
Mojokerto, Kabarterdepan.com – Sebuah jembatan di Dusun Sumberkembar, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto kembali ambruk setelah penyangga jembatan tergerus air sungai. Akibatnya, warga sekitar harus kembali putar balik sejajth tiga kilometer untuk beraktifitas.
Jembatan sepanjang 25 meter dan lebar 3 meter yang dibangun dari rangka besi baja serta penyangga batu itu runtuh akibat tergerus air. Kondisi jembatan di Kutorejo yang sebelumnya sudah melemah semakin diperparah oleh meningkatnya debit sungai usai hujan intensitas sedang hingga lebat.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto, Abdul Hakim, membenarkan kejadian jembatan ambruk di Kutorejo itu saat dikonfirmasi melalui pesan singkat. Ia menyebut peristiwa itu terjadi sekitar pukul 16.00 WIB.
“Berdasarkan pantauan aplikasi BMKG Juanda, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat terjadi di wilayah Kabupaten Mojokerto sehingga debit aliran sungai meningkat,” ungkapnya, Rabu (19/11/2025) malam.
Putusnya jembatan kini memutus total akses antara Dusun Wonokerto dan Dusun Sumberkembar. Meski tidak ada korban jiwa, aktivitas warga terganggu lantaran tidak tersedia jalur alternatif yang dapat dilalui kendaraan.
“Kondisi jembatan yang sudah tergerus turut memperparah situasi hingga akhirnya jembatan terputus,” jelasnya.
BPBD Kabupaten Mojokerto langsung menurunkan tim untuk melakukan peninjauan dan kaji cepat di lokasi.
“Tim langsung kami kerahkan ke lokasi kejadian untuk memastikan kondisi di lapangan,” tambahnya.
Hingga saat ini, jembatan tersebut masih belum dapat dilintasi. BPBD juga mengimbau warga agar menjauhi area sekitar jembatan mengingat struktur yang dinilai tidak aman.
Sementara itu, Plt Kadis PUPR Kabupaten Mojokerto, Anik Mutammima Kurniawati, mengatakan pihaknya sudah berada di lokasi dan tengah mengambil langkah awal penanganan.
“”Kami saat ini di lokasi untuk melakukan penutupan akses agar tidak sampai ada warga yang mendekat,” katanya.
Sebelumnya, pada pertengahan bulan Maret 2025 lalu jembatan ini terputus setelah diterjang air hujan. Tak berselang, pada Kamis (6/11/2025) kemarin, penahan jembatan yang terbuat dari bronjong batu dan besi dilokasi yang sama sempat tergerus.
Desa Wonodadi
Desa Wonodadi di Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, merupakan salah satu kawasan agraris yang terus menunjukkan dinamika perkembangan sosial-ekonomi. Dengan karakter geografis yang didominasi lahan pertanian dan permukiman, desa ini menjadi representasi kuat kehidupan pedesaan Mojokerto yang tetap menjaga identitas lokal di tengah arus modernisasi.
Letak dan Kondisi Geografis
Desa Wonodadi berada di wilayah timur Kutorejo, kecamatan yang secara geografis berada di bagian selatan Kabupaten Mojokerto. Kontur wilayah Kutorejo relatif bervariasi, mulai dari dataran landai hingga perbukitan ringan sehingga membentuk pola permukiman yang tersebar.
Beberapa titik memiliki tingkat kerentanan terhadap cuaca ekstrem, terutama pada musim hujan ketika aliran sungai dan anak sungai di area selatan Mojokerto mengalami peningkatan debit.
Posisi Desa Wonodadi yang dilalui jalur penghubung antardesa menjadikannya area vital mobilitas warga. Infrastruktur jalan dan jembatan menjadi aspek krusial yang selalu mendapat perhatian, terlebih setelah beberapa kejadian longsor maupun kerusakan jalan akibat musim penghujan yang deras.
Kecamatan Kutorejo
Kutorejo adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Mojokerto yang berada di timur. Kutorejo dilintasi jalur strategis yang menghubungkan ibukota Kabupaten Mojokerto yaitu Mojosari di utara dengan kawasan wisata populer di selatan yaitu Kecamatan Pacet dan sekitarnya.
Di sepanjang jalan tersebut terdapat banyak industri besar seperti pabrik krimer (PT LNK) hingga pabrik bir bintang.
Pusat kecamatan Kutorejo berada di Desa Kutorejo yang terdapat Pasar Kutorejo yang ramai dan ikon kecamatan berupa monumen batu besar (Watu Gede) di tengah pertigaan untuk memperingati jasa Kompi Macan Putih Batalyon 504/Merak pimpinan Soemadi melawan agresi militer Belanda tahun 1948.
Selain industri besar, Kutorejo juga terdapat industri batu bata yang tersebar di berbagai desa seperti Karangdiyeng dan Kepuhpandak.
Tercatat pada tahun 2015, terdapat sekitar 400 perajin batu bata dan jumlahnya terus menurun dengan berkurangnya jumlah bahan tanah liat yang diambil dari lahan pertanian.
Kegiatan tersebut juga terancam oleh aktivitas tambang pasir batu yang dianggap merusak lingkungan tempat para perajin bekerja sehingga banyak didemo warga.
