Ratusan Hektare Tanaman Jagung Mulai Dipanen, Begini Harapan Petani Perhutanan Sosial di Grobogan

Avatar of Redaksi
IMG 20250410 WA0130
MULAI PANEN: Potret aktivitas panen Jagung salah satu area Perhutanan Sosial di Kabupaten Grobogan. (Masrikin/kabarterdepan.com)

Grobogan, kabarterdepan.com – Ratusan hektare tanaman jagung di sejumlah wilayah Perhutanan Sosial di Kabupaten Grobogan siap dipanen. Petani hutan setempat berharap harga jual jangung bisa tetap stabil, sehingga dapat menambah kesejahteraan mereka.

Indarjo (49) salah satu penggarap Perhutanan Sosial warga Dusun Krajan, Desa Genengsari, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan mengatakan, jika harga jagung basah yang dijual petani hutan ke pedagang atau pengepul seharga Rp 3.400 per kilogramnya.

“Di awal panen harga jual jagung basah sekitar Rp 3.400 per kilogramnya,” ujarnya saat berbincang dengan kabarterdepan.com, Rabu (9/4/2025) sore.

Dikatakan, hasil panen luasan lahan 2000 meter persegi (20 Are) yang ia garap dapat menghasilkan kurang lebih 1,7 ton jagung. Kemudian hasilnya ia jual dalam kondisi basah kepada pedangan setempat dengan kadar airnya 35 persen.

“Alhamdulilah, dengan luasan 20 are, hasil panen sekitar Rp 5,8 juta,” kata Indarjo.

“Petani tidak ada yang menjual jagung kering, habis keluar di mesin pipil langsung jual,” imbuhnya.

Indarjo mengaku jika nilai Rp 5,8 juta merupakan perhitungan kotor dan belum dikurangi dengan biaya produksi seperti bibit, pupuk, obat-obatan dan juga operasional jasa angkut hasil panen dari lahan ke rumah.

“Jika dihitung per panen pendapatan bersihnya kisaran Rp.4 jutaan dalam satu kali musim,” jelasnya.

“Kita syukuri aja mas, semenjak menggarap Perhutanan Sosial kita dapat menyisihkan untuk beli ternak kambing dan bisa menyekolahkan anak hingga SMA,” imbuh mantan pekerja pabrik minyak kayu putih tersebut.

Senada dikatakan Sutejo (47) petani hutan lainnya, kehadiran Perhutanan Sosial sangat berpengaruh terhadap peningkatan perekonomian masyarakat sekitar hutan dan dapat membantu mengentaskan kemiskinan.

“Sebelum adanya program Perhutanan Sosial mayoritas masyarakat disini merantau bekerja keluar kota. Namun sekarang banyak yang pulang memilih untuk menjadi petani,” ujarnya.

Dulunya, kata Sutejo, dirinya sudah bertahun-tahun merantau sebagai buruh bangunan di luar kota, tetapi hasilnya tidak belum bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Namun setelah mendapatkan ijin pengelolaan Perhutanan Sosial dirinya dapat mencukupi kebutuhan keluarga.

“Saya dapat memasukan anak ke Pesantren juga hasil dari pengelolaan perhutanan sosial,” bebernya.

Sementara, saat dikonfirmasi tentang kewajiban penanaman tanaman hutan (tegakan) sesuai dengan ketentuan pengelolaan Perhutanan Sosial, Sutejo bersama petani hutan lainnya sudah mencoba berkali kali memenuhi kewajiban mereka.

“Saya dan Petani lainnya beberapa kali menanam pohon kayu putih, namun pohonnya sempat mati karena dimakan rayap dan tikus,” terangnya.

Disinggung tentang harga jagung diawal musim panen sekarang ini, Sutejo bersama petani lainnya berharap jika nantinya harga jagung basah bisa terus naik dan stabil, sehingga hasilnya dapat dirasakan langsung oleh petani Perhutanan Sosial di Kabupaten Grobogan.

“Kami berharap jika harga jagung dapat naik meskipun hanya beberapa rupiah saja, seperti halnya harga gabah hasil panen petani ketahanan pangan yang telah ditentukan oleh pemerintah yakni Rp.6500 per kilonya,” ujarnya.

“Semoga ini didengar oleh pak Presiden Prabowo agar petani jagung di perhutanan sosial makin sejahtera ,” pintanya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Grobogan Pradana Setyawan membenarkan jika harga jagung basah ditingkat petani berkisar Rp 3400 hingga Rp 3500 per kilogram. Sementara dari standar Pembelian Pemerintah (HPP) jagung kering yakni Rp 5500 per kilogram.

Dikatakan, sementara beberapa pabrik yang ada di Kabupaten Grobogan menerima pembelian jagung pipil kering kadar air 15 persen dengan harga Rp 5200 per kilogramnya.

“Pada dasarnya kran pabrik sangat terbuka untuk menyerap pembelian jagung sepanjang kualitasnya masuk standar yang ditentukan pabrik,” katanya.

“Setahu kita petani jagung biasanya sudah ada kerjasama tersendiri dengan beberapa pabrik yang ada di Kabupaten Grobogan dalam penyerapan hasil panen jagung para petani,” imbuhnya. (Masrikin).

Responsive Images

You cannot copy content of this page