
Jombang, Kabarterdepan.com – Sebuah peta tua memicu diskusi hangat mengenai asal-usul dan identitas Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Dalam dokumen lawas tersebut, titik yang kini dikenal sebagai wilayah Jombang tertulis dengan nama “Tryk Madjapait”. Temuan ini dinilai bisa menjadi kunci untuk merumuskan Hari Jadi Jombang dengan semangat sejarah yang lebih besar.
Peta Tua Bertuliskan “Tryk Madjapait”
Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang, Arif Yulianto atau yang akrab disapa Cak Arif, menegaskan bahwa kebesaran Majapahit yang pernah menyatukan Nusantara seharusnya menjadi fondasi “spirit” bagi Jombang.
“Pendapat saya, kalau kita mau mengambil spirit sejarah, ambillah sekalian yang besar. Ini penting sebagai tetenger (penanda). Spirit yang besar akan melahirkan semangat dan kebanggaan kolektif bagi masyarakat Jombang,” ujar Cak Arif, Kamis (12/2/2026).
Menurut Cak Arif, Jombang bukan sekadar wilayah pinggiran, melainkan bagian integral dari jantung pertahanan dan kebudayaan Majapahit. Hal ini dibuktikan dengan melimpahnya temuan arkeologis di berbagai sudut kota.
“Banyak sekali temuan benda bersejarah era Majapahit di Jombang. Ini bukan kebetulan, tapi menunjukkan bahwa Jombang adalah wilayah vital pada masa itu. Kita punya Candi Rimbi di sisi selatan, lalu bergeser ke utara ada Petirtaan Sumberbeji yang meski diduga dibangun sejak era Kadiri, namun terus difungsikan hingga puncak kejayaan Majapahit,” jelasnya.
Ia juga menunjuk temuan-temuan di museum mini Disdikbud Jombang sebagai bukti fisik yang tak terbantahkan. Bahkan, di wilayah Kesamben, ditemukan patok-patok batu yang identik dengan penanda wilayah Sima atau daerah bebas pajak.
“Patok-patok di Kesamben itu tipologinya mirip dengan yang ada di Klintirejo, Mojokerto. Artinya, status wilayah ini di masa lalu sangat istimewa,” tambah Cak Arif.

Dari Sastra Panji hingga Pelarian Raja
Tak hanya benda mati, jejak Majapahit juga hidup dalam seni tradisi. Salah satunya adalah Wayang Topeng Jatiduwur.
“Ada pendapat kuat bahwa Jatiduwur adalah bagian dari instrumen Panji. Perlu diingat, Panji adalah sastra asli Nusantara. Ini adalah simbol kemandirian bangsa kita dalam bidang sastra di era itu,” tuturnya.
Petualangan sejarah Jombang semakin kuat saat menoleh ke utara Brantas, tepatnya di Dusun Bedander, Kecamatan Kabuh. Cak Arif menyebut adanya temuan dorpel (ambang pintu) rumah yang diduga milik Ki Bedander, serta ritual Pager Banon.
“Bedander memiliki nilai sejarah tinggi. Di sinilah diyakini Raja Jayanegara pernah disembunyikan oleh Pasukan Bhayangkara di bawah pimpinan Gajah Mada saat terjadi pemberontakan Ra Kuti. Narasi besar seperti ini seharusnya masuk dalam pertimbangan identitas Jombang,” pungkasnya.
Hingga saat ini, Kabupaten Jombang memang belum memiliki Hari Jadi resmi yang merujuk pada peristiwa sejarah klasik. Sejauh ini, pemerintah daerah baru menetapkan Hari Jadi Pemerintah Kabupaten Jombang pada 21 Oktober, yang merujuk pada pelantikan bupati pertama pada tahun 1910.
“Dengan munculnya fakta-fakta sejarah seperti Tryk Madjapait, tantangan kini beralih kepada pemangku kebijakan, apakah akan tetap menggunakan rujukan era kolonial, atau berani menarik garis sejarah jauh ke belakang saat Jombang menjadi bagian dari kejayaan Majapahit,” pungkasnya. (Karimatul Maslahah)
