Keberanian Jokowi Memindahkan Ibu Kota: Pro dan Kontra

Avatar of Jurnalis: Ano
jokowi
Presiden Jokowi di Menara Pandang, kawasan IKN, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Kamis (23/2/2023). (Humas Setkab/Agung)

Oleh: Denny JA, Direktur Eksekutif LSIDalam setiap zaman, kita menyaksikan keberanian seorang pemimpin mengambil keputusan penting, walaupun keputusan itu bukanlah hal yang populer di zamannya. Inilah respons kita melihat kegigihan Jokowi, persistensinya, memindahkan ibukota dari Jakarta ke Kalimantan. Ini mimpi yang sudah digagas sejak zaman Bung Karno, yang menurut Jokowi dalam rangka mentransformasikan Indonesia.

Mengapa kita katakan memindahkan ibu kota negara saat ini belum menjadi isu yang populer? Kita mulai dengan data.

Ini hasil survei LSI Denny JA, bulan Juni 2023. Yang setuju ataupun yang tidak setuju kepada pemindahan ibu kota negara hampir sama banyaknya.

Yang setuju sebanyak 47,3%. Tapi yang tidak setuju sebanyak 43,7%. Selisihnya kurang dari 4% saja.

Mereka yang setuju banyak alasannya. Yang paling tinggi alasannya karena ini mengurangi beban Ibu Kota Jakarta yang sudah padat penduduknya. Alasan lain: mendorong pembangunan di luar Jawa.

Tapi bagi yang tak setuju mengatakan bahwa Jakarta masih layak sebagai ibu kota. Juga alasan ini: pemborosan anggaran negara.

Menarik juga kita melihat setuju atau tak setuju dari basis teritori responden. Yang tinggal di Jawa dan Sumatera lebih banyak yang tak setuju. Sementara yang tinggal di luar Jawa lebih banyak yang mengatakan mereka setuju pindah ibu kota.

Hal yang sama dengan pandangan responden atas kinerja Jokowi. Mereka yang puas dengan kinerja Jokowi lebih banyak yang setuju pindah ibu kota. Tapi yang tak puas dengan kinerja Jokowi lebih banyak yang tidak setuju.

Jokowi tetap saja persisten, gigih dengan segala cara, memindahkan ibu kota negara kita, terlepas dari pro dan kontra itu. Jokowi lebih digerakkan oleh visi.

Kita teringat Abraham Lincoln, presiden Amerika Serikat, di abad 19. Saat itu dengan lantang dan berani, ia larang perbudakan kulit hitam untuk seluruh Amerika Serikat.

Padahal saat itu, menghapus perbudakan bukanlah hal yang populer di Amerika Serikat bagian selatan. Itu wilayah perkebunan. Mereka sangat tergantung dengan hadirnya perbudakan kulit hitam untuk bekerja di perkebunan.

Akibatnya mereka yang di selatan memberontak. Sebanya 6 negara bagian memisahkan diri. Kebijakan Lincoln dan amendemen konstitusi Amerika Serikat sool larangan perbudakan ikut memicu perang saudara bertahun-tahun di Amerika Serikat.

Perang saudara ini menyisakan trauma lebih dari 100 tahun di Negeri Paman Sam. Tapi sekarang warga Amerika Serikat merasa berutang budi yang luar biasa kepada Abraham Lincoln.

Sebagai pemimpin yang visioner, ia berani mengambil keputusan yang sangat penting: menghapuskan perbudahan kulit hitam. Walaupun saat itu, ini bukanlah hal yang populer.

Apakah hal yang sama akan terjadi pada Jokowi atas keberaniannya memindahkan ibu kota? (*)

(*) Transkripsi yang diedit dari Video EKSPRESI DATA Denny JA

Responsive Images

You cannot copy content of this page