Kelola Aset Negara Rp14 Ribu Triliun, Hasan Nasbi Ungkap Alasan Dibentuknya Danantara

Avatar of Redaksi
Screenshot 2025 02 25 081029
Potret Kepala Komunikasi Kepresidenan atau Presidential Communication Office (PCO) Hasan Nasbi. (Sekretariat Presiden / Kabarterdepan.com)

Jakarta, Kabarterdepan.com – Pemerintah resmi membentuk Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sebagai instrumen percepatan pembangunan guna mengatasi paradoks yang masih terjadi di Indonesia.

Kepala Komunikasi Kepresidenan atau Presidential Communication Office (PCO), Hasan Nasbi, menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai terpanjang, memiliki 17 ribu pulau, serta tutupan hutan tropis yang luas.

Selain itu, Indonesia kaya akan sumber daya alam, termasuk deposit nikel terbesar, dominasi pasar sawit dunia, serta melimpahnya produk laut dan perikanan. Dengan potensi tersebut, menurutnya, Indonesia seharusnya dapat menjadi negara yang makmur.

“Ini ikhtiar pemerintah untuk menyelesaikan paradoks Indonesia, seperti yang dituliskan Presiden Prabowo Subianto dalam buku beliau. Tidak perlu didebat lagi, bangsa kita kaya, harusnya kita lebih makmur. Tetapi kenyataannya, sampai 80 tahun Indonesia berdiri masih ada ketimpangan, masih ada masyarakat yang miskin, masih ada yang belum bisa makan, masih ada wilayah yang tertinggal pembangunan. Ini semua harus segera diselesaikan. Jadi paradoks Indonesia harus diselesaikan,” ujar Hasan di Istana Kepresidenan, Senin (24/2/2025).

Hasan menjelaskan bahwa pembentukan Danantara bertujuan untuk mengkonsolidasikan kekuatan dan kekayaan negara dalam rangka memperkuat penguasaan industri strategis. Ia menekankan bahwa hal ini selaras dengan mandat Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 Ayat 3, yang berbunyi: ‘Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.’

Namun, Hasan menyayangkan fakta bahwa selama ini sebagian besar sumber daya alam Indonesia masih diekspor dalam bentuk mentah, sehingga nilai tambah serta keuntungannya tidak sepenuhnya dinikmati oleh bangsa sendiri.

“Danantara nanti akan membiayai sendiri bidang industri strategis, antara lain untuk hilirisasi nikel, kobalt, untuk mengembangkan kecerdasan buatan, untuk pembuatan kilang-kilang minyak dan industri pendukungnya, yang akan menopang bangsa Indonesia melompat sebagai negara maju dengan pertumbuhan ekonomi 8 persen,” jelasnya.

Peluncuran Danantara menjadi bagian dari perayaan ulang tahun ke-80 Indonesia pada tahun ini. Dengan badan investasi ini, kekuatan dan kekayaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan dikonsolidasikan ke dalam satu entitas pengelola investasi.

Danantara sendiri nantinya akan mengelola aset negara senilai Rp14 ribu triliun dan bukan sekadar lembaga pengelola investasi tetapi juga instrumen utama dalam mendorong pembangunan dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 sebagai negara maju dengan kesejahteraan merata. (Riris*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page