
Kota Mojokerto, Kabarterdepan.com – Wali Kota Mojokerto secara resmi membuka kegiatan Rembuk Stunting Kota Mojokerto Tahun 2025 di Sabha Mandala Madya, Balai Kota Mojokerto, Rabu (12/3/2025).
Kegiatan ini menjadi forum strategis dalam menyusun langkah-langkah percepatan penurunan angka stunting di tahun mendatang.
Dalam laporannya, Sekretaris Daerah Kota Mojokerto, Gaguk Tri Prasetyo, memaparkan berbagai capaian kota dalam menangani stunting serta strategi yang akan diterapkan.
Capaian Penurunan Stunting Kota Mojokerto
Gaguk menjelaskan bahwa Kota Mojokerto telah mencatat penurunan angka prevalensi stunting secara signifikan dalam lima tahun terakhir.
“Beberapa capaian yang sudah dilakukan selama ini, baik itu dalam rangka intervensi spesifik maupun intervensi sensitif, maupun intervensi koordinatif, sudah berjalan secara optimal dan tercapai 100%,” ujar Gaguk.
Data dari Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) menunjukkan bahwa pada tahun 2020, prevalensi stunting di Kota Mojokerto berada di angka 7,71 persen atau sekitar 301 balita.
Angka itu terus mengalami penurunan hingga pada Desember 2024 tercatat menjadi 1,54 persen atau setara dengan 88 balita. Tahun ini, pemerintah menargetkan angka stunting turun lagi menjadi 1,23 persen atau sekitar 71 balita.
Gaguk juga menyampaikan bahwa keberhasilan Kota Mojokerto dalam menangani stunting mendapat apresiasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
“Pemerintah kota juga mendapatkan apresiasi dari Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bahwa Kota Mojokerto sebagai kota terbaik se-Indonesia dalam pencapaian indikator intervensi spesifik percepatan penurunan stunting di tahun 2024,” ungkapnya.
Strategi dan Komitmen Penanganan Stunting
Dalam rembuk stunting kali ini, Pemkot Mojokerto menegaskan pentingnya pendekatan multidimensional dalam upaya penurunan angka stunting.
“Permasalahan stunting pada dasarnya bukan hanya semata-mata masalah kesehatan. Masalah stunting juga masalah ekonomi, juga masalah pendidikan, juga ada masalah lingkungan, dan sanitasi. Oleh karenanya, intervensi yang dilakukan melibatkan seluruh komponen, seluruh kekuatan yang ada di Kota Mojokerto,” jelas Gaguk.
Hasil rembuk stunting tahun 2024 yang akan dilaksanakan pada 2025 menyepakati beberapa langkah strategis, di antaranya:
1. Semua kelurahan akan menjadi lokus prioritas penurunan stunting secara terintegrasi.
2. Melaksanakan upaya percepatan penurunan stunting melalui intervensi spesifik, sensitif, dan kolaboratif sesuai dengan alokasi anggaran yang telah disepakati.
3. Meningkatkan kolaborasi dan sinergitas antar OPD serta pihak terkait.
4. Membangun komitmen publik dalam percepatan penurunan stunting.
Dengan berbagai upaya ini, Pemerintah Kota Mojokerto optimis dapat mencapai target penurunan stunting sesuai rencana. (Riris*)
