Mengenal Putu Sulistiani, Perajin Batik Ikonik Kota Surabaya yang Karyanya Go Internasional

Avatar of Redaksi
IMG 20240821 WA0026
Perajin batik ikonik Kota Surabaya Putu Sulistiani bersama wartawan kabarterdepan.com Moh. Faiqul Waffa. (Moh.Faiqul Waffa/kabarterdepan.com)

Surabaya, kabarterdepan.com – Di balik setiap karya seni yang memikat, tersembunyi kisah tentang perjalanan jiwa, dedikasi tanpa batas, dan cinta yang mendalam akan keindahan. Salah satu kisah tersebut adalah cerita Putu Sulistiani, seorang pembatik di Surabaya yang karya-karyanya sudah go internasional.

Putu Sulistiani awalnya seorang farmasis yang menemukan cintanya kembali pada dunia seni, terutama dalam seni batik. Perjalanan kariernya, yang awalnya jauh dari ranah kreatif, kini telah mengantarkannya menjadi salah satu tokoh penting dalam dunia batik, terutama di Surabaya.

Putu Sulistiani, seorang ibu dari dua anak, kini dikenal luas sebagai pemilik brand Batik Dewi Saraswati yang galeri batiknya berada di Jemursari Utara II/ 19, Surabaya.

Tekuni Kosmetik

Ia memulai karier di bidang yang sepenuhnya berbeda dari seni. Sebagai seorang farmasis dan apoteker, Putu menghabiskan 16 tahun berkarier di industri kosmetik sebagai tenaga riset.

Namun, setelah bertahun-tahun menekuni profesi tersebut, Putu memutuskan untuk mengakhiri perjalanan itu dan kembali ke hobi lamanya, yaitu menggambar dan mendesain.

“Sejak kecil, saya memang suka menggambar, terutama membuat sketsa untuk fashion. Namun, karena perjalanan hidup dan pilihan karier, saya harus meninggalkan hobi tersebut untuk sementara waktu. Tapi setelah 16 tahun bekerja di pabrik kosmetik, saya merasa ini saatnya untuk kembali ke dunia yang saya cintai,” kata Putu kepada kabarterdepan.com, beberapa waktu lalu.

IMG 20240812 WA0126
Proses pembuatan Batik Dewi Saraswati. (Moh.faiqul Waffa/kabarterdepan.com)

Pada tahun 2004, Putu memulai langkah barunya dengan mencoba mendesain batik. Keputusannya ini bukan tanpa alasan. Putu melihat bahwa saat itu belum banyak orang yang mengangkat ikon-ikon Kota Surabaya ke dalam motif batik. Sementara kota ini memiliki begitu banyak kekayaan budaya yang bisa dijadikan inspirasi.

Ikon Kota

Salah satu ciri khas dari Batik Dewi Saraswati adalah pengambilan ikon-ikon kota Surabaya sebagai motif utama. Mulai dari Suro dan Boyo, ikon legendaris kota Surabaya, hingga daun Semanggi, makanan khas yang juga menjadi identitas kota. Semua ini diangkat menjadi motif batik yang unik dan khas. Putu menjelaskan bahwa motif-motif ini tidak hanya membuat batiknya berbeda dari yang lain, tetapi juga memberikan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Surabaya.

“Pada saat saya mulai mendesain batik, saya ingin sesuatu yang khas, sesuatu yang ketika orang melihatnya, mereka langsung tahu bahwa ini adalah Batik Surabaya. Saya mengambil inspirasi dari ikon-ikon kota seperti Suro dan Boyo serta daun Semanggi, yang memang menjadi ciri khas Surabaya. Warna-warna yang saya gunakan juga lebih berani dan cerah, sesuai dengan karakter batik pesisiran yang penuh dengan variasi warna,” jelasnya.

Dalam perjalanannya, Batik Saraswati tidak hanya berhenti pada motif-motif khas Surabaya. Putu terus mengembangkan karyanya dengan memperluas inspirasinya ke seluruh Jawa Timur, tetap menjaga kekhasan batik pesisiran dengan warna-warna yang cerah dan berani.

