Buah Matoa Kelapa, Komoditas Andalan Baru Warga Wonosalam Jombang

Avatar of Redaksi
Heri Susanto saat memanen buah matoa kelapa di kebun miliknya di Wonosalam Jombang. (Karimatul Maslahah/Kabarterdepan.com)
Heri Susanto saat memanen buah matoa kelapa di kebun miliknya di Wonosalam Jombang. (Karimatul Maslahah/Kabarterdepan.com)

Jombang, Kabarterdepan.com – Wonosalam selama ini dikenal sebagai penghasil durian unggulan di Jawa Timur. Namun kini, warga di lereng Gunung Anjasmoro mulai melirik tanaman lain yang tak kalah menjanjikan, matoa kelapa.

Buah tropis asal Papua ini kian diminati karena cita rasanya yang unik, perpaduan antara rambutan, leci, dan sedikit aroma durian. Tak heran jika matoa kelapa berpotensi menjadi komoditas andalan baru bagi petani Wonosalam.

Heri Susanto, petani asal Dusun Pucangrejo, Desa Wonosalam, menjadi salah satu yang sukses membudidayakannya. Tahun ini, hasil panen matoa di kebunnya meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.

“Kalau dulu hanya sekitar lima kuintal, sekarang bisa tembus satu ton. Alhamdulillah, hasilnya sangat bagus,” ujar Heri saat ditemui di kebunnya, Rabu (12/11/2025).

Menurutnya, matoa kelapa cocok dengan kondisi alam Wonosalam yang berhawa sejuk dan tanah subur. Cuaca yang stabil juga mendukung masa berbuah yang optimal.

“Satu pohon sekarang bisa menghasilkan lebih dari 200 kilogram. Tahun kemarin paling tinggi 100 kilo,” tambahnya.

Untuk menjaga kualitas, Heri menggunakan jaring pembungkus pada buah yang mendekati masa panen. Cara sederhana itu efektif melindungi buah dari serangan kelelawar dan serangga.

Buah matoa hasil kebun Wonosalam kini dijual antara Rp20 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram tergantung kualitas. Hasil panen tak hanya diminati warga lokal, tetapi juga pembeli dari luar daerah seperti Surabaya, Sidoarjo, dan Jakarta.

“Matoa super harganya bisa sampai Rp35 ribu per kilo. Kalau yang biasa mulai Rp20 ribu,” katanya.

Buah Matoa Kelapa Jadi Ikon Baru Wonosalam Jombang

Dalam proses budidaya, Heri mengandalkan pupuk organik untuk menjaga kesuburan tanah dan rasa buah. Ia meyakini perawatan alami akan membuat pohon matoa lebih tahan lama dan produktif.

“Perawatannya harus rutin. Kalau musim panas panjang, tanaman bisa stres dan hasilnya turun,” jelasnya.

Sementara itu, sejumlah wisatawan yang berkunjung ke Wonosalam mulai tertarik mencoba buah matoa langsung dari kebun. Sania Nur Aini (23), wisatawan asal Kediri, mengaku terkesan dengan rasa matoa kelapa.

“Rasanya mirip rambutan tapi lebih legit dan wangi seperti durian. Saya langsung beli beberapa kilo buat oleh-oleh,” ujarnya.

Dengan permintaan pasar yang terus meningkat, para petani di Wonosalam optimistis matoa kelapa akan menjadi ikon baru setelah durian bido.

Selain bernilai ekonomi tinggi, tanaman ini juga dinilai cocok untuk dikembangkan sebagai wisata agrobuah di kawasan lereng Anjasmoro.

Responsive Images

You cannot copy content of this page