Review Siswa SD Soal Program Makan Bergizi Gratis Viral, Pengakuan Siswa Soal Rasa Jadi Sorotan

Avatar of Redaksi
IMG 20250108 WA0051
Potret salah satu siswa yang meriview makanan gratis dari pemerintah. (@PaltiWest2024 / Kabarterdepan.com)

Bandung, Kabarterdepan.com – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka resmi meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (6/1/2025).

Program yang menjadi salah satu janji kampanye unggulan pasangan ini dalam Pilpres 2024 tersebut bertujuan meningkatkan asupan gizi anak-anak sekolah. Namun, di hari pertama pelaksanaannya, program ini justru menuai sorotan publik, terutama di media sosial, setelah muncul pengakuan jujur dari seorang siswa tentang menu makanan yang disajikan.

Program MBG dimulai di sejumlah sekolah di Jakarta, dengan berbagai jenis makanan bergizi disediakan untuk siswa. Salah satu menu yang dihidangkan adalah masakan ayam, yang bertujuan memberikan sumber protein penting bagi anak-anak. Namun, seorang siswa yang diwawancarai oleh stasiun televisi nasional mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap rasa menu ayam tersebut.

Dalam cuplikan video yang viral di media sosial, siswa bernama Krisna secara jujur mengaku bahwa ia enggan menghabiskan menu ayam karena rasanya dianggap “aneh.” Tak hanya itu, ia juga menyebut bahwa kulit ayam yang disajikan terasa keras sehingga mengurangi nafsu makannya.

Cuplikan wawancara Krisna ini diunggah oleh seorang pengguna Twitter, Widino Arnoldy, pemilik akun @PaltiWest2024. Dalam unggahannya, ia menulis, “Sabar ya Dek Krisna,” dengan menyertakan emoji sedih. Tak lama setelah itu, unggahan tersebut menjadi viral dan ramai diperbincangkan warganet.

Widino juga mengungkapkan rasa penasaran terhadap kelanjutan wawancara tersebut.

“Ini ada tayangan ulangnya nggak ya? Tadi pas Dek Krisna diinterview, ada lanjutannya yang bikin nyesek: ‘Kulitnya keras bikin nggak nafsu makan,’” tulisnya.

Video tersebut memicu berbagai reaksi di media sosial, dengan banyak netizen memberikan komentar terkait pengalaman Krisna. Beberapa di antaranya mengkritik penyelenggaraan program, sementara yang lain memberikan dukungan agar pemerintah segera memperbaiki kualitas menu yang disajikan.

Komentar dari warganet pun beragam. Ada yang merasa prihatin dengan menu makanan yang disajikan, sementara yang lain memberikan masukan terkait pengelolaan makanan.

“Krisna adalah Codeblue cilik,” tulis salah satu netizen, merujuk pada istilah dalam dunia medis untuk situasi kritis.

“Bayangin, ada berapa banyak makanan yang nggak dimakan dan jadi sampah begitu aja?” tulis akun @th**********, mengungkap kekhawatiran tentang potensi pemborosan makanan.

Komentar lainnya menyoroti kualitas masakan, seperti akun @ki***** yang mengatakan, “Tapi bener, ayam kalau nggak matang rasanya memang aneh. Aku juga nggak mau makan kalau masih ada merahnya.”

Ada juga warganet yang memuji kejujuran Krisna dalam memberikan ulasan.

“Krisna nggak menghina kok, kan cuma review jujur,” celetuk akun @PaltiWest2024 di kolom komentar unggahannya.

Program MBG bertujuan memberikan asupan gizi yang cukup bagi anak-anak sekolah, terutama di kalangan keluarga kurang mampu. Pemerintah berharap program ini dapat meningkatkan kesehatan generasi muda Indonesia dan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi masalah stunting.

Meski niatnya baik, kritik terhadap pelaksanaan program mulai muncul, terutama mengenai kualitas makanan yang disajikan. Beberapa pihak mengkhawatirkan bahwa makanan yang tidak sesuai selera anak-anak justru akan mengurangi efektivitas program. Selain itu, potensi pemborosan makanan juga menjadi perhatian publik.

Namun, tidak sedikit pula yang memberikan apresiasi terhadap inisiatif pemerintah ini. Mereka berharap bahwa masukan dari masyarakat, termasuk siswa seperti Krisna, dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas program di masa depan.

Program Makan Bergizi Gratis masih berada di tahap awal pelaksanaannya, sehingga berbagai tantangan wajar terjadi. Pemerintah diharapkan dapat segera melakukan perbaikan terkait kualitas menu makanan, mulai dari rasa hingga tekstur, agar dapat diterima oleh anak-anak.

Selain itu, komunikasi dengan pihak sekolah dan orang tua siswa perlu ditingkatkan untuk memastikan program ini berjalan lancar dan sesuai dengan kebutuhan gizi anak-anak.

Salah satu komentar yang mewakili harapan publik adalah dari seorang pengguna media sosial yang mengatakan, “Semoga evaluasi terus dilakukan, karena niatnya sudah sangat baik. Tinggal penyelenggaraan dan detail pelaksanaannya yang harus lebih diperhatikan.”

Dengan perhatian dan evaluasi yang serius, program ini diharapkan mampu mencapai tujuan utamanya, yaitu meningkatkan kesehatan generasi muda Indonesia melalui asupan gizi yang berkualitas. (Firda*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page