Opini  

Pria Tidak Bercerita, Sebuah Jimat Ajaib yang Lahir dari Tuntutan Harus Kuat

Avatar of Redaksi
IMG 20241226 WA0074
Ilustrasi pria tidak bercerita (Gian)

Opini, Kabarterdepan.com – Ketika tenggelam di dunia maya, saya keheranan melihat sosial media ramai dipenuhi dengan kalimat “pria tidak bercerita” kemudian dilanjutkan dengan hal-hal yang mengekspresikan perasaan sedih, senang, depresi, keluh kesah, ataupun hanya untuk jokes belaka. Contohnya:

“Pria tidak bercerita tapi diam-diam borong rokok lima bungkus”

“Pria tidak bercerita tapi tiba-tiba di luar negeri”

“Pria tidak bercerita tapi sujud terakhirnya lama”

Kalau saya telaah makna dari kalimat tersebut, maka yang saya pikirkan adalah bahwasanya menjadi pria memang seringkali memendam apa yang sedang diderita dan mencoba untuk menyembunyikan perasaannya agar tidak terlihat lemah. Seakan-akan seorang pria harus terus berlagak tegar dan kuat.

Loh padahal kan pria bukanlah superhero yang punya “mukjizat” tahan gempur dari segala musuh yang menyerang.

Memang akan ada beragam definisi yang menjelaskan bagaimana jimat kalimat “pria tidak bercerita” ini begitu bermakna dalam, tergantung pada siapa pria yang sedang “mengalami” pakai tanda petik. Melalui tulisan ini, saya mencoba menjawab rasa penasaran saya dengan mengambil perpektif sosial dari sample mereka-mereka yang menyebut dirinya “pria dewasa, kuat menerjang kerasnya dunia”.

Saya pernah menjumpai instastory kawan saya Revan Fauzi mempublikasikan konten dengan model yang sama seperti yang berseliweran di media sosial. Instastory sebuah video singkat di tengahnya bertuliskan “Pria tidak bercerita, tapi borong g*lda (kopi kemasan botol) sepuluh!” diiringi lagu dangdut karya Denny Caknan.

Karena penasaran saya pun menanggapi instastorynya tersebut, menanyakan mengapa dirinya mempublikasikannya. Jawaban yang saya dapat cukup wow kalau saya bilang

“Ya, relate dengan yang saat ini saya jalani, capek saudaraku, mau cerita ke siapa juga? nanti malah jadi pria lembek gini-gini aja kok ngeluh,” tulis kawan saya.

Belum puas hanya dengan jawaban tersebut, saya telusuri komentar-komentar netizen yang maha bijak dalam konten karya Narasi Newsroom dengan judul “Fakta suram di balik konten, “laki-laki tidak bercerita” yang diunggah tanggal 22 Desember 2024.

@dr.tirtamana: “Ini dari segi gue pribadi: Gue ga cerita bukan karena “takut dianggap gak maskulin”. Tapi karena “No one’s care”. Bercerita cuma bakal menambah kesempatan untuk pergunjingan di belakang lo”.

@herbiotishak2104: “ Kenapa laki2 cenderung males cerita? Karena kalau cerita, keliatan lemah dan rapuh. Bahkan orang2 sekeliling, terdekat kita susah nerima dan mengerti itu. Ga suka ngeliat laki2 kok rapuh. “Aduh kok kamu gini, nanti kami gimana blablabla. Kalau kamu depresi, stres, itu akan berdampak ke kami juga!” Ujung2nya malah fokus ke kepentingan mereka, bukan ke laki yg lagi butuh cerita dan pertolongan. Ga boleh banget laki keliatan lemah, haram hukumnya, karena banyak orang bergantung ke dia. Intinya ya emang masyarakat masih ga adil aja dalam perkara gini ke laki2.

