
Jombang, Kabarterdepan.com – Berawal dari hobi merawat tanaman hias di pekarangan rumah, pasangan suami istri (pasutri) Sugeng Mardiwibowo dan Diah Tri Hekmawati, warga Perum Denanyar Indah Blok R 1, Desa Denanyar, Kecamatan/Kabupaten Jombang, Jawa Timur, kini sukses memperoleh penghasilan tambahan dari budidaya serta jual-beli anggrek.
Dari Hobi Menjadi Bisnis Pasutri
Pantauan di lokasi, ratusan tanaman anggrek tersusun rapi dan sebagian besar tengah berbunga. Berkat ketekunan dan perawatan yang konsisten, anggrek-anggrek tersebut bukan hanya menjadi penghias rumah, tetapi juga memiliki nilai jual tinggi baik di pasar lokal maupun melalui platform daring.
Diah Tri Hekmawati (48) menuturkan hobinya pada anggrek sudah muncul sejak duduk di bangku SMA. Kecintaannya kian besar setelah ia mendapat hadiah anggrek botolan dari sang kakak.
“Saat pandemi COVID-19 saya menanam anggrek di teras rumah sampai penuh. Akhirnya saya pindahkan ke belakang, di lantai dua. Dari situ jumlahnya terus bertambah. Kalau ada yang jadi, saya spil-spil (bagikan), lama-lama malah jadi banyak,” ujar Diah, Jumat (5/12/2025).
Jenis Anggrek dan Harga Bervariasi
Berbagai jenis anggrek ia kembangkan, mulai dari Anggrek Bulan (Phalaenopsis), Dendrobium, Vanda, hingga Grammatophyllum speciosum atau anggrek tebu.
“Harga paling murah sekitar Rp 30 ribu, paling mahal sekitar Rp 500 ribu. Yang mahal biasanya anggrek Dendrobium jenis kriting karena pertumbuhannya lama. Untuk yang bulatan lebih terjangkau, tergantung plan-nya,” jelasnya.
Ia menambahkan, pembeli dari kalangan menengah umumnya memilih Dendrobium, sedangkan kolektor banyak memburu jenis kriting, Grammatophyllum, dan Phalaenopsis.

Perawatan dan Strategi Penjualan
Meski omzet penjualan terus meningkat, Diah mengaku tidak memasang target khusus. Ia lebih fokus menjaga kualitas tanaman agar harganya tetap ramah di kantong.
“Merawat dari kecil sampai besar itu prosesnya panjang. Di cuaca ekstrem begini saya sering semprot fungisida biar tidak jamuran. Kalau kena hujan langsung justru bagus karena air hujan mengandung nitrogen,” tambahnya.
Dalam sebulan, Diah dapat menjual bibit, tanaman remaja, hingga anggrek berbunga. Pada momen tertentu seperti hari raya atau Valentine, permintaan anggrek melonjak signifikan.
“Ini benar-benar hobi yang menghasilkan,” katanya.
Keberhasilan pasangan pehobi anggrek ini tidak lepas dari beberapa kunci perawatan, seperti memilih bibit unggul, menjaga kondisi lingkungan tumbuh, merawat secara rutin, hingga berinovasi dalam pengemasan.
Dengan ketelatenan dan semangat berwirausaha, pasutri Sugeng dan Diah membuktikan bahwa hobi dapat menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan. Dari pekarangan rumah, mereka kini mampu ‘panen cuan’ lewat anggrek.
