IMM Toyota - Mojokerto
Kitoshindo
Birth Beyond

Dirty Vote : Film Dokumenter atau Black Campaign, Ini Kata Muhammad Lutfi

Avatar of Redaksi
Tangkapan layar akun resmi TikTok Muhammad Lutfi @mmd.lutfi
Tangkapan layar akun resmi TikTok Muhammad Lutfi @mmd.lutfi

Jakarta, Kabarterdepan.com – Baru-baru ini viral film dokumenter berjudul ‘Dirty Vote’, Mantan Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi angkat bicara di akun media sosial TikTok miliknya, yang bertajuk ‘Dirty Vote : Film Dokumenter atau Black Campaign?’

“Kita semua tahu, setiap mendekati pemilu, banyak informasi yang berseliweran di sosial media. Baru-baru ini ada film dokumenter baru bernama ‘Dirty Vote’ karya Dandhy Laksono. Sebelum kita terbawa arus, saya mau kita bersama-sama cermati fakta-faktanya. Sini saya akan jelaskan,” ungkap Muhammad Lutfi, yang juga menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat.

Responsive Images

Selanjutnya, tampak video calon presiden nomor urut 1, Anies Rasyid Baswedan yang mengatakan, pulau reklamasi untuk rakyat banyak, bukan untuk sekelompok orang. Di sisi atas video ada tangkapan layar judul berita, salah satunya ‘Ingkar Anies di Atas Janji Tolak Reklamasi’.

Lebih lanjut, Muhammad Lutfi menuturkan, dikenal dengan karya-karyanya yang dirilis menjelang pemilu, Dandhy Laksono seolah-olah punya agenda terselubung. Ingat “Rayuan Pulau Palsu”? diklaim sukses.

“Tapi, apa iya? Ironis, ya? Kritik keras tentang reklamasi malah yang dikritiknya yang menjalankannya. Sexy Killers pun ditunjukkan untuk meng-attack (menyerang) Pak Jokowi. Tapi apa dampaknya? Dandhy mencoba riding wave kasus “212” dengan “rayuan pulau palsu” dan lagi-lagi menyerang Pak Jokowi lewat “Sexy Killer”,” jelas Lutfi.

Tapi, imbuh Lutfi, bukannya kritik yang membangun, malah opini yang dipaksakan dan sekarang Dirty Vote, sebuah film yang kabarnya punya echo opiniĀ  salah satu paslon. Bukannya dokumenter, ini lebih mirip kampanye terselubung ya kelihatannya.

“Bukti menunjukkan jelas elemen film ini mulai dari krunya, Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti dan Feri Amsari hingga sutradaranya, Dandhy Laksono terang-terangan mendukung capres lain. Berlagak sebagai aktivis yang ingin berbicara tentang negara, padahal mereka mendukung paslon tertentu. Ini bukan pendidikan melainkan propaganda terang-terangan untuk menjelekkan nama presiden kita. Berhati-hatilah yang mengklaim sebagai aktivis namun sejatinya pendukung capres lain,” pungkasnya.

Tinggalkan komentar