidak mudah untuk membicarakan masalahnya,” lanjut Fuji. 

Cara Meningkatkan Awareness Pada Diri Sendiri

Fuji menjelaskan, ketika manusia dewasa menghadapi suatu masalah dan merasa sedih, respon pertama yang terjadi dalam dirinya adalah penyangkalan. Pada respon tersebut, wajar jika seseorang bertanya-tanya bagaimana kehidupannya akan berlangsung dalam keadaan yang berbeda. 

Selanjutnya, respon emosional. Saat itulah, terbesit dalam pikiran “mengapa harus saya yang merasakannya?” atau “hidup ini tidak adil!”. Bahkan tidak jarang, orang tersebut akan menyalahkan orang lain atas penyebab kesedihannya. Dan menyalurkan kemarahan ke teman dekat atau keluarga. 

“Maka agar seseorang sehat secara mental maka masuklah ke fase bargaining, berdialog dengan diri, “mau sampai kapan saya begini” bisa juga “apa yang saya dapatkan dengan saya yang seperti ini”. Kalau sudah bargaining nanti akan masuk ke fase penerimaan,” lanjut Fuji. 

Ketika fase penerimaan, orang tersebut bukannya berpikir “tidak apa-apa kehidupan saya sekarang terasa berbeda” melainkan, “kehidupa saya sekarang berbeda, tapi saya akan baik-baik saja”. 

Fuji menegaskan, fase penerimaan adalah waktu penyesuaian kembali dalam kehidupan. Manusia harus selalu mengingat, ada hari baik, ada hari buruk, dan akan ada hari baik lagi. (*) 

Tinggalkan komentar