
Kabupaten Mojokerto, Kabarterdepan.com – Kematian seorang remaja yang mayatnya ditemukan mengapung di Sungai Brantas, Desa Kedungmungal, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto menyisahkan duka yang mendalam bagi keluarga.
Remaja itu berinisial MA, warga Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Keluarga korban pun tak terima dengan kematian anaknya yang dirasa terdapat beberapa kejanggalan.
Hal itu, membuat Diki Sukono, Kakak kandung korban melaporkan kembali atas dugaan kematian adiknya itu yang telah diterima oleh petugas dengan bukti laporan Nomor TBL/B/55/V/2025/SPKT/POLRES MOJOKERTO/POLDA JAWA TIMUR tanggal 07 Mei 2025 pukul 18.06 WIB.
Orang tua korban tak menyangka, anaknya yang awalnya berpamitan berangkat ke sekolah pada Sabtu 3 Mei 2025 itu menjadi pertemuan terakhirnya lantaran di hari itu korban tak kembali pulang.
Ibu kandung korban MA, Jamik menceritakan, awal mula anaknya tak kunjung pulang dari sekolah hingga dua hari lamanya namun tak ada kabar.
“Saya cari ke teman-temannya tak suruh telefon tapi gak bisa di hubungi,” katanya, Jumat (9/5/2025) sore.
Hingga akhirnya, Senin 5 Mei 2025 pagi ia mendatangi sekolahan dan bertemu pihak guru. Jamik menerangkan, dari hasil pertemuan guru dan sejumlah teman korban diceritakan jika sepatu dan tas anaknya telah ditemukan di tepi sungai Brantas.
“Tas dan sepatunya anak saya ditemukan di pinggir sungai,” terangnya.
Tak lama kemudian, sekitar pukul 16.30 WIB, seorang warga menemukan mayat pria mengapung di aliran Dam Kebo Turu di sisi utara yang tepat di wilayah perbatasan Mojokerto dengan Sidoarjo.
“Anaku kalo terjatuh terus masuk sungai sendiri tidak mungkin,” imbuhnya.
Jasad korban pun dibawa ke Rumah Sakit Forensik Pusdik Bhayangkara Porong Sidoarjo untuk dilakukan outopsi. Dan jasadnya dimakamkan ke tempat pemakaman umum desa setempat pada Selasa pagi 6 Mei 2025.
“Pokok intinya saya gak terima, sudah, anak saya anak saya sudah sekolah sehat walafiat kenapa pulang-pulang jadi mayat,” ucapnya.
Sementara, hal senada juga disampaikan kakak kandung korban, Diki Sukono, ia menyebut ada kejanggalan terhadap kematian adiknya yang dirasa tidak wajar.
“Adik saya nggak mungkin nggak bisa berenang, dia sering ke kolam renang,” cetusnya.
Diki menyebut, sebelum ditemukan meninggal dunia, MA sempat dijemput dua orang yang merupakan saudara dari temannya lantaran sempat ada permasalahan.
“Di dadanya ada warna merah dan sepatu dan tas ada di pinggir sungai kan ada kejanggalan,” pungkasnya.
Sebelumnya, sejumlah warga digegerkan dengan penemuan sesosok mayat pria di aliran sungai Brantas di area perbatasan Pungging dengan Prambon Sidoarjo. (*)
