
Kota Batu, kabarterdepan.com – Kisah perjalanan dan perjuangan hidup Ludi Tanarto salah seorang anggota DPRD Kota Batu dari Fraksi PKS yang terlahir dari keluarga sopir, yang kini menjadi Direktur PT Trans Agro Sembada penuh dengan Lika liku dan halangan yang merintang.
Namun, dirinya tidak pernah menyerah untuk menggapai cita-cita untuk menggapai masa depan yang lebih baik dengan menjadi seorang pengusaha pupuk dan nutrisi tanaman.
Pria kelahiran 5 April 1974 ini menceritakan kepada awak media, ihwal perjuangan hidupnya, hingga kini sukses menjadi seorang pengusaha.
“Tentunya perjuangan saya penuh dengan lika-liku hambatan dan rintangan awal mula merintis dengan menjalani bisnis ini, dimana salah satunya saya pernah ditipu teman, jatuh bangun, utang tidak dibayar itu menjadi dinamika dalam menjalani bisnis ini,” ungkap Ludi sembari mengenang kala itu, Minggu 11/8/2024).
Putra sulung dari pasangan Sutikno dan Nis Utami ini lebih lanjut bercerita, jika usahanya dibangun tahun 2006. Saat itu dirinya masih menjadi karyawan di PT Santani Agrolestari, yang juga memproduksi pupuk dan obat-obatan pertanian pestisida. Pada perusahaan itu, dia menempati sejumlah posisi mulai dari kepala gudang, marketing dan manajer.
“Ya, dulu masih menjadi marketing ya kerja saya keliling ke distributor, kelompok tani dan ke pemilik toko yang menjual obat-obatan pertanian, dengan maksud menawarkan produk,” papar Ludi.
Meski begitu, bapak dengan empat anak ini selama menjadi karyawan kala itu dirinya mendapatkan posisi jabatan dan gaji yang terbilang bagus. Tetapi sejak tahun 2006, ia memang sudah punya niatan untuk resign sebagai karyawan.
“Tapi, sebelum saya resign terlebih dahulu mempersiapkan segalanya, seperti mempekerjakan orang untuk membuat pupuk, yang masih bisa dibilang uji coba dan dipasarkan juga terbatas,” kenang Ludi mengingat kala itu.
Namun, seiring berjalannya waktu, usahanya lambat laun berjalan dengan cukup baik dan karyawan juga bertambah. Hingga pada 2011 Ludi yang waktu itu bisa dibilang sedang berada di puncak karir secara baik-baik mengajukan resign kepada atasannya.
“Nah pas mengajukan resign itu saya ditawari jabatan lain di divisi yang berbeda. Bahkan saya diberi saham,” terang Ludi Tanarto.
Berhubung niatnya sudah bulat, pada akhirnya Ludi menolak tawaran tersebut dan ingin konsentrasi dan fokus di perusahaan yang sudah dirintis.
“Dengan niat dan mengucap Bismillah, saya membulatkan tekad untuk resign,” ujar alumni jurusan ilmu tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) ini sembari tersenyum.
Meski demikian, Ludi tetap menjalin komunikasi yang baik dengan atasannya di perusahaan tersebut. Sehingga setelah resign dan punya perusahaan, Ludi juga tetap bekerjasama dengan perusahaan lamanya. Yang mana PT Eureeka Great Nusantara juga menjadi distributor untuk beberapa produk di PT Santani sampai sekarang ini.
Ditanya soal riwayat pekerjaan Ludi mengaku, ketika kuliah sudah bekerja menjadi sopir angkot ADL (Arjosari-Dinoyo-Landungsari) terkadang Batu-Landungsari (BL).
Pekerjaan tersebut dia lakukan, lantaran ayahnya menjadi sopir angkot jurusan Batu-Landungsari (BL). Sedangkan kakeknya yang tinggal di Oro Oro Dowo Kota Malanga seorang sopir bemo, yang kemudian juga jadi sopir angkot.
Dikatakan Ludi, pekerjaan menjadi sopir angkot itu dia lakukan mulai setelah magrib hingga sekitar pukul 23.00. Selama menjadi sopir inilah dia punya banyak pengalaman hidup yang berharga. Karena menurutnya, harus berani menghadapi berbagai kendala.
“Kadang berurusan dengan preman, kadang kucing-kucingan dengan sesama sopir ketika mencari penumpang dan masalah lainnya. Kesimpulannya, kehidupan di lapangan itu keras dan kita harus tetap berjuang dengan ikhlas menjalaninya,” terangnya.
Kemudian menjelang lulus kuliah pada 1997 Ludi mencari lowongan kerja di koran. Dia lalu melamar di Bank Prekreditan Rakyat (BPR) Dana Lestari Kepanjen Kabupaten Malang. Selama sekitar 10 bulan dia pulang pergi dari Batu ke Kepanjen. Di BPR itu Ludi bekerja sebagai account officer (AO).
