
Opini, Kabarterdepan.com – Di dalam psikologi ada beberapa macam jenis syndrome, salah satunya adalah impostor syndrome. Sebenarnya syndrome imposter itu apa dan mengapa disebut impostor?
Syndrome Imposter ini dikemukakan oleh beberapa psikolog yaitu bernama suzanna Imes dan Pauline Rose Clance pada tahun 1978 yang berkaitan dengan rasa percaya diri.
Selain itu, kata impostor adalah penyamar dalam kamus bahasa Inggris, atau penyemu dalam kamus bahasa Indonesia. Lalu, apa hubungannya dengan rasa percaya diri?
Jika diartikan selebihnya adalah orang palsu atau ketidakpercayaan diri seseorang akan kemampuannya sendiri, contohnya seperti tidak kompeten dalam prestasi dan pekerjaan sehingga dirinya menganggap suatu keberuntungan semata ketika mencapai prestasi atau pekerjaan.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of General Internal Medicine, menjelaskan bahwa 82% orang di dunia mengalami impostor syndrome dalam hidupnya.
Syndrome Impostor ini sering mempengaruhi mereka yang sangat perfeksionis sehingga memicu rasa takut akan tidak mampu seperti apa yang dipikirkan orang lain dan takut akan terungkap sebagai penipu.
Orang dengan syndrome impotor cenderung memiliki kecemasan dan depresi. Namun menurut ahli, ini bukan kondisi kesehatan mental yang sebenarnya.
Faktor penyebab syndrome imposter ini biasanya terjadi di keluarga dan sosial, salah satu contoh faktor di keluarga adalah selalu mendapat penekanan berbandingan atas pencapaian dari saudara atau anak dan mendapatkan kritikan banyak ketika mengalami kegagalan, dan sebaliknya jika mendapatkan pujian yang berlebihan akan meragukan diri sendiri.
Dan salah satu faktor dari sosial adalah ketika memasuki lingkup yang ambisius sehingga meragukan diri sendiri.
Tanda-Tanda Ketika Seseorang Mengalami Impostor Syndrome ?
Tanda-tanda tersebut sering terjadi lantaran ketidakmampuan untuk menilai kompetensi dan keterampilan secara realistis.
Biasanya paling menonjol adalah takut tidak sesuai dengan ekspektasi lalu muncullah rasa keraguan diri sehingga menilai negatif kesuksesan sendiri berujung merasa kecewa dan frustrasi ketika tidak mampu untuk memenuhi standar yang ditetapkan diri sendiri.
Adakah cara menangani syndrome impostor?
Jika disebabkan dari faktor di atas tentu saja akan mengakibatkan banyak hal, salah satunya akan mengganggu aktivitas produktif kinerja. Dan tentu saja ada cara menangani syndrome impostor ini apa saja?
Mengakui perasaan diri sendiri
Perlu adanya mengakui perasaan diri sendiri seperti kecewa, kesal karna tidak sesuai dengan ekspektasi, perasaan takut jika gagal dan takut untuk mencoba.
Maka, penting untuk menyadari hal tersebut dengan cara menuliskan semua perasaan, luapkan secara spesifik dan sertakan alasannya.
Berhenti untuk membandingkan diri sendiri
Setiap garis start, proses, dan perjalanan orang sangat berbeda-beda, dan tidak bisa dipungkiri jika membandingkan diri saat mengalami kegagalan dengan orang yang mencapai puncak kesuksesan, tidak heran mengalami syndrome impostor tersebut.
Lalu bagaimana agar tidak membandingkan diri dengan orang lain? Pesan Marshall Goldsmith “Jangan sibuk mengejar apa yang orang lain miliki, coba fokus pada perkembangan diri yang telah dilampaui.”
Sebisa mungkin hindari menjadi perfeksionis
Awal pemicu membandingkan dengan orang lain karena ada penekanan dari diri sendiri yang harus mencapai target dengan sempurna sehingga tidak akan ada yang menandingi atau tersaing oleh siapa pun.
Maka bentuk apresiasi dalam hasil apa pun adalah solusinya.
Memiliki support system yang sehat
Dari membandingkan diri menjadi perfeksionis lantaran mulai dari circle atau lingkaran pertemanan, biasanya terbentuk dari lingkaran pertemanan yang selalu lebih menonjol atau satu diantaranya tidak ingin adanya pesaing meskipun dari satu circle tersebut.
Oleh karena itu, usahakan membangun atau memiliki circle yang sehat dari lingkungan pertemanan yang sehat, sehingga tidak akan ada berlomba-lomba ingin menjadi yang terbaik di antaranya.
Mengontrol pikiran
Syndrome impostor ini sangat pandai dalam mempermainkan perasaan-perasaan yang mengalaminya. Biasanya tercipta dari pikiran seperti “Haduh aku bisa nggak ya melakukan ini?” atau “Duh kira-kira gagal nggak ya?”
Pikiran-pikiran tersebutlah yang selalu mempengaruhi dengan menimbulkan pertanyaan setiap kali ingin mencoba sesuatu atau menjadi rasa takut berlebihan.
Cobalah untuk bisa mengendalikan hal-hal yang bisa dikendalikan, termasuk pikiran yang menipu sehingga menjadi ragu pada kemampuan diri. (*)
Penulis: Putri Wulan
