Rundown Outing Class SMPN 7 Mojokerto Tanpa Jam Istirahat, Sehari Kunjungi Lima Destinasi Wisata

Avatar of Redaksi
IMG 20250201 071121
Beredar Rencana Perjalanan Outing Class SMPN 7 Mojokerto, Dijadwalkan Kunjungi Lima Objek Wisata dalam Sehari (Redaksi / Kabarterdepan.com)

Mojokerto, Kabarterdepan.com – Tragedi yang menewaskan empat siswa SMPN 7 Mojokerto saat kegiatan outing class di Pantai Drini, Yogyakarta, pada 28 Januari 2025, meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga korban dan seluruh masyarakat.

Kejadian tersebut juga memicu keprihatinan dari berbagai pihak terkait, khususnya dalam hal perencanaan dan pelaksanaan kegiatan wisata untuk siswa.

Sebelum tragedi tersebut terjadi, sebuah rencana perjalanan outing class yang disusun oleh pihak travel, yaitu Mojopahit Tour & Travel, beredar luas di media sosial.

Rencana perjalanan tersebut diberi nama Jogja One Day SMPN 7 Mojokerto dan mencakup serangkaian kegiatan yang padat.

Kegiatan dimulai pada malam tanggal 27 Januari 2025, dengan waktu berkumpul di tempat penjemputan sekitar pukul 20.00 hingga 21.00.

Diduga, lokasi penjemputan berada di SMPN 7 Mojokerto, yang terletak di Jalan Karyawan No. 4, Kota Mojokerto.

Pada pukul 21.00, rombongan tur yang terdiri dari siswa-siswi kelas VII dan VIII tersebut berangkat menuju Yogyakarta.

Menurut itinerary, kegiatan hari berikutnya, 28 Januari 2025, dimulai pada pukul 04.00 hingga 05.00 dengan waktu yang dialokasikan untuk mandi dan salat Subuh.

IMG 20250201 WA0000
Jadwal Padat dan Tragedi 4 Siswa SMPN 7 Mojokerto Tewas di Pantai Drini (Redaksi / Kabarterdepan.com)

Namun, dalam rencana tersebut, tidak disebutkan lokasi pasti untuk kegiatan mandi dan salat.

Setelah itu, pada pukul 05.00 hingga 07.30, rombongan tur dijadwalkan berada di Pantai Drini, Yogyakarta.

Pada sekitar pukul 07.30 hingga 08.00, peristiwa tragis terjadi ketika 13 siswa tenggelam akibat terseret ombak di pantai tersebut.

Empat siswa dilaporkan tewas, tiga di antaranya berhasil dievakuasi dalam waktu dekat setelah kejadian, sementara satu siswa lainnya ditemukan dan dievakuasi sehari kemudian.

Kejadian tersebut tentunya menjadi tragedi yang sangat memilukan dan mengubah jalannya kegiatan outing class.

’’Tentu kami sudah minta tidak hanya Mojokerto, tetapi semuanya kita imbau untuk para kepala sekolah dan disdik (dinas pendidikan) untuk bisa memperhatikan hal-hal seperti itu,’’ tuturnya kepada awak media saat kunjungi rumah duka siswa SMPN 7 Mojokerto, Kamis (30/1).

Akibat musibah ini, rencana perjalanan outing class yang awalnya sangat padat harus dihentikan dan rombongan dipulangkan ke Mojokerto pada hari yang sama.

Sekitar pukul 21.00 pada 28 Januari 2025, ratusan siswa yang dikawal oleh lima bus dan pengawalan polisi akhirnya tiba kembali di SMPN 7 Mojokerto.

Dalam rencana perjalanan tersebut, jadwal kegiatan sangat padat dan hanya berlangsung dari pagi hingga malam.

Beberapa lokasi wisata yang semula direncanakan untuk dikunjungi meliputi Pantai Drini, Heha Sky View, Batik Jawon, pusat oleh-oleh, dan Malioboro.

Namun, meskipun banyak tempat wisata yang tercantum dalam jadwal, tidak ada waktu yang dialokasikan untuk istirahat di penginapan, yang seharusnya menjadi bagian dari kegiatan untuk memberi kesempatan bagi siswa beristirahat.

Bahkan, perjalanan lebih banyak berfokus pada kegiatan wisata ketimbang edukasi yang biasanya menjadi tujuan utama kegiatan outing class.

Melihat padatnya jadwal tersebut, Pj Gubernur Jatim Adhy Karyono memberikan catatan serius.

Ia mengingatkan agar kegiatan outing class tidak hanya mengutamakan kunjungan ke tempat wisata, tetapi juga harus memperhatikan kondisi fisik dan mental siswa.

Adhy Karyono menegaskan pentingnya agar jadwal kegiatan tidak terlalu ketat, mengingat siswa-siswi yang terlibat dalam kegiatan tersebut masih berada pada usia yang membutuhkan waktu istirahat yang cukup.

Ia juga menekankan bahwa kegiatan outing class harus dilakukan dengan memperhatikan kesejahteraan siswa, dan hal ini merupakan tanggung jawab bersama, baik oleh lembaga pendidikan (sekolah) maupun pihak terkait, seperti pemerintah daerah yang mengawasi dan mendukung kegiatan pendidikan.

Pada kesempatan yang sama, Pj Gubernur Jatim juga menyampaikan rasa belasungkawa kepada keluarga korban dan berharap agar tragedi ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak.

Ia meminta agar tidak ada pihak yang saling menyalahkan karena musibah ini terjadi akibat berbagai faktor yang saling berkaitan.

Di antaranya, pengelola wisata yang mungkin tidak cukup memperhatikan aspek keselamatan dan keamanan pengunjung, serta ketatnya jadwal yang disusun oleh pihak sekolah dan panitia yang bertanggung jawab atas kegiatan tersebut.

Adhy Karyono mengimbau agar tragedi ini menjadi bahan evaluasi dan perbaikan untuk kegiatan outing class di masa depan, agar kejadian serupa tidak terulang lagi.

’’Tentu ada banyak faktor-faktor. Pihak pengelola wisata misalnya yang mungkin keamanannya kurang atau pihak sekolah-panitia itu jadwalnya mungkin terlalu ketat. Tidak bisa kita menyalahkan begitu saja,’’ imbuhnya.

Dengan tragedi ini, banyak pihak yang menyadari bahwa kegiatan outing class perlu dikelola dengan lebih hati-hati dan bijaksana.

Faktor keselamatan harus menjadi prioritas utama, terutama dalam memilih lokasi wisata yang aman, serta mengatur jadwal yang seimbang antara kegiatan wisata dan waktu istirahat yang cukup.

Kejadian ini tidak hanya menjadi perhatian bagi sekolah-sekolah di Mojokerto, tetapi juga menjadi pelajaran bagi semua pihak yang terlibat dalam kegiatan pendidikan dan wisata sekolah di seluruh Jawa Timur dan Indonesia secara umum. (Tantri*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page