
Mojokerto, Kabarterdepan.com – Fenomena angin kencang yang melanda Kota Mojokerto beberapa waktu lalu kembali menjadi perhatian publik setelah banyaknya pohon tumbang yang menyebabkan kerusakan pada berbagai infrastruktur.
Isu ini dibahas dalam Podcast Kabar Terdepan pada Jumat, 14 Februari 2025, dengan mengundang Satrijo Wiweko, Direktur Sahabat Lingkungan dan peraih Kalpataru Jawa Timur, sebagai narasumber utama.
Dalam diskusi yang dipandu oleh host Andy Yuwono, pertanyaan penting diajukan mengenai penyebab utama sering terjadinya pohon tumbang dalam beberapa bulan terakhir. Andy mengungkapkan keprihatinannya terkait dengan situasi ini, dengan mengingatkan bahwa pohon sebenarnya berfungsi untuk mencegah kerusakan yang disebabkan oleh angin.
“Pohon itu seharusnya menjadi pelindung yang mampu menghalau kerusakan akibat angin kencang dan melindungi rumah kita. Namun, jika pohon tersebut ditanam secara tidak benar atau tidak dirawat dengan baik, pohon tersebut justru bisa berbalik menjadi ancaman. Ini bisa berbahaya bagi orang-orang yang ada di sekitarnya, rumah-rumah, bahkan kendaraan yang melintas,” ujarnya.
Selain itu, Andy menambahkan bahwa meskipun Kota Mojokerto tidak terlalu luas, hanya terdiri dari tiga kecamatan, namun dalam tujuh bulan terakhir tercatat ada lima hingga enam kali kejadian pohon tumbang, yang menandakan bahwa ada masalah yang perlu diatasi secara serius.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Satrijo Wiweko menjelaskan bahwa berdasarkan kajian dari para pakar, ancaman bencana hidrometeorologi, terutama yang berkaitan dengan angin kencang, diprediksi akan semakin meningkat di Indonesia pada masa depan.
Oleh karena itu, mitigasi terhadap bencana seperti ini harus menjadi prioritas utama dalam perencanaan dan kebijakan lingkungan di masa mendatang.
“Kajian terakhir yang kami lakukan dengan para ahli menunjukkan bahwa fenomena bencana hidrometeorologi, khususnya yang berkaitan dengan angin kencang, akan semakin hebat ke depannya. Oleh karena itu, sangat penting untuk fokus pada upaya mitigasi agar kita bisa meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana tersebut,” ungkapnya.
Satrijo juga menyoroti permasalahan lain yang terjadi di Kota Mojokerto, yaitu minimnya ruang hijau yang tersedia di wilayah perkotaan, yang turut memperburuk kondisi pohon-pohon yang ada.
“Di Kota Mojokerto, ruang untuk penghijauan sangat terbatas. Sebagai contoh, di Jalan Majapahit dan Jalan Gajah Mada, pohon-pohon ditanam di ruang sempit yang terjepit antara aspal dan beton. Hal ini menyebabkan akar pohon tidak dapat berkembang dengan baik. Padahal, secara ekologis, pohon memerlukan ruang yang cukup untuk akarnya tumbuh dengan optimal. Jika akar terjepit, pohon akan menjadi tidak stabil dan lebih mudah roboh saat angin kencang datang,” tambahnya.
Lebih lanjut, Satrijo menjelaskan bahwa pohon, yang seharusnya berfungsi sebagai pelindung dari angin dan bencana lainnya, bisa berbalik menjadi ancaman jika penanaman dan perawatannya tidak dilakukan dengan benar.
“Pohon yang salah tanam dan tidak dirawat dengan baik bisa sangat berbahaya. Ketika pohon tersebut tumbang, bisa merusak rumah, kendaraan, bahkan membahayakan nyawa orang yang ada di sekitarnya,” katanya.
Satrijo juga memberikan perhatian khusus pada pohon-pohon yang sudah tua dan memiliki akar yang lemah.
Ia menyarankan agar pohon-pohon tersebut terus dipantau dan dirawat dengan baik agar tidak menimbulkan bahaya.
Selain itu, ia juga menyoroti kebiasaan buruk masyarakat yang sering membakar sampah di bawah pohon. Kebiasaan ini, menurutnya, bisa mempercepat kerusakan pada akar pohon dan memperlemah struktur pohon secara keseluruhan.
“Penting untuk melakukan pemantauan dan perawatan yang lebih rutin, terutama bagi pohon-pohon yang sudah tua dan memiliki akar yang rapuh. Selain itu, perilaku masyarakat yang membakar sampah di bawah pohon juga sangat merugikan, karena ini dapat menyebabkan korosi pada akar dan memperburuk kestabilan pohon,” jelas Satrijo.
Satrijo juga mengingatkan bahwa penanaman pohon seharusnya bukan hanya dilakukan sekali tanpa perawatan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa untuk memastikan pohon tetap berfungsi dengan baik dalam mencegah bencana, pemeliharaan yang rutin dan terstruktur sangatlah penting.
“Menanam pohon itu hanya langkah pertama, namun yang lebih penting adalah perawatan yang berkelanjutan. Tanpa perawatan yang tepat, pohon yang sudah ditanam akan kehilangan fungsinya dan justru bisa menjadi bencana,” katanya.
Pada akhir diskusi, Satrijo mengimbau agar pemerintah daerah dan masyarakat lebih memperhatikan pentingnya penghijauan yang berkelanjutan dan memperbaiki teknik penanaman pohon, terutama di daerah perkotaan yang cenderung memiliki keterbatasan ruang hijau.
Ia juga berharap agar masyarakat lebih sadar akan pentingnya menjaga lingkungan, agar kejadian-kejadian pohon tumbang akibat angin kencang tidak terulang kembali di masa depan.
Diskusi ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi bagi semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, dalam meningkatkan upaya mitigasi bencana serta menjaga kelestarian lingkungan dengan cara yang lebih baik dan lebih efektif. (Tantri*)
