
Jakarta, Kabarterdepan.com – Pelarangan tim senam Israel tampil dan bertanding dalam Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 di Jakarta meninggalkan luka mendalam bagi para atlet. Salah satunya adalah Lihi Raz, pesenam Israel yang selama ini dikenal sebagai finalis kompetisi internasional dan anggota Tim Olimpiade Israel.
Lewat tulisan reflektifnya, Lihi mengungkapkan kesedihan setelah dirinya tak diizinkan bertanding di Indonesia, bukan karena kemampuan, melainkan karena asal negaranya.
“Kami berlatih berbulan-bulan, penuh dedikasi, dan bermimpi tampil di panggung dunia. Tapi mimpi itu terhenti bahkan sebelum kami melangkah ke atas matras. Rasanya menyakitkan. Bukan marah, tapi sedih. Saya selalu percaya olahraga menyatukan manusia, bukan memisahkan mereka,” ungkap Lihi dalam tulisannya.
Olahraga Seharusnya Jadi Jembatan, Bukan Penghalang
Menurut Lihi Raz, olahraga sejatinya adalah bahasa universal yang menyatukan manusia lintas batas dan ideologi.
“Di atas matras, tidak ada bendera yang menentukan siapa yang lebih baik. Hanya ada semangat, keberanian, dan keadilan,” lanjutnya.
Lihi Raz menegaskan, pengalaman pahit ini justru membuatnya merenungkan kembali makna sejati dari olahraga, sebagai ruang pembelajaran tentang rasa hormat, kerja keras, dan kemanusiaan.
“Saya paham setiap negara punya sejarah dan perspektif politiknya sendiri. Tapi harapan saya sederhana, agar olahraga tetap menjadi jembatan, bukan medan perpecahan,” tuturnya.
Federasi Senam Israel : Pelanggaran Aturan Internasional yang Jelas
Menanggapi situasi tersebut, CEO Federasi Senam Israel (IGF), Sarit Shneor, menyebut keputusan tersebut sebagai tindakan yang merusak prinsip keadilan dalam olahraga global.
“Kami sangat kecewa dengan keputusan CAS terkait pelarangan delegasi Israel di Indonesia. Ini pelanggaran terang-terangan terhadap aturan. Tidak terbayangkan sebuah negara bisa melarang negara lain ikut kejuaraan dunia, sementara badan pengatur diam saja,” ujar Sarit Shneor
Menurut Shneor, keputusan ini tidak hanya melukai moral para pesenam, tetapi juga menjadi preseden buruk bagi dunia olahraga internasional.
“Kami sedang meninjau langkah hukum selanjutnya untuk melindungi hak atlet kami,” tegasnya.
Tentang Federasi Senam Israel (IGF)
Didirikan pada 1950, IGF membawahi cabang senam artistik, ritmik, dan akrobatik di seluruh Israel, serta menjadi anggota penuh Federasi Senam Internasional (FIG) dan Komite Olimpiade Israel.
Federasi ini dikenal aktif mempromosikan nilai inklusi, disiplin, dan keunggulan, serta menjalin kerja sama lintas negara melalui olahraga.
Tentang Lihi Raz
Lihi Raz adalah atlet senam artistik asal Israel yang telah berkompetisi di berbagai ajang internasional dan menjadi bagian dari Tim Olimpiade Israel. Melalui refleksinya, ia menyerukan agar dunia olahraga tidak lagi menjadi korban tarik-menarik kepentingan politik.
“Ini pertama kalinya saya gagal bertanding bukan karena kemampuan saya, tapi karena asal saya. Saya harap ini jadi yang terakhir bagi siapa pun, dari negara mana pun,” pungkas Lihi Raz.
Harapan Pesenam Israel Kandas
Harapan atlet / pesenam Israel untuk berkompetisi di Kejuaraan Dunia Senam Artistik FIG ke-53 di Jakarta (19-25 Oktober) pupus setelah Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Lausanne, Swiss, pada Selasa (14/10) menolak permintaan mendesak yang diajukan Federasi Senam Israel (IGF).
Keputusan ini mengukuhkan sikap Pemerintah Indonesia yang sebelumnya secara resmi menolak mengeluarkan visa masuk bagi kontingen Israel.
Pemerintah RI : Tolak Visa Sesuai Arahan Presiden
Alasan utama penolakan ini ditegaskan secara langsung oleh Menko Kumham Imipas, Yusril Ihza Mahendra, melalui keterangan video yang menjadi sorotan publik.
Yusril menyatakan, keputusan untuk tidak memberikan visa kepada enam atlet Israel yang terdaftar didasarkan pada sikap politik dan kebijakan luar negeri Indonesia yang konsisten.
“Pemerintah Indonesia tidak akan memberikan visa kepada enam atlet Israel yang berniat hadir mengikuti kejuaraan senam artistik dunia. Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto,” tegas Yusril.
Yusril merujuk pada pernyataan keras Presiden di berbagai kesempatan, termasuk di Sidang Umum PBB, yang mengecam kekejaman dan pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina, khususnya di Gaza.
“Sikap tegas Indonesia ini berpegang pada prinsip tidak akan membuka kontak atau hubungan apa pun dengan Israel sampai Israel mengakui keberadaan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat,” Yusril.
Selain faktor kebijakan, Yusril juga menyebutkan bahwa penolakan ini merupakan respons atas aspirasi dari kelompok ulama, politisi, dan masyarakat yang keberatan atas kehadiran kontingen Israel.
Bahkan, Yusril mengonfirmasi bahwa surat sponsorship yang sebelumnya diajukan oleh Federasi Senam Indonesia (FGI) untuk memfasilitasi visa atlet Israel telah ditarik kembali setelah menyadari sikap tegas pemerintah Indonesia.
CAS Tolak Banding, Israel Kecewa
Di tingkat internasional, IGF mengajukan dua banding mendesak ke CAS. Namun, CAS menolak permohonan tersebut. CAS menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki yurisdiksi untuk membatalkan keputusan imigrasi yang murni merupakan kewenangan negara tuan rumah, Indonesia.
Meskipun Federasi Senam Internasional (FIG) menyatakan “mengambil catatan” atas keputusan Indonesia dan tidak menjatuhkan sanksi berupa pembatalan tuan rumah, para atlet Israel seperti peraih emas Olimpiade,
Bersama enam atlet delegasi, Artem Dolgopyat, menyatakan kekecewaan mendalam karena kehilangan kesempatan bertanding.
“Saya terkejut dan sangat sedih dengan keputusan itu, dan terutama bahwa saya tidak akan diberi kesempatan untuk mewakili negara saya dengan kehormatan dan mempertahankan gelar dunia saya, gelar yang saya menangkan pada 07/10, sebagai salah satu hari tersulit yang pernah kita kenal sebagai sebuah bangsa.,” tutur Dolgopyat melalui Instagram pribadinya.
Tak hanya Dolgopyat, pesenam Israel lain yang juga tak jadi bertanding dalam Kejuaraan Dunia Gimnastik di Indonesia adalah Eyal Indig, Ron Pyatov, Lihie Raz, Yali Shoshani, dan Roni Shamay.
