
Internasional, Kabarterdepan.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memanaskan tensi perdagangan global dengan menaikkan tarif impor terhadap produk asal China menjadi 125%. Kenaikan ini disebut sebagai respons langsung atas sikap China yang dinilai tidak kooperatif dalam perdagangan internasional dan pemberlakuan tarif balasan yang agresif terhadap barang-barang asal AS.
Langkah ini diambil hanya beberapa jam setelah China mengumumkan tarif balasan sebesar 84% terhadap produk AS sebagai tanggapan atas kebijakan Trump sebelumnya yang menaikkan tarif China menjadi 104%.
“Berdasarkan kurangnya rasa hormat yang ditunjukkan China kepada Pasar Dunia dengan ini saya menaikkan tarif yang dibebankan ke China oleh Amerika Serikat menjadi 125%, berlaku segera,” kata Trump, Kamis (10/4/2025).
Dilansir dari Reuters dan AP News, Trump menyebut China melakukan praktik perdagangan tidak adil, termasuk manipulasi mata uang, subsidi besar-besaran kepada industri dalam negerinya, serta hambatan akses pasar bagi produk luar. Langkah-langkah itu dinilai merusak sistem perdagangan bebas yang selama ini dijaga oleh banyak negara.
Tarif tersebut sebagai bentuk tekanan maksimal terhadap China agar menghentikan kebijakan perdagangan yang tidak adil termasuk subsidi besar-besaran kepada perusahaan dalam negerinya serta hambatan terhadap produk luar serta memaksa China kembali ke meja perundingan dengan posisi tawar yang lebih seimbang.
Kebijakan Trump juga dianggap sebagai upaya menekan China di tengah persaingan strategis kedua negara dalam teknologi, manufaktur, dan pengaruh global.
Sementara 75 negara mendapat penangguhan tarif selama 90 hari untuk membuka ruang negosiasi, China justru diposisikan sebagai pihak yang paling ditekan dalam peta dagang internasional versi Trump.
Dampak langsung dari eskalasi tarif ini mulai terlihat di pasar keuangan. Nilai tukar mata uang China mengalami tekanan hebat, memaksa bank sentral China turun tangan. Otoritas moneter negeri itu dilaporkan meminta bank-bank milik negara untuk mengurangi pembelian dolar AS guna menstabilkan yuan yang terus melemah.
Dengan tarif yang melambung tinggi, nasib perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia kini berada di ujung tanduk. Namun bagi Trump, ini adalah bagian dari strategi “maksimum pressure” untuk memastikan AS tidak lagi dirugikan dalam peta perdagangan global. (Riris*)