“Kerja saya waktu itu keliling menawarkan kredit calon nasabah, selama di BPR ini saya banyak mendapatkan ilmu tentang pembukuan keuangan. Sampai saat ini saya gunakan di perusahaan saya yang sekarang,” terang dia.
Setelah itu, masih kata Ludi, dirinya berpindah kerja di PT Pratama Sumber Milindo di Surabaya mulai 1999 hingga 2002. Perusahaan itu bergerak di bidang pupuk dan pestisida tetapi skalanya masih Jawa Timur. Kemudian mulai tahun 2002 dia pindah ke PT Santai Agrolestari hingga 2011.
Karena kesuksesannya, bapak dengan empat anak, yaitu Gibran M Daffa, Hasna Aisyah Larasati, Rangga Moh Jabir dan Fahima Aisyah Kinanti Ludi, membangun perusahaan yang pemilik dan direkturnya dia sendiri.
“Nama PT perusahaan saya Trans Agro Sembada, bergerak di bidang pupuk dan obat-obatan pestisida untuk pertanian, para customer saya rata-rata memang dari teman lama,” urainya.
Namun, karena sosok Ludi yang selama ini dikenal baik dan aktif di masyarakat diapun pada akhirnya dilirik partai untuk mencalonkan diri sebagai wakil rakyat di DPRD Kota Batu.
Bak gayung bersambut, Dewi Fortuna rupanya berpihak kepada Ludi. Ya, betapa tidak, pasalnya sulung dengan tiga saudara ini terpilih menjadi wakil rakyat melalui Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Tak ayal, dia pun dengan mulus terpilih sebagai anggota dewan, termasuk ketika mencalonkan lagi pada 2019, alhasil atas doa restu orangtuanya dia lagi-lagi lolos, hingga puncaknya kini menjadi ketua Fraksi PKS di DPRD Kota Batu.
Selama dua periode menjabat sebagai anggota dewan, Ludi mengaku jabatannya itu semata-mata dia jadikan cara untuk mengabdi kepada masyarakat. Alasannya dari sisi finansial, Ludi merasa sudah cukup dari bisnisnya itu. Selain itu, bagi dia hidup tanpa pengabdian dengan melayani rakyat itu terasa kurang bermakna dan bermanfaat.
Lebih jauh, suami Arlik Juwita ini mengungkapkan, bahwa saat ini ada sekitar puluhan karyawan yang semuanya warga Junrejo sehari-hari bekerja di pabrik tempat produksi nutrisi tanaman tersebut.
“Ada 20 merek lebih yang kami produksi, diantaranya Versus, Golden Gibb, Cabion, Combo, Mikroplex Pure-K dan masih banyak lagi. Produk-produk juga sudah kita kirim ke berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari seluruh Jawa, Sumatera, Sulawesi NTB, NTT dan berbagai wilayah lainnya,” ungkapnya.
Dengan hanya bermodalkan relasi dan kepercayaan orang lain, Ludi bisa bertahan dan mengembangkan usahanya di bidang pertanian. Namun, tidak seperti kebanyakan pengusaha yang membangun usahanya dengan modal yang besar.
“Alhamdulilah, saya bisa bertahan hingga saat ini karena bermodalkan relasi dan kepercayaan orang lain. Artinya memang tanpa modal. Kalau dulu memang tidak percaya, tapi modal kepercayaan dari orang lain yang memberi barang kepada kita, kemudian kita jual lagi ternyata laku, dan dari barang yang laku itulah ada hasil laba yang kemudian saya kembangkan untuk memulai usaha,” paparnya.
Tidak berhenti disitu saja, keberhasilannya dalam mengembangkan usaha karena adanya mentor, yang telah banyak mengajarinya ketika memulai sebuah usaha.
“Ya, selain itu saat memulai usaha saya banyak dapat ilmu dari mentor, di dalam pekerjaan yang kita lakukan apapun itu, seyogyanya kita hal yang pertama memang harus mencintai dulu pekerjaan kita. Kemudian, tentunya kita harus mengutamakan kejujuran, karena kejujuran adalah hal yang tidak kalah penting. Kalau orang tidak pintar itu bisa belajar. Tapi kalau orang tidak jujur, maka akan merusak segalanya. Begitu pula dalam kita bekerja,” ungkapnya.
Terakhir, Ludi Tanarto berpesan kepada pebisnis yang memulai usahanya dari nol, ketika jatuh saat membangun bisnis jangan melihat ke kanan kiri atau jangan pindah bisnis.
“Artinya seorang dalam memulai bisnis jangan takut rugi, akan tetapi harus mengoptimalkan dan tetap optimis serta yakin akan hasil yang didapat, dimana tujuannya tentunya agar dapat meraih kesuksesan dalam menjalankan sebuah bisnis,” tutupnya sembari berpesan. (Yan)
