
Surabaya, kabarterdepan.com- Melihat kota sebagai tempat yang keras, persaingan, dan tantangan sekaligus menyimpan harapan, cita-cita dan impian, membawa sosok ini untuk berani mengadu nasib, merantau menjuku kota metropolitan terbesar ke-2 di Indonesia, Surabaya.
M. Bambang Edi Siswanto, M.Pd., adalah sosok tersebut. Pria yang berasal fari sebuh desa di Tuban Jawa Timur tersebut mengawali kisahnya di Surabaya. Semua bermula dari keinginanya menimba ilmu.
Sejak usia belia, Bambang kecil memang sudah memiliki keinginan kuat untuk terus belajar. Tidak hanya dalam hal ilmu pengetahuan umum, tetapi juga ilmu pengetahuan agama. Tumbuh di lingkungan desa yang agamis di sebuah kabupaten yang terkenal dengan julukan Bumi Wali, Tuban.
Bermula pada 2006 ketika Bambang masuk pertama kali di universitas negeri Surabaya (Unesa) untuk menempuh program studi D-2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Ia kemudian lulus pada 2010.
Karena berasal dari keluarga petani dengan ekonomi menengah ke bawah, Bambang harus berjuang membiayai perkuliahannya melalui jalur tes Non Regular dengan UKT sebesar 1,5 Juta.
Penjaga Perpustakaan
Untuk membiayai perkuliahannya tersebut, pria kelahiran 14 Februari 1987 harus bekerja sambil kuliah, bahkan sempat berganti-ganti pekerjaan. Ketika selesai menempuh semester 1 perkuliahaan, Bambang diterima bekerja menjadi petugas perpustakaan di MI KH.Abu Mansur selama 1 tahun. Tidak hanya bekerja dan berkuliah, Bambang juga menjalani kesehariannya sebagai seorang santri di Pondok Pesantren Sabilillah Surabaya.
“Dengan menekuni ilmu agama saya juga bisa membagikan ilmu sebagai guru ngaji selain sebagai penjaga perpustakaan. Saya juga sempat mengajar pramuka pada jumat dan sabtu di 5 pangkalan, yakni: SMPN 17 Surabaya, SDN Babatan 5 Surabaya, MIN At-Taufiq Surabaya, SDN Manukan Surabaya dan SDN Kebonsari Suarabaya” ucapnya menceritakan kisahnya, Sabtu (28/12/2024).
Berkat perjuangan yang tak mudah, Bambang mampu menamatkan studi D-2 di Unesa. Selepas lulus, dirinya juga langsung mendapat pekerjaan sebagai staf pengajar di SDIT At-Taqwa Babatan Mukti Surabaya selama 2 tahun. Hingga kemudian terdapat peraturan bahwa guru harus minimal lulusan S-1 hal ini membuat Bambang harus berkuliah kembali.
“Sambil mengajar di SDIT At-Taqwa, saya kuliah S-1 pada 2010 hingga lulus S-1 saya pindah kerja di Dinas Pendidikan Kota Surabaya sebagai konsultan, mengisi pelatihan, setelah menambah kuliah profesi konsultan selama 6 bulan,” terangnya.
Kuliah S3
Melihat bahwa tuntutan keahlian dunia kerja yang semakin ketat, Pria 37 tahun itu kemudian nekat melanjutkan S-2 ketika masih bekerja sebagai konsultan. Berbagai tantangan selama S-2, termasuk masalah biaya, bahkan bambang harus mengambil pekerjaan tambahan sebagai seorang MC. Perjuangan itupun berbuah manis, selepas S-2 bambang diterima sebagai dosen yang menjajar di Program Studi S-1 PGSD, Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) pada 2016. Di Unhasy inilah setelah mengabdikan diri selama 2 tahun Bambang berhasil mengumpulkan dana untuk melanjutkan studi kuliah S3 di Unesa.
Bagi Bambang, pendidikan tidak akan ada habisnya, dalam kehidupan manusia mulai dari lahir hingga meninggal tidak bisa terlepas dari pendidikan atau menuntut ilmu. Unesa bagi Bambang merupakan rumah tempat belajar dan kembali untuk mengabdi, berbakti, dan berbagi ilmu pengetahuan yang ia dalami.
“Karena berada di pondok, konsep hidup sederhana itu tertanam, susah menjadi bagaian dari hidup, karena keluarga saya juga bukan keluarga yang berada, maka hal ini sudah membiasakan saya untuk berjuang, tidak gampang mengeluh. Alhamdulillah ada orang tua yang selalu mendukung saya,” terangnya.
“Tidak ada yang mudah selama studi D-2 hingga S-3, berbagai pekerjaan saya tekuni mulai dari penjaga perpustakaan, pelatih pramuka, konsultan, guru ngaji, hingga MC,” imbuh Bambang.
Sekali lagi, perjuangan Bambang tidak sia-sia, dirinya berhasil diterima sebagai dosen di almamaternya Unesa pada 2023 hingga sekarang.
Bambang ingat, momen yang tak pernah bisa ia lupakan, ketika pertama kali mengutarakan niat kuliah, orang tuanya hanya bisa membiayai sejumlah Rp 250 ribu. Hingga Bambang dan orang tua nya membuat kesepakatan jika tidak bisa membayar UKT maka harus berhenti berkuliah. Hal tersebut yang memotivasi Bambang terus berusaha, melakukan berbagai pekerjaan demi menggapai impian.
“Saya masih ingat dulu harus berjuang ketika mau berangkat kuliah dari Tuban naik bis ke Surabaya, itu saya pakai seragam sekolah SMA agar bisa mendapatkan potongan harga separuh ongkos bis. Saya hanya bayar 2.500, saya ngomong ke kondekturnya kalau anak sekolah. Setelah sampai Terminal Bungurasih saya ganti baju,” kenangnya.
Doa Orang Tua
Bambang yakin, yang menjadikannya seperti sekarang adalah doa. Doa kedua orang tua, doa kepada sesepuh kakek neneknya, doa dari guru-gurunya, doa dari para kiyai selama di pondok, dan doa semua orang disekitarnya.
“Ketika kita menyambung silaturahmi, mendoakan orang tua kita yang telah meninggal, itu akan menjadi amal jariyah, doa baik yang kita lantunkan akan kembali kepada kita sendiri. Keikhlasan ayah saya sebagai anak pertama yang tidak lanjut sekolah demi membiyayai adik-adiknya bisa sekolah, juga menjadi keberkahan yang saya rasakan sekarang” terangnya.
Ke depan, Bambang berharap agar masyarakat pesantren yakni santri, harus bisa mewarnai dunia akademis di bangku perkuliahan. Dia yakin bahwa mengubah nasib itu wajib bagi seorang anak desa.
Menurutnya, tidak akan mampu mengubah peradaban dunia jika seseorang tidak merantau. Dengan merantau seseorang paham bagaimana keadaan di luar daerahnya, kehidupan yang kompetitif, perjuangan, dan dinamika kota. Dia juga menyadari bahwa sebagai dosen, dirinya memiliki tanggung jawab untuk punya andil bermanfaat bagi masyarakat desanya.
“Tantangan saya sebagai dosen, harus mengadakan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di desa saya. Ini bisa dilakukan salah satunya ketika saya masuk di komunitas mahasiswa dari Tuban. Ibarat kacang tidak lupa kulitnya. Memberikan kebermanfaatan bagi desa, untuk menginspirasi anak-anak desa. Apapun kegiatannya kebermanfaatan harus dirasakan orang banyak” tukasnya. (Steven)
