IMM Toyota - Mojokerto
Kitoshindo
Birth Beyond

Deni Indianto Seniman Patung Pahat Tradisional di Mojokerto yang Masih Bertahan

Avatar of Jurnalis : Ano - Editor : Muzakki
Deni Indianto Seniman Patung Pahat Tradisional di Mojokerto yang Masih Bertahan Pahat
Deni Indianto saat memahat patung. (Erik/Kabarterdepan.com)

Patung merupakan karya seni yang sering kita temui. Di Indonesia banyak patung yang digunakan untuk bermacam keperluan.

Patung diciptakan oleh seniman sebagai wujud ekspresi gagasan, komunikasi dan seni agar kita dapat menikmati keindahan dan fungsinya.

Responsive Images

Ada pula patung dapat digunakan sebagai sarana ibadah, monumen, atau dekorasi bangunan, dan patung sebagai karya seni yang dipamerkan dalam pameran seni rupa.

Ada beberapa teknik-teknik pembuatan patung:

1. Teknik Butsir, ini merupakan cara membuat patung dari bahan lunak dengan metode substraktif (mengurangi) ataupun aditif (menambah) bagian.

2. Teknik Pahat, ini merupakan cara pembuatan patung dari bahan keras dengan proses subtraktif (pengurangan) bagian yang tidak diperlukan.

3. Teknik Merakit, ini merupakan pembuatan patung dengan cara merangkai bahan serta menghubungkan berbagai objek.

Teknik Cetak atau Cor, ini merupakan cara pembuatan patung dengan menuangkan cairan bahan patung pada cetakan yang telah dibuat.

Deni Indianto Seniman Patung Pahat Tradisional di Mojokerto yang Masih Bertahan Pahat
Patung pahat karya Deny Indianto. (Erix/Kabarterdepan.com)

Teknik Modelling, ini merupakan teknik pembuatan patung dengan cara membuat model terlebih dahulu.

Salah satu perajin patung Deni Indianto (44) merupakan seniman patung asal Dusun Jatisumber, Desa Watesumpak, Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini yang masih eksis.

Dia selama 20 tahun bergelut di dunia pemahat patung. Dirinya hingga saat ini masih mempertahankan membuat patung dengan teknik pahat.

Deni Indianto pemilik galeri Majapahit Art Stone tersebut sudah menggeluti dunia pahat patung sejak tahun 2000. “Saya¬† mendapatkan ilmu Pahat Patung dari tetangga rumahnya yang bernama Wakidi. Namun wakidi sekarang sudah meninggal dunia,” ujarnya, Senin (19/11/2023).

Selama 3 tahun mulai dari tahun 2000 Deni belajar untuk memahat patung kepada Wakidi. Dan akhirnya Deni bisa membuka usaha kerajinan patung berbahan batu andesit di rumahnya pada tahun 2003. Hingga saat ini bisnis patungnya sudah berjalan 20 tahun.

Deni mengatakan, saat ini produk industri kian pesat, namun dirinya tak patah semangat untuk membuat patung dari bahan batu andesit dengan teknik pahat. Deni meyakini dengan teknik pahat dirinya masih dapat keuntungan jualan dengan harga yang mahal.

Dikarenakan dirinya membuat patung dengan teknik pahat dengan jiwa seni. Jadi pangsa pasarnya menyasar pecinta seni.

“Di desa saya Dusun Jatisumber ini dari dahulu dikenal sebagai sentra kerajinan patung berbahan batu andesit. Membuatnya juga dengan teknik pahat. Patung-patung yang dari Dusun Jatisumber pemasarannya sudah sampai mancanegara. Dan terbukti kualitas produk seniman patung berkualitas dunia,” ucap Deni saat ditemui di galerinya.

Setiap bulannya Deni bisa meraup omzet Rp, 50 juta-70 juta. Untuk keuntungan bersihnya juga tak menentu. Terkadang Rp 5 juta, Rp 15 juta, Rp 20 juta, hingga Rp 30 juta. Bahkan bisa lebih dari itu.

Deni juga mengatakan, seiring berkembangnya industri khususnya moderenisasi membuat banyak pemahat patung harus menyesuaikan dengan kebutuhan pangsa pasar. Salah satunya industri patung berbahan patung cor semen mulai banyak tumbuh di Desa Watesumpak.

Untuk perbedaannya patung produksi industri menyasar pasar lokal maupun untuk diekspor mengandalkan kecepatan produksi dan harga miring. “Sedangkan patung pahat produksi seniman lebih memperdalam seni dan kualitasnya,” ujarnya.

Deni Indianto hingga saat ini mempertahankan seni, semua patung ada pakemnya sendiri-sendiri. Kalau tidak dipertahankan akan musnah. Dikarenakan mayoritas orang jualan produksi industri sehingga seni kosong. Namun dirinya tetap memahat patung dengan bahan batu andesit pasar produk seni.

“Sebelumnya patung-patung buatan Majapahit Art Stone dikirim ke hampir seluruh wilayah Indonesia sampai mancanegara, seperti negara-negara ASEAN, India, Eropa, dan Amerika Serikat. Namun belakangan ini laku di Indonesia saja,” ungkap Deni.

Deni Indianto menjelaskan jualan patungnya banyak di lokal, karena dirinya masih mempertahankan seni pahat tradisional. Berbeda dengan ekspor yang permintaan harus satu kontainer, untuk memangkas waktu harus dengan teknik cor. Bukan teknik pahat lagi.

“Saat ini saya menerima orderan dari berbagai daerah di Jawa, Kalimantan, Sumatera, Bali, dan makasar. Biasanya patung-parung saya dipasang di tempat ibadah seperti klenteng dan vihara. Tidak hanya itu dibuat juga dekorasi rumah pribadi maupun vila,” imbuhnya.

Saat ini Deni dibantu 4 pemahat untuk produksi patungnya. Untuk bahan batu andesit dari Kediri, setiap patungnya di pahat dari batu andesit utuh, tanpa ada sambungan.

Deni juga membagi tugas pemahatan pertahapnya. Hal itu dilakukan untuk menghasilkan karya seni tinggi. Mulai dari tukang belah batu, membuat bentuk kasar patung, tahap membentuk anatomi, tahap ukiran ragam hias, sampai finishing yang mencakup perbaikan kekurangan penghalusan dan pengecatan.

“Untuk finishing biasanya dikerjakan sendiri. Biasanya warna cat sesuai permintaan. Ada yang minta hanya dilapisi antilumut. Ada juga diberi warna antiknya,” kata Deni.

Majapahi Art Stone membanderol karya pahatnya dengan beragam ukuran, tingkat kerumitan, kehalusan dan lamanya proses pembuatan.

Seperti halnya replika lingga dan yoni dan perwujutan Dewa Siwa hingga patung Dewi Parwati dijual Rp 10 juta. Patung Dewi Parwati setinggi 170 Cm dijual Rp 35 juta. Dan patung kendedes setinggi 170 Cm harganya di atas Rp 35 juta.

“Saya juga menbuat patung Tribuwana Tunggadewi setinggi 320 Cm. Ini rekor paling mahal. Harganya seharusnya Rp 100 juta. Namun terjual Rp 80 juta,” Ungkap Deni Indianto. (*)

Tinggalkan komentar