@tyoistyo: “Kalau diliat dari komen-komen disini, justru menguarkan penyebab utamanya karena stigma “laki-laki harus kuat”. Iya bener, tapi kuat kan bukan berarti harus diem ketika stuck pada masalah. Terus juga kaya’nya pada trust issue sama orang yang diceritain. Memang iya, nggak semua orang bisa dipercaya. Tapi kalau memang stuck ya mau gimana lagi? Walaupun orang itu nggak ngasih solusi, bisa jadi pas kita cerita otak kita perlahan jernih dan akhirnya kita bisa nyelesain problem sendiri. Apapun hasilnya, gimana reaksinya, serahin ke Tuhan. Yang penting kita niat cari bantuan dengan cara bercerita itu. Itu better daripada tiba-tiba selingkuh, mabok, judi, ngilang, bundir atau penyakitan”.

Tampaknya dari komentar-komentar netizen, para pria cenderung diharuskan untuk kuat, tidak boleh terlihat lemah, bahkan rapuh. Para pria punya caranya sendiri dalam menyelesaikan masalahnya dan punya jalan pikirannya masing-masing. Urusan spiritual untungnya masih sering disebut “serahkan semua pada tuhan” karena jalan terbaik yaa.. jalan yang sudah ditentukan oleh Tuhan.

Benarkah Pria Tidak Bercerita? Mengapa?

Berdasarkan penelitian karya Chaplin dan Aldao, dengan judul “Gender Differences in Emotion Expression in Children: A Meta Analytic Review” yang dipublikasi tahun 2013, mengungkapkan jika laki-laki sangat kurang ekspresif disbanding laki-laki.

Jika dikorelasikan dengan data dari WHO “Crude Suicide Rates” yang diupdate terakhir tahun 2022, tingkat kasus bunuh diri di Indonesia tahun 2000-2019 per 100.000 penduduk justru lebih banyak dilakukan oleh gender pria.

Selain itu, dikutip dari media berita siber Kompas.com, dengan judul “Fenomena “Laki-laki Tidak Bercerita”, Apa Dampaknya pada Kesehatan Mental dan Kesetaraan Gender?” karya Resa Eka Ayu Sartika, menjelaskan di Indonesia, konstruksi sosial mengenai maskulinitas sangat dipengaruhi oleh budaya patriarki yang menempatkan laki-laki dalam posisi dominan. Dalam laman yang sama menurut Dosen Sosiologi Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Dr. Argyo Demartoto, M.SI “bahwasanya budaya patriarki di Indonesia sangat kuat dan menempatkan laki-laki sebagai sosok dominan. Ini menciptakan standar maskulinitas bahwa laki-laki harus kuat, tegar, dan tidak menunjukkan kelemahan”.

Kalimat “Pria Tidak Bercerita” Menjadi Jimat Penguat, Obat Penenang yang Candu!

Saya menyimpulkan jika kalimat “Pria tidak bercerita” merupakan kalimat yang menjadi jimat untuk para pria mengekspresikan segala beban hidup yang dialaminya. Dengan membuat konten-konten tersebut kemudian mengunggahnya ke media sosial, saya rasa itu sudah sedikit menenangkan mereka, sudah mengurangi secuil beban dari besarnya beban mereka, sudah sebentar menghembuskan pikiran sejenak.

Kembali lagi pria tetaplah pria, ingin merasa kuat, tidak ingin dianggap lemah bahkan dipandang rendah. Tapi pria juga butuh ruang untuk melepaskan segala beban pikiran mereka, jika tidak dengan bercerita maka mengunggah konten berkalimatkan jimat “pria tidak bercerita” saja sudah cukup menjadi obat penenang yang lumayan ampuh. Semoga dikuatkan terus pundak para pria-pria yang tidak dapat bercerita di luar sana dan dimudahkan segala urusan-urusannya oleh yang Maha Esa. (*)

Penulis Gian Alfianuddin, Video Editor Kabar Terdepan

Responsive Images

You cannot copy content of this page