Keracunan 411 Siswa Mojokerto Mengarah ke Telur Rebus, Ini Hasil Pemeriksaan Awal

Avatar of Redaksi
Keracunan di Mojokerto
Dapur SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 yang berada di Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto yang diduga menyebabkan 411 siswa keracunan (Redaksi / Kabarterdepan.com)

Mojokerto, Kabarterdepan.com – Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menjadi penyebab keracunan massal di Kabupaten Mojokerto mulai mengerucut. Dari rangkaian analisis awal yang dilakukan tim gabungan, dugaan sementara mengarah pada salah satu komponen menu, yakni telur ayam rebus yang disajikan bersama soto ayam.

Perkembangan tersebut disampaikan Komandan Kodim 0815 Mojokerto, Letkol Inf Abi Swanjoyo, usai mengikuti rapat koordinasi bersama sejumlah instansi terkait. Rapat itu melibatkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Polres Mojokerto, Sekretaris Daerah (Sekda) dan Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN), Labkesda Kabupaten Mojokerto, serta tim ahli gizi yang dilibatkan dalam proses investigasi.

“Secara detail saya tidak bisa sampaikan di sini karena saya bukan ahlinya. Tapi secara garis besar hasil diskusi kami mengarah kepada dugaan sementara karena adanya pembelian telur matang,” kata Abi, Kamis (16/1/2026) malam.

Dari hasil penelusuran sementara, diketahui bahwa telur ayam rebus tersebut dibeli oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 yang berlokasi di lingkungan Pondok Pesantren Al Hidayah. Telur matang tersebut diperoleh dari pemasok atau pihak ketiga dan menjadi salah satu pelengkap menu MBG berupa soto ayam yang dibagikan kepada para penerima manfaat.

Abi menjelaskan, proses pengolahan telur ayam rebus itu tidak dilakukan di dapur SPPG. Berdasarkan keterangan tim investigasi, telur tersebut dimasak oleh pihak ketiga pada Rabu (7/1/2026) malam. Namun, telur baru dikirimkan dan diterima di dapur SPPG pada Kamis sore, sehari setelah proses pemasakan.

“Lalu Kamis sore baru diantar ke SPPG. Itulah dugaan sementara kami karena adanya rentang waktu antara Rabu malam sampai Kamis. Tadi dijelaskan juga oleh tim ahli kesehatan,” ujarnya.

Rentang waktu antara proses pemasakan dan pendistribusian itulah yang kini menjadi perhatian utama tim gabungan. Kondisi tersebut diduga berpotensi memicu penurunan kualitas makanan, terutama jika tidak disertai dengan penanganan dan penyimpanan sesuai standar keamanan pangan. Dugaan ini masih terus didalami seiring berjalannya proses investigasi lanjutan.

Dampak dari dugaan tersebut terlihat ketika ratusan siswa dan santri mulai mengalami gangguan kesehatan secara massal. Peristiwa keracunan itu terjadi pada Jumat (9/1/2026) atau beberapa jam setelah MBG menu soto ayam dibagikan.

Para korban dilaporkan mengalami berbagai keluhan, mulai dari pusing, mual, muntah, demam, hingga diare. Sebagian korban sempat mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan, sementara lainnya menjalani pemantauan medis secara mandiri.

Hingga kini, tim gabungan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium lanjutan untuk memastikan penyebab pasti keracunan massal tersebut. Proses pendalaman juga terus dilakukan guna memastikan seluruh tahapan pengadaan, pengolahan, hingga distribusi makanan MBG berjalan sesuai standar yang ditetapkan.

Sebelumnya diberitakan, sedikitnya 411 pelajar, santri, serta anggota keluarga siswa dilaporkan mengalami keracunan yang diduga dipicu konsumsi MBG menu soto ayam dari SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 Pondok Pesantren Al Hidayah. Program MBG tersebut dibagikan kepada para pelajar dan santri pada Jumat, (9/1/2026) lalu.

Responsive Images

You cannot copy content of this page