Muhammad Bintang Revolusi, Taruna Akmil Asal Blitar yang Jadi Sorotan saat Dampingi Pertemuan Presiden Prabowo dan Macron

Avatar of Redaksi
IMG 20250530 WA0078
Muhammad Bintang Revolusi saat mendampingi pertemua Presiden Prabowo dan Macron. (Biro Pers Sekretariat Presiden)

Blitar, Kabarterdepan.com — Dalam suasana khidmat di lingkungan Akademi Militer (Akmil) Magelang, sebuah peristiwa bersejarah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menerima kunjungan resmi Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kamis (29/5/2025).

Namun, selain kehadiran dua pemimpin dunia ini, publik juga menyoroti sosok muda yang duduk di jajaran tamu kehormatan, yakni Muhammad Bintang Revolusi, Taruna Tingkat IV Akmil, yang mewakili generasi baru calon pemimpin Indonesia.

Bintang hadir tidak sekadar sebagai peserta, tetapi sebagai simbol harapan dan penerus tongkat estafet kepemimpinan nasional. Dalam balutan seragam taruna yang rapi dan penuh wibawa. Bintang mendampingi dua presiden dalam momen diplomasi tingkat tinggi yang menandai kerja sama strategis antara Indonesia dan Prancis.

Lahir di Blitar pada 7 Juni 2001, Muhammad Bintang Revolusi telah menunjukkan potensi besar sejak masa sekolah. Ia mengawali perjalanan kepemimpinannya di SMA Taruna Nusantara, Magelang — institusi bergengsi yang telah melahirkan banyak tokoh penting negeri ini. Di sana, semangat nasionalisme dan karakter kepemimpinan Bintang dibentuk dan dipertajam.

Perjalanan dilanjutkan ke Akademi Militer, tempat di mana Bintang kembali menorehkan prestasi luar biasa. Ia dinobatkan sebagai salah satu dari tiga taruna terbaik tingkat akhir Akmil tahun 2024 dari matra infanteri. Penghargaan itu bukan hanya karena nilai akademik semata, tetapi juga berkat keteladanan, kepemimpinan, dan kedisiplinan yang ditunjukkannya sepanjang pendidikan militer.

Momen ketika Bintang duduk di sisi Presiden Prabowo dan Presiden Macron menjadi momen yang membanggakan, tak hanya bagi lembaga pendidikan militer, tetapi juga bagi keluarganya, khususnya sang ayah, Mohammad Trijanto. Pria yang dikenal sederhana dan penuh prinsip itu tak bisa menyembunyikan rasa harunya.

“Bagi saya, ini bukan hanya soal pencapaian akademik. Ini adalah jawaban dari doa-doa kami, dari nilai-nilai yang kami tanamkan sejak Bintang kecil. Bahwa menjadi pemimpin bukanlah soal kebesaran jabatan, tapi soal tanggung jawab untuk bangsa dan sejarah,” ucap Trijanto dengan mata berkaca-kaca, Jumat (30/5/2025).

Ia menambahkan bahwa Bintang dibesarkan dengan nilai keberanian, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.

“Kami tidak pernah menargetkan anak kami harus jadi tentara, apalagi pendamping presiden. Tapi kami ingin mereka jadi manusia yang berguna bagi bangsa. Ternyata Tuhan memberi lebih dari yang kami bayangkan,” paparnya.

Bintang bukan satu-satunya dalam keluarga yang menapaki jalur pengabdian melalui pendidikan militer. Adiknya, Mohammad Galang Satria Dijagad, baru saja diterima sebagai siswa SMA Taruna Nusantara angkatan 36. Ini menjadi bukti bahwa nilai dan semangat pengabdian telah mengakar kuat dalam keluarga mereka.

Bagi Mohammad Trijanto, ini bukan hanya kebanggaan pribadi, melainkan panggilan keluarga untuk menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa. “Kami tidak bisa memilih takdir bangsa ini, tapi kami bisa memilih menjadi bagian dari yang memperbaiki dan menjaganya,” katanya.

Kehadiran Muhammad Bintang Revolusi dalam forum kenegaraan tingkat tinggi menjadi gambaran bahwa Indonesia tengah menyiapkan generasi pemimpin yang siap tampil, bukan hanya dalam negeri, tetapi juga di kancah internasional. Ia tidak hanya membawa nama pribadi dan keluarga, tetapi juga harapan rakyat akan lahirnya pemimpin yang berkarakter, berintegritas, dan siap mengabdi sepenuh hati.

“Generasi muda seperti Bintang adalah jawaban dari tantangan zaman. Mereka lahir di era globalisasi, tetapi tetap menjunjung nilai-nilai keindonesiaan,” ujar seorang perwira tinggi Akmil yang hadir dalam acara tersebut.

Kini, Muhammad Bintang Revolusi melangkah bukan hanya sebagai taruna terbaik, tetapi juga sebagai inspirasi. Ia telah membuktikan bahwa prestasi bisa diraih lewat kerja keras, dan kepemimpinan bisa dimulai dari keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. (Anang Agus Faisal)

Responsive Images

You cannot copy content of this page