Misteri Arca di Makam Mojokerto Terpecahkan, Diduga Peninggalan Persinggahan Raja Hayam Wuruk

Penelitian oleh Analis Cagar Budaya dan Permuseuman BPK Wilayah XI Jawa Timur terhadap Patung arca yang ditemukan di Mojokerto(Redaksi / Kabarterdepan.com)
Penelitian oleh Analis Cagar Budaya dan Permuseuman BPK Wilayah XI Jawa Timur terhadap Patung arca yang ditemukan di Mojokerto(Redaksi / Kabarterdepan.com)

Mojokerto, Kabarterdepan.com – Penemuan sebuah arca di Dusun Mojojejer, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, membuka peluang baru bagi pengungkapan sejarah masa lalu. Tak sekadar temuan benda kuno di area pemakaman, para ahli menduga kawasan tersebut bisa jadi merupakan lokasi persinggahan penting di masa kejayaan kerajaan.

Analis Cagar Budaya dan Permuseuman BPK Wilayah XI Jawa Timur, Ning Suryati, mengungkapkan bahwa pihaknya baru menerima laporan resmi penemuan arca tersebut pada Senin, 6 Oktober 2025. Padahal, arca itu sudah ditemukan oleh warga yang tengah menggali makam sekitar tiga hingga empat tahun sebelumnya.

Menurutnya, arca yang memiliki tinggi 45 sentimeter dan lebar 18 sentimeter itu diduga menggambarkan sosok dewa laki-laki. Namun, jenis dewa yang dimaksud belum dapat dipastikan lantaran arca tersebut tidak memiliki atribut khas yang menjadi penanda.

“Kalau arca membawa atribut, kami bisa langsung tahu. Tapi arca ini tidak membawa apa-apa. Posisi duduk bersila, memakai kain, tangan di depan, ada mahkota, anting, kalung, dan gelang,” jelasnya, Jumat (10/10/2025) sore.

Selain arca, tim BPK juga menemukan sejumlah batu bata kuno yang berserakan di sekitar area pemakaman. Temuan ini memperkuat dugaan adanya struktur lama atau peninggalan masa lampau di lokasi tersebut. Bahkan, sebagian batu bata itu telah dimanfaatkan warga untuk bahan kijing makam maupun pondasi lampu penerangan di area pemakaman.

Rekomendasi kepada Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Mojokerto

Sebagai tindak lanjut, BPK Wilayah XI berencana menerbitkan surat rekomendasi kepada Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Mojokerto guna menentukan langkah pelestarian berikutnya.

“Pemindahan arca akan mempertimbangkan keputusan masyarakat desa. Bila warga setuju, arca akan dipindahkan untuk pelestarian. Bila tidak, mereka akan kami libatkan untuk ikut menjaga peninggalan tersebut,” imbuh Suryati.

Yang tak kalah menarik, Suryati juga menyoroti nama Desa Pesanggrahan yang secara harfiah berarti tempat singgah. Hal itu membuka peluang penelitian lanjutan mengenai kemungkinan wilayah tersebut pernah menjadi jalur transit tokoh penting kerajaan di masa lalu.

“Mungkin Desa Pesanggrahan ini sebagai persinggahan, namun perlu kami telusuri lagi sejarahnya apakah dahulu Hayam Wuruk pernah singgah di sini,” ujarnya.

Saat ini, proses pendataan dan kajian arkeologis terhadap arca serta situs di sekitarnya masih terus berlangsung. Para ahli masih menelusuri apakah temuan ini hanyalah artefak tunggal atau bagian dari jejak pemukiman kuno, bahkan mungkin jalur kerajaan yang menunggu untuk diungkap.

Responsive Images

You cannot copy content of this page