Kreatif! Warga Banyuwangi Sulap Ilalang jadi Anyaman

Avatar of Redaksi
sulap ilalang
Warga membuat anyaman ilalang. (Fitri Anggiawati/kabarterdepan.com)

Banyuwangi, kabarterdepan.com- Warga Banyuwangi membuktikan bahwa ide kreatif bisa muncul ketika seseorang telah mencapai titik ia mengalami kebuntuan dalam pemecahan masalah, seperti yang dialami perajin anyaman asal Banyuwangi, Budi Hartono.

Pria 37 tahun tersebut sebelumnya bekerja di sebuah pabrik rokok di Kota Malang, Jawa Timur dan mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang kemudian membuatnya kembali ke daerah asalnya di Banyuwangi.

“Saya akhirnya pulang dan mencoba untuk mencari ide untuk mendapat penghasilan dengan cara lain,” kata Budi, Selasa, (17/9/2024).

Tak patah arang, Budi sempat menjalani berbagai profesi, sebelum akhirnya berhasil sulap ilalang yang biasa dianggap gulma menjadi anyaman yang bernilai ekonomis, bahkan memberdayakan belasan warga setempat.

“Ide awalnya tidak sengaja dan coba-coba,” terang Budi.

Mulanya, pembuatan anyaman atap berbahan ilalang bukan untuk tujuan komersial, melainkan untuk pemugaran makam tokoh penari gandrung perempuan pertama di Banyuwangi, Mbah Semi di Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri.

Kemudian, ia memiliki ide memproduksi anyaman atap ilalang untuk dijual yang mendapatkan tanggapan positif dari pengusaha kafe.

“Kami tawarkan ke beberapa pengusaha kafe dan ternyata mereka tertarik. Saat itu tahun 2019,” urai Budi.

Sulap Ilalang Menjadi Berkah

Tanpa disangka, minat terhadap atap anyaman ilalang cukup besar, bahkan pesanan pertamanya mencapai 6 ribu lembar.

Untuk memenuhi pesanan tersebut, Budi mengajak belasan warga sekitar tempat tinggalnya untuk bekerja, dan hingga saat ini, sebanyak 15 warga ikut bekerja bersama Budi untuk membuat kerajinan tersebut.

Lambat laun, pesanan anyaman atap ilalang terus berdatangan, baik dari Banyuwangi maupun luar kota, mulai dari Jember, Surabaya, hingga Bali. Bahkan, Budi sempat mendapat tawaran dari pembeli untuk dikirim ke luar negeri namun belum disanggupinya karena keterbatasan bahan baku.

“Sekarang ilalang banyak ditemukan di lahan kosong daerah-daerah perumahan. Kami beli dari pencari rumput. Harganya Rp 5 ribu per ikat,” beber Budi.

Budi menjual anyaman atap ilalang buatannya yang berukran sekitar 2,5 meter x 1,5 meter seharga Rp 15 ribu per lembar dan bisa lebih murah apabila pembeli memesan dalam jumlah banyak.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi ide bisnis yang dijalankan Budi dan warga lainnya, terlebih karena sesuai dengan semangat yang kini digandrungi banyak orang, yakni tradisional dan kembali ke alam.

“Saya rasa ini ide yang kreatif. Bersamaan dengan pariwisata Banyuwangi yang terus berkembang, pasti pasar dari anyaman atap ilalang ini sangat menjanjikan,” tutur Ipuk.

Menurut Ipuk, banyak pengusaha kafe-resto dan homestay yang saat ini mengangkat tema natural dan tradisional, kerajinan buatan Budi diyakini dapat terus berkembang dengan menyasar pasar tersebut. (Fitri)

Responsive Images

You cannot copy content of this page