Belajar di Jogja

“Belajar di Balai Besar Penelitian Batik di Yogyakarta adalah langkah awal yang sangat penting bagi saya. Di sana, saya mempelajari berbagai teknik, dari pewarnaan hingga canting. Ini menjadi modal utama saya dalam memulai usaha batik,” ujar Putu.

Namun, perjalanan ini bukan tanpa tantangan. Putu mengakui bahwa ada banyak kegagalan yang harus dilalui, terutama di awal usahanya. Meski begitu, ia terus berusaha dan belajar dari setiap kesalahan yang terjadi. Awalnya, ia hanya memiliki dua karyawan yang membantunya dalam proses pembuatan batik.

Namun seiring berjalannya waktu, bisnisnya berkembang, dan jumlah karyawan pun bertambah hingga mencapai 50 orang.

Namun, setelah pandemi, jumlah karyawan berkurang menjadi sekitar 25 orang. Meski demikian, ia tetap berusaha untuk menjaga kualitas dan produktivitas batiknya dengan tim yang lebih kecil.

IMG 20240812 WA0125
Totalitas karyawan perajin batik di Batik Dewi Saraswati. (Moh. Faiqul Waffa/kabarterdepan.com)

Putu menjelaskan  salah satu keunggulan batiknya adalah penggunaan warna-warna yang cerah dan berani, yang jarang ditemukan dalam batik dari daerah lain seperti Jogja atau Solo yang cenderung menggunakan warna gelap.

Cerah dan Berani

“Karakter batik saya memang ada di warna-warna cerah dan berani. Orang-orang yang sudah mengenal karya saya bisa langsung tahu bahwa ini adalah batik dari Dewi Saraswati hanya dengan melihat warnanya. Inilah yang menjadi keunikan dan selling point dari Batik Dewi Saraswati,” kata Putu.

Ia juga menekankan pentingnya inovasi dalam menjaga agar batik tetap relevan dan diminati oleh pasar. Putu seringkali membuat desain baru yang berbeda dari sebelumnya, termasuk berpartisipasi dalam lomba desain motif batik Surabaya yang diinisiasi oleh pemerintah kota. Menurutnya, desain-desain dari lomba tersebut menambah variasi dan kekayaan motif Batik Saraswati, meski berbeda dari desain yang biasanya ia buat.

Proses pembuatan batik di Batik Dewi Saraswati masih dilakukan secara tradisional, mulai dari menggambar motif di atas kertas, memindahkannya ke kain, mencanting, hingga proses pewarnaan. Putu menjelaskan bahwa meski prosesnya panjang dan memerlukan ketelitian, hasil akhirnya selalu sepadan.

“Proses pembuatan batik di sini dimulai dengan membuat desain di atas kertas, kemudian dipindahkan ke kain. Setelah itu, kain dicanting dan diwarna. Pewarnaan bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan dicelup atau di-colet menggunakan kuas.

Setelah semua proses selesai, kain kemudian dibilas dan malamnya dilorot untuk menghilangkan lilin yang digunakan dalam proses canting. Hasil akhirnya adalah kain batik yang siap dijadikan berbagai produk fashion,” terang Putu.

Untuk menjaga kualitas batiknya, Putu selalu memastikan bahwa setiap tahapan dalam proses produksi dilakukan dengan teliti. Ia juga menjaga agar desain-desain yang dihasilkan tetap fresh dan mengikuti tren pasar, namun tetap mempertahankan ciri khas Saraswati.

“Dalam menjaga kualitas, kita selalu teliti di setiap tahapan produksi, mulai dari desain hingga pewarnaan. Saya juga selalu mencoba membuat desain-desain baru yang lebih variatif, supaya konsumen tidak bosan dan tetap tertarik dengan produk-produk kita,” katanya.

