
Kota Mojokerto, Kabarterdepan.com – Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari siap kembali memperkuat ekosistem pariwisata berbasis sejarah dan budaya di Kota Mojokerto yang mengusung tema besar Spirit of Majapahit.
Pasalnya, pemberlakuan tarif timbal balik (reciprocal tarif) yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump juga menimbulkan keresahan bagi para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) dan UMKM Kota Mojokerto.
Meski berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, tidak ada produk dari Kota Mojokerto yang diekspor ke negeri Paman Sam, terbuka kemungkinan pasar-pasar ekspor dari Kota Mojokerto yang sudah settle akan menjadi rebutan negara-negara lain.
Reciprocal tarif yang berlaku secara global ini, juga membuka kemungkinan beberapa negara seperti Cina, Vietnam,Thailand dan beberapa negara lainnya akan kelebihan supply, pasokannya cukup besar tetapi permintaan menurun dari Amerika, sehingga dikhawatirkan akan semakin membanjiri produk-produk nya di pasar domestik, yang itu seharusnya untuk produk IKM lokal.
Mengutip pernyataan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Ning Ita sapaan akrab Wali Kota Mojokerto menyampaikan bahwa ketika ekspor barang terkena tarif tinggi, maka harus mencari sektor lain yang bisa menjadi penyeimbang, yaitu sektor pariwisata.
“Pariwisata adalah ekspor jasa yang tidak terganggu oleh tarif dagang. Dengan menarik banyak wisatawan untuk datang ke Indonesia maka dapat menjaga stabilitas rupiah dan cadangan devisa,” terangnya saat hadir dalam FGD terkait pemberlakuan tarif impor USA di Sentra IKM Batik Maja Barama Wastra pada Sabtu (5/4) tadi malam.
Ning Ita menegaskan apa yang disampaikan oleh Menteri Pariwisata RI ini harus menjadi penyemangat tetap menatap ke depan dengan penuh optimisme, bagaimana membangun Kota Mojokerto mewujudkan cita-cita yang belum tuntas.
“Cluenya pariwisata, artinya apa yang sudah kita rencanakan tujuh tahun lalu bisa kita lanjutkan,” tegasnya.
Ia menambahkan, ekosistem pariwisata di Kota Mojokerto telah disiapkan grand designnya dengan mengedepankan pariwisata berbasis sejarah dan budaya. Dimana pembangunan infrastrukturnya telah dilakukan secara bertahap dengan dukungan berbagai pihak terutama dengan dukungan dana dari pemerintah pusat.
“Pembangunan infrastruktur yang bisa kita lakukan dalam kurun waktu lima tahun hampir semua adalah support dari pemerintah pusat. Dan di dalam pelaksanaannya kita selalu bersinergi dengan jajaran samping, sebagai wujud sinergi untuk membangun Indonesia dari kota kecil ini secara bersama-sama,” imbuhnya.
Ia juga menegaskan pembangunan ekosistem pariwisata, tidaka hanya dari pembangungan infrastruktur, pelaksanaan event-event berdampak yang dilakukan setiap tahun yang melibatkan para pelaku IKM dan UMKM juga menjadi bagian yang tak terpisahkan untuk membesarkan Kota Mojokerto di kancah nasional maupun global.
“Berbicara sektor pariwisata sejarah dan budaya tentu di dalamnya apa yang ingin kita jadikan daya saing daerah. Pasti tidak lepas dari yang namanya umkm, ikm yang membangun sebuah ekosistem wisata yang terintegrasi. Karena kita tidak memiliki situs sejarah tapi kita bagaimana harus mengcreate sebuah literasi sejarah itu menjadi destinasi apakah itu dalam bentuk event berdampak yang sudah kita laksanakan setiap tahun, itu semua adalah bagian dari membangun ekosistem wisata,” pungkasnya.
Sebagai informasi selain telah terselesaikannya pembangunan infrastruktur seperti PLUT, 2 sentra IKM, Soekarno Center yang menjadi tempat wisata edukasi, berbagai event berdampak seperti Mojotirto Festival, Festival Bakar Sate, Mojo Bangkit Festival, Mojo Batik Festival, dan Mojo Shop Fiesta secara rutin digelar oleh Pemerintah Kota Mojokerto untuk melestarikan sejarah dan tradisi serta menggerakkan ekonomi di Kota Mojokerto. (*)
