
Sragen, kabarterdepan.com –
Getuk merupakan makanan tradisional jaman dulu (Jadul) yang terbuat dari bahan utama yakni ketela pohon atau singkong.
Namun, di tangan Dyah Nur Laily Fathonah warga Puro, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen, makanan ini dikemas ulang lebih modern agar lebih menarik dan lebih bisa dinikmati oleh semua kalangan.
Bahkan Getuk Presiden kini menjadi salah satu ikon oleh-oleh khas Kabupaten Sragen yang diincar oleh pecinta kuliner Getuk dari berbagai daerah di Indonesia.
Dikemas dengan tagline “Getuk Presiden atau Presidennya Getuk” ini terbukti mampu menjadi pioner gethuk di Sragen dan mampu menembus pasar se- Provinsi Jawa Tengah.
Hal itu terbukti Getuk Presiden saat ini telah memiliki 13 cabang yang tersebar di seluruh daerah seperti Kabupaten Sragen sendiri hingga Blora, Cepu dan Rembang.
Pemilik Gethuk Presiden ini menuturkan, jika perjalanannya mencapai titik saat ini tidaklah mudah, berawal dari niat melamar menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Namun, ternyata tidak bisa terwujud. Hal itu rupanya membuat dirinya harus memutar otak untuk terap berpenghasilan meskipun gagal dalam meraih cita-citanya.
“Kondisi saat itu harus tetap tegar, karena dapur harus tetap ngebul akhirnya saya menggunakan alat seadanya untuk mulai berjualan,” kata wanita yang akrab dipanggil Lely ini.
Lely menceritakan bahