
Kota Mojokerto, Kabarterdepan.com – Polemik terkait dugaan makanan basi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Mojokerto akhirnya mendapat klarifikasi resmi dari pihak penyedia.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kauman membantah tuduhan adanya makanan basi, dan menegaskan temuan yang terjadi hanyalah satu ekor ulat pada sayuran buncis.
Kuasa hukum SPPG Kauman, Dr. M. Gati SH, CTA, MA, atau akrab disapa advokat Sakty, menilai pemberitaan yang muncul pada 15 September 2025 tidak berimbang. Ia menegaskan kliennya tidak pernah dimintai konfirmasi sebelum berita tersebut dipublikasikan.
“Saya hafal kode etik jurnalistik. Terkait sumber itu penting, dilindungi undang-undang. Klien saya tidak pernah dikonfirmasi. Maka klarifikasi ini harus saya sampaikan,” tegas Sakty kepada wartawan di Mojokerto, Selasa (16/9/2025).
Sakty menyebut peristiwa temuan ulat di menu MBG terjadi pada 10 September 2025 dan sudah diselesaikan secara internal. Namun ia heran mengapa isu tersebut kembali diangkat lima hari kemudian dengan tambahan narasi makanan basi.
“Sampai detik ini tidak ada laporan resmi dari pihak sekolah mengenai makanan basi. Yang ada hanyalah satu temuan ulat mati di sayur buncis, dan itu pun sudah ditangani. Jadi narasi basi itu mengada-ada,” tegasnya.
Ahli Gizi: Ompreng Siswa Selalu Kembali Bersih, Tidak Ada Makanan Basi
Hal senada juga disampaikan Nabila, ahli gizi dari penyedia MBG tersebut. Ia menegaskan tidak pernah ada laporan soal makanan basi dari pihak sekolah.
“Ompreng (food tray) selalu kembali bersih tanpa sisa. Kalau basi, pasti siswa tidak akan menghabiskan makanannya. Jadi tuduhan basi itu tidak sesuai fakta,” jelas Nabila.
Terkait adanya satu ulat di menu buncis, Nabila menyebut hal itu bisa terjadi secara alami karena berasal dari sayuran segar.
“Dari 3.000 lebih menu yang dibagikan, hanya ada satu ulat mati. Itu pun bisa terlewat meski sayur sudah dicuci, direndam air garam, dan diperiksa. Kadang ulat pada sayuran justru menandakan bahan itu segar,” terangnya.
Ia juga memastikan setiap distribusi makanan selalu disertai sampel kontrol sesuai SOP dari Badan Gizi Nasional (BGN), dan tidak pernah ditemukan adanya makanan basi.
Pengawasan Ketat Program MBG
Sakty menambahkan, Program MBG yang digagas Presiden Prabowo Subianto merupakan program baru sehingga wajar jika mendapat pengawasan ketat. Ia memastikan penyedia SPPG berkomitmen menjaga kualitas gizi dan kebersihan makanan.
“Integritas kawan-kawan di dapur SPPG tinggi. Mustahil makanan basi sengaja dibagikan ke siswa,” ujarnya.
Nabila juga mengakui ada quality control yang sempat terlewat hingga ulat di buncis bisa lolos. Namun ia menegaskan hal itu sudah diklarifikasi ke pihak sekolah dan masalah dinyatakan selesai.
“Kesalahan ada di bagian quality control. Kami sudah memperbaiki sistem agar kejadian seperti itu tidak terulang. Yang jelas, tidak ada makanan basi,” pungkasnya. (Redaksi)
