
Jombang, kabarterdepan.com – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Jombang, Jawa Timur, selama beberapa hari terakhir menyebabkan ratusan hektare (ha) sawah terendam banjir.
Dinas Pertanian (Disperta) Jombang mencatat, total luas lahan pertanian yang terdampak genangan mencapai 307,11 ha.
Sebaran Banjir di Tiga Kecamatan
Genangan air tersebut tersebar di delapan desa pada tiga kecamatan, yakni Kecamatan Ngusikan, Ploso, dan Kesamben. Dampak terluas terjadi di Kecamatan Ngusikan yang merendam area persawahan di Desa Kedungbogo, Ketapangkuning, Keboan, dan Sumbernongko dengan total luasan terdampak mencapai 151,11 ha.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, M. Rony, mengatakan tidak seluruh sawah yang tergenang berujung pada gagal panen. Namun demikian, sebagian lahan dipastikan mengalami puso.
“Total sawah yang tergenang mencapai 307,11 hektare. Dari luasan tersebut, sawah yang mengalami puso berada di Kecamatan Ngusikan dengan luas sekitar 65 hektare,” ujar Rony, Minggu (18/1/2026).
Ia menjelaskan, pendataan masih terus dilakukan oleh tim lapangan sejak awal kejadian hingga pertengahan Januari. Hasil asesmen tersebut akan menjadi dasar penyaluran bantuan bagi petani terdampak.
“Tim masih melakukan pendataan. Di beberapa titik, laporan terakhir menunjukkan air mulai berangsur surut,” katanya.
Di Kecamatan Kesamben, banjir merendam sawah di Desa Carangrejo dan Watudakon dengan total luasan sekitar 25 hektare. Kondisi terparah terjadi di Dusun Kandangan, Desa Carangrejo, di mana genangan air masih menutup area persawahan hingga beberapa hari terakhir.
Petani setempat mengaku kesulitan menyelamatkan tanaman padi yang terendam terlalu lama. Sebagian tanaman mulai menguning dan roboh karena tidak mampu bertahan dari genangan air.
Ratusan Hektare Sawah di Kecamatan Ploso Mulai Surut
Sementara itu, di Kecamatan Ploso, banjir merendam sawah di Desa Jatigedong dan Gedongombo. Luasan terdampak di wilayah ini diperkirakan mencapai 131 hektare, meski kondisi genangan di sejumlah titik mulai berkurang.
Petani di wilayah utara Sungai Brantas mengaku terpukul dengan kondisi tersebut. Tanaman padi berusia antara tujuh hingga 13 hari terancam mati akibat terendam cukup lama.
Salah satu petani di Kecamatan Ngusikan, Supardi, mengatakan genangan air hingga kini belum sepenuhnya surut.
“Air masih menggenang di sawah. Untuk biaya tanam dan perawatan awal sekitar Rp5 juta per hektare. Kalau sampai gagal panen, tentu sangat memberatkan,” ujarnya.
Para petani berharap pemerintah dapat memberikan bantuan, baik berupa benih maupun dukungan lainnya, agar mereka dapat kembali menanam setelah banjir surut sepenuhnya.
