
Sleman, Kabarterdepan.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman memastikan dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sebelumnya dihentikan sementara kini bisa kembali beroperasi.
Wakil Ketua Satgas Percepatan Program MBG Pemkab Sleman, Agung Armawanta, mengatakan penutupan sementara itu dilakukan setelah ratusan siswa diduga mengalami keracunan.
2 SPPG Ditutup Imbas Ratusan Siswa Keracunan
Dua SPPG yang dimaksud adalah SPPG 4 Mlati dan SPPG Ngemplak 5.
“Ada dua yang sempat ditutup. Itu imbas dari kejadian yang sudah agak lama. Tapi mulai besok sudah bisa kembali beroperasi,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (16/11/2025).
Kasus dugaan keracunan sebelumnya terjadi pada Oktober dan menimpa ratusan siswa di beberapa sekolah.
Hasil pemeriksaan sampel oleh Dinas Kesehatan Sleman menyebutkan bahwa keracunan tersebut disebabkan oleh bakteri E-Coli.

Pemkab Sleman juga telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mempercepat pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), sejalan dengan arahan pemerintah pusat.
Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, Dadang Hendrayudha, menjelaskan koordinasi itu dilakukan sebagai tindak lanjut Peraturan Presiden mengenai pembentukan Satgas Percepatan yang dipimpin Menko Pangan.
“Kemendagri sudah membentuk Satgas Percepatan agar sinergi di lapangan makin baik,” jelasnya.
Dalam pertemuan tersebut, pihaknya juga memaparkan perkembangan kasus dugaan keracunan di sejumlah sekolah di Sleman.
“Kami sampaikan sesuai data. Beberapa kasus masih kami dalami. Ada yang hasil lab-nya sudah keluar, ada juga yang belum,” katanya.
Menurutnya, jika dibandingkan dengan total penerima manfaat mencapai 3.600 siswa, jumlah yang terdampak hanya 10–30 orang.
“Ada yang hasilnya positif, ada yang negatif, dan ada yang terkena E-Coli,” tambahnya.
Ia meminta Dinas Kesehatan daerah memperketat standar dapur di setiap SPPG, termasuk kewajiban menyediakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk proses pencucian sisa makanan.
“Standarnya harus ada gudang kering, gudang basah, tempat pencucian, dan khusus IPAL,” ujarnya.
Dengan fasilitas tersebut, proses pengolahan makanan di dapur diharapkan dapat berjalan lebih profesional dan meminimalkan risiko dampak negatif bagi lingkungan. (Hadid Husaini)
