Mantan Perangkat Desa di Jombang Raup Untung dari Ayam Petelur, Begini Kisah Suksesnya

Avatar of Jurnalis: Ahmad
Istri Fatkurrohman, warga Desa Tinggar, saat memanen telur di kandang belakang rumahnya. (Karimatul Maslahah/kabarterdepan.com)Jombang
Istri Fatkurrohman, warga Desa Tinggar, saat memanen telur di kandang belakang rumahnya. (Karimatul Maslahah/kabarterdepan.com)

Jombang, Kabarterdepan.com – Fatkurrohman (60), mantan perangkat Desa Tinggar, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, ini justru menjadikannya sebagai awal perjalanan baru menuju kemandirian ekonomi. Ia kini dikenal sebagai pengusaha sukses di bidang peternakan ayam petelur.

Setelah puluhan tahun mengabdi di pemerintahan desa, Fatkurrohman memilih banting setir. Bermodal semangat dan tabungan pribadi sekitar Rp150 juta, ia membangun kandang ayam petelur di lahan belakang rumahnya.

Karena dana belum mencukupi, ia memberanikan diri meminjam modal tambahan dari saudaranya. Keputusan yang semula dianggap berisiko itu kini terbukti tepat.

“Awalnya saya cuma punya seribu ekor ayam. Sekarang alhamdulillah sudah 4.000 ekor dan terus berkembang,” ujarnya saat ditemui di kandangnya, Jumat (7/11/2025).

Meski tak memiliki latar belakang pendidikan peternakan, Fatkurrohman belajar secara otodidak. Ia banyak meniru teknik beternak dari keluarganya di Kediri yang lebih dulu menekuni usaha ayam petelur.

“Belajar dari pengalaman orang lain, lalu dicoba sendiri. Kalau gagal ya diperbaiki. Yang penting tekun,” katanya.

Dijual ke Tengkulak Jombang

Kini, dari sekitar 3.000 ekor ayam produktif, setiap hari Fatkurrohman bisa memanen 142–144 kilogram telur. Hasil panen itu ia jual ke sejumlah tengkulak di Kecamatan Gudo dan Megaluh. Dengan harga telur yang stabil di kisaran Rp26 ribu per kilogram, usahanya terus berjalan lancar.

“Dengan harga segitu, masih bisa untung, asal harga pakan tidak naik terus,” ujarnya.

Istri Fatkurrohman, warga Desa Tinggar, saat memanen telur di kandang belakang rumahnya. (Karimatul Maslahah/kabarterdepan.com)
Jombang

Selain menjaga produksi, Fatkurrohman juga memperhatikan kebersihan kandang. Ia rutin menyemprot cairan fermentasi EM4 setiap minggu untuk mengurangi bau dan mengurai limbah.

“Kalau tidak disemprot, baunya bisa menyengat. Tapi dengan cairan itu, kandang lebih nyaman,” tuturnya.

Meski sudah berjalan sukses, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah kenaikan harga pakan, terutama jagung. Harga jagung yang dulu Rp5.500 per kilogram kini naik menjadi Rp7.000 di tingkat gudang.

“Kalau harga pakan naik, otomatis keuntungan ikut turun. Tapi sejauh ini masih bisa bertahan,” ungkapnya.

Fatkurrohman berharap pemerintah daerah maupun koperasi bisa membantu menstabilkan harga pakan agar peternak kecil tetap bisa bertahan.

“Kalau ada koperasi yang bisa bantu suplai jagung dengan harga stabil, peternak seperti kami pasti lebih tenang,” pungkasnya. (Karimatul Maslahah)

Responsive Images

You cannot copy content of this page