Dalam hal pemasaran, Batik Dewi Saraswati lebih banyak mengandalkan penjualan offline melalui pameran dan kunjungan langsung ke workshop.

Meski begitu, Putu tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkan penjualan online di masa depan. Ia mengaku usaha batik seperti ini sangatlah menjanjikan. Sebab perhelai kain batik bisa lepas dengan harga Rp 3 jutaan per lembar hingga dapat meraup omzet ratusan juta. Untuk pengerjaan 1 lembar batik membutuhkan waktu 4 hari.

“Saat ini, penjualan lebih banyak dilakukan secara offline, baik melalui pameran maupun kunjungan langsung ke workshop. Namun, saya tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkan penjualan online ke depannya,” tambahnya.

Pesanan Wakasal

Salah satu pengalaman paling berkesan selama menjalankan Batik Dewi Saraswati adalah ketika Putu mendapat pesanan khusus dari Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) untuk membuat batik dengan motif tertentu yang kemudian digunakan oleh para petinggi Angkatan Laut. Pengalaman ini tidak hanya memberi kebanggaan bagi Putu, tetapi juga menjadi bukti bahwa Batik Dewi Saraswati diakui oleh kalangan atas.

Tidak hanya itu, Batik Dewi Saraswati kini tak hanya menjadi kebanggaan Surabaya, namun juga Go internasional telah menjelajahi belahan dunia, menyentuh negeri Swiss, Australia, hingga Jepang, membawa keindahan dan warisan budaya Indonesia yang kaya, dan menanamkan rasa bangga yang mendalam dalam diri Putu Sulistiani, sang penggagas di balik setiap helaian kain yang mempesona.

Ketika ditanya apa yang membuatnya terus bersemangat menjalankan usahanya, Putu menjawab bahwa passion dan apresiasi dari orang lain terhadap karyanya adalah bahan bakar utamanya.

Selain itu, banyak karyawan yang mengguntungkan nasib mereka pada usahanya. Hal itulah yang membuat Putu tetap bersemangat meski usianya sudah semakin tua.

“Passion saya di seni dan batik, itulah yang membuat saya terus semangat. Ketika karya saya diapresiasi, rasanya bangga sekali. Ini juga yang membuat saya terus ingin berkarya dan memberikan yang terbaik,” kata Putu.

Selain menjalankan usahanya, Putu juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan komunitas yang terkait dengan pelestarian batik dan busana nasional.

Ia juga tergabung dalam komunitas Cinta Berkain dan Himpunan Tata Busana, yang bertujuan untuk melestarikan busana nasional.

Terinspirasi Iwan Tirta

Melihat ke depan, Putu berharap bisa terus mengembangkan Batik Dewi Saraswati dan menjalin kolaborasi dengan tokoh-tokoh terkenal di dunia batik. Salah satu tokoh yang menjadi inspirasinya adalah Iwan Tirta, seorang maestro batik yang karyanya telah dikenal luas di dalam dan luar negeri.

“Iwan Tirta adalah idola saya. Desain-desain batiknya sangat menginspirasi saya, dan saya berharap suatu saat bisa berkolaborasi dengan tokoh seperti beliau,” ungkap Putu.

Batik Dewi Saraswati bukan sekadar lembaran kain yang dihiasi motif-motif indah, melainkan sebuah karya seni yang menenun kisah Surabaya dengan benang-benang cinta dan dedikasi.

Dalam setiap guratan batiknya, Putu Sulistiani tidak hanya mewujudkan impian dan kecintaannya pada seni, tetapi juga mempersembahkan warisan budaya yang akan terus mengalir, dari generasi ke generasi, melintasi batas-batas waktu dan tempat.

Batik Dewi Saraswati adalah simbol keindahan yang abadi, mengharumkan nama Surabaya hingga ke penjuru dunia, dan menjadi saksi bisu perjalanan seorang perempuan yang dengan penuh hasrat menghidupkan kembali mimpi yang sempat terlupakan. (Moh Faiqul)

Responsive Images

You cannot copy content of this page