
Jombang, Kabarterdepan.com – Petirtaan kuno Sumberbeji di Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, dinilai tidak lazim berdiri sebagai bangunan tunggal.
Sejumlah pemerhati sejarah menduga petirtaan ini memiliki keterkaitan dengan candi atau kawasan kedaton tertentu. Pandangan tersebut disampaikan pemerhati sejarah Jombang, Arif Yulianto atau Cak Arif.
Posisi Strategis Petirtaan Sumberbeji di Antara Dua Titik Sejarah
Cak Arif menjelaskan, posisi Petirtaan Sumberbeji berada di antara dua titik penting, Candi Rimbi di Kecamatan Bareng dan Dusun Kedaton di Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, yang diduga memiliki jejak masa Majapahit.
“Candi Rimbi ada di selatan Situs Sumberbeji. Dusun Kedaton berada di sebelah utara Sumberbeji,” ujar Cak Arif, Sabtu (29/11/2025).
Ia menambahkan, narasi sejarah yang berkembang menyebut Candi Rimbi sebagai tempat pendarmaan Tribuana Tunggadewi, ratu agung Majapahit bergelar Bhre Kahuripan.
Terkait Dusun Kedaton, jurnalis media regional Jawa Timur itu mengungkapkan bahwa sejak sekitar 2016, warga berkali-kali menemukan artefak kuno seperti bata, pecahan gerabah, hingga benda lain yang diduga kuat berasal dari era Majapahit.
“Sebaran benda kuno di Dusun Kedaton sangat luar biasa, waktu itu sampai ke Desa Sugihwaras yang berbatasan langsung,” kata Cak Arif.
“Bahkan saat saya liputan ke sana, ada warga mengaku pernah menemukan tameng (perisai), dan katanya dikubur kembali,” imbuhnya.
Selain temuan artefak, Cak Arif juga menyinggung kondisi geologis kawasan tersebut yang memiliki lapisan sedimen berlapis-lapis, termasuk material yang diduga berasal dari aktivitas gunung berapi.
“Kalau tidak salah, daerah itu dekat dengan aliran Kali Konto yang dulu membawa material Gunung Kelud,” jelasnya.
Sementara itu, pegiat sejarah Jombang lainnya, Isma Hakim, berharap pemerintah lebih responsif terhadap keberadaan peninggalan sejarah di wilayah Jombang yang diduga berkaitan dengan Majapahit, termasuk Petirtaan Sumberbeji.
“Harusnya dilakukan riset secara mendalam, sehingga bisa diketahui apakah ada hubungan antara Sumberbeji dengan toponim Kedaton,” ujar Isma.
Ia juga mempertanyakan status masa lalu Dusun Kedaton.
“Dulu itu benar keraton atau bukan. Jika memang keraton, keraton apa? Keraton Kahuripan, Majapahit, atau yang lain,” katanya.
Pemilik Wayang Topeng Jatiduwur tersebut menegaskan, pengungkapan sejarah ini sangat bergantung pada keseriusan pemerintah.
“Ya ini tugas pemerintah yang memiliki instrumen terkait untuk mengungkapnya,” pungkas Isma. (Karimatul Maslahah)
