
Blitar, kabarterdepan.com – Menjelang Hari Raya Idulfitri, masyarakat sering kali membeli berbagai makanan dan produk kebutuhan sehari-hari dalam jumlah besar. Namun, di tengah meningkatnya permintaan tersebut, masyarakat diingatkan untuk lebih berhati-hati dalam memilih makanan, obat-obatan, dan produk kosmetik yang aman dikonsumsi.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap keamanan produk yang beredar di pasaran, Anggota DPR RI dari Partai NasDem, Nurhadi, S.Pd, M.H, menggelar sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Obat dan Makanan bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta para tokoh masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilih produk yang aman melalui berbagai platform, seperti website BPOM dan aplikasi BPOM Mobile.
Menurut Nurhadi, menjelang Lebaran, masyarakat cenderung lebih banyak membeli jajanan dan berbagai kebutuhan lainnya. Oleh karena itu, penting untuk selalu memeriksa masa kedaluwarsa dan kondisi kemasan sebelum membeli produk makanan.
“Kita mengingatkan pentingnya memeriksa masa kedaluwarsa dan kondisi kemasan sebelum membeli makanan. Teliti sebelum membeli, pastikan apakah produk tersebut sudah mendekati kedaluwarsa atau belum, termasuk kondisi kemasannya,” ujar Nurhadi dalam sosialisasi yang digelar pada Minggu (23/3/2025).
Selain makanan, Nurhadi juga menyoroti maraknya aduan yang diterima Komisi IX DPR RI terkait produk kosmetik dari selebgram dan artis yang viral di media sosial. Banyak dari produk tersebut ternyata belum memiliki izin edar resmi dari BPOM, sehingga berisiko bagi kesehatan konsumen.
“Jangan mudah tergiur dengan kosmetik yang dijual selebgram atau artis hanya karena sedang viral. Pastikan produk yang dibeli sudah memiliki izin edar resmi dari BPOM agar tidak berdampak buruk pada kesehatan,” tegas Nurhadi.
Tak hanya makanan dan kosmetik, masyarakat juga diingatkan untuk lebih selektif dalam membeli obat-obatan, terutama obat yang diklaim bisa memberikan efek penyembuhan instan. Nurhadi mengingatkan bahwa tidak semua obat yang bekerja cepat itu aman, karena bisa saja mengandung bahan berbahaya.
“Jangan membeli obat sembarangan, apalagi yang diklaim bisa langsung menyembuhkan. Tidak semua obat yang memberikan efek instan itu aman, justru bisa berbahaya bagi kesehatan,” lanjutnya.
Sementara itu, perwakilan Balai Besar BPOM Surabaya, Rini, menjelaskan bahwa pihaknya terus melakukan pengawasan terhadap obat dan makanan yang beredar di 27 kabupaten/kota di Jawa Timur. Pengawasan ini dilakukan sejak tahap pre-market hingga post-market untuk memastikan produk yang beredar telah memenuhi standar keamanan yang ditetapkan.
“Ada standar produksi pangan dan obat yang harus dipatuhi pelaku usaha. Izin edar juga harus melalui aturan dan tahapan tertentu untuk menjamin keamanan produk yang dikonsumsi masyarakat,” ujar Rini.
Selain itu, Rini juga mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam membeli obat herbal yang dijual bebas di pasaran. Ia menekankan bahwa obat herbal tidak memberikan efek instan seperti obat kimia. Jika ada obat herbal yang langsung bereaksi, maka bisa jadi telah dicampur dengan bahan kimia obat yang berbahaya.
“Obat herbal murni tidak akan memberikan efek instan. Jika ada obat herbal yang langsung bereaksi setelah dikonsumsi, masyarakat harus curiga, karena kemungkinan besar telah dicampur dengan bahan kimia obat, yang justru bisa membahayakan kesehatan,” tambahnya.
Melalui sosialisasi ini, diharapkan masyarakat semakin sadar akan pentingnya mengecek kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa sebelum mengonsumsi obat maupun makanan. Dengan demikian, masyarakat dapat terhindar dari produk-produk berbahaya yang dapat mengancam kesehatan mereka.
BPOM juga mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan aplikasi BPOM Mobile guna mengecek legalitas produk sebelum membeli. Dengan adanya teknologi ini, konsumen dapat lebih mudah memastikan bahwa produk yang mereka beli telah terdaftar secara resmi dan aman untuk digunakan.
Sosialisasi ini menjadi langkah penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat agar semakin cerdas dalam memilih produk, terutama menjelang momen Lebaran, di mana konsumsi makanan dan kebutuhan lainnya meningkat secara signifikan. (Anang Agus Faisal)
