Semarak IPPAFest 2025, Karya Warga Binaan Unjuk Kreativitas Tanpa Batas

Avatar of Redaksi
WhatsApp Image 2025 04 28 at 08.40.45 561a214e
Potret warga binaan yang tampil memukau di atas panggung. (Redaksi/ Kabarterdepan.com)

Jakarta, Kabaterdepan.com – Karya seni, kuliner, fesyen, hingga semangat perubahan dari balik jeruji membuncah dalam gelaran Indonesian Prison Products and Arts Festival (IPPAFest) 2025. Bertempat di Lapangan Banteng, Jakarta, festival yang berlangsung 21–24 April ini menjadi panggung istimewa bagi Warga Binaan dari seluruh Indonesia untuk mempersembahkan kreativitas terbaik mereka kepada publik.

Mengusung tema “Creation Beyond the Bars”, IPPAFest 2025 bukan sekadar festival, melainkan gerakan kolektif untuk membuktikan bahwa harapan dan potensi manusia tak pernah bisa dipenjara. Festival ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan (HBP) ke-61 yang mengangkat semangat “Pemasyarakatan Pasti Bermanfaat untuk Masyarakat,” selaras dengan Asta Cita Presiden RI dan 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas).

Dalam pembukaan IPPAFest, Menteri Imipas Agus Andrianto menegaskan, acara ini adalah simbol panggung semangat, harapan, dan kemanusiaan.

“IPPAFest adalah bukti bahwa kreativitas melampaui batas. Bahwa harapan akan selalu menemukan jalannya,” tegasnya, Senin (21/4/2025).

Lebih dari sekadar perayaan, menurut Agus, IPPAFest adalah refleksi atas upaya panjang membina Warga Binaan untuk kembali menjadi bagian produktif masyarakat. Ia menekankan pentingnya pembangunan kapasitas pribadi sebagai cara negara mengurangi kejahatan, serta mengajak semua pihak untuk membangun Pemasyarakatan yang inklusif, produktif, dan berbudaya.

“Festival ini adalah bentuk perlawanan terhadap pesimisme,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari Menteri Koperasi dan UKM, Maman Abdurrahman, yang menilai IPPAFest sebagai wujud nyata perubahan paradigma dalam melihat Warga Binaan.

“Program ini menunjukkan keberpihakan dan kepedulian, mengubah cara pandang kita terhadap Warga Binaan sebagai individu yang mampu berkarya dan berkontribusi,” puji Maman.

Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, menyebut IPPAFest sebagai wadah ekspresi seni sekaligus strategi mendorong Warga Binaan untuk masuk dalam ekosistem industri kreatif nasional.

“Melalui festival ini, kita mendorong perekonomian, menghidupkan semangat gotong royong antara Narapidana, masyarakat, dan petugas Pemasyarakatan,” jelasnya.

Momen pembukaan festival berlangsung semarak dengan lelang karya Warga Binaan seperti kain batik dan lukisan yang terjual hingga ratusan juta Rupiah, di mana dua lukisan bahkan dihargai Rp40 juta.

Selama tiga hari, IPPAFest menyuguhkan berbagai pertunjukan, mulai dari kolaborasi band Warga Binaan bersama musisi nasional seperti Zivilia Band dan Virgoun, fashion show, rampak beduk dan gendang, hingga fire dance, stand-up comedy, serta pertunjukan tradisional Reog.

Selain itu, 33 stand Kantor Wilayah Ditjenpas se-Indonesia memamerkan produk unggulan Warga Binaan, didukung bazar UMKM dan berbagai permainan interaktif untuk pengunjung.

Lebih dari sebuah acara, IPPAFest 2025 menjadi refleksi harapan baru: mengembalikan martabat, membangun masa depan, dan memperkuat komitmen untuk menjadikan Warga Binaan bagian dari solusi bangsa.

Festival ini juga mengoptimalkan penggunaan produk hasil binaan Pemasyarakatan, mendorong Penerimaan Negara Bukan Pajak, dan mempercepat pelaksanaan Rencana Aksi Pemasyarakatan Tahun 2025. (Riris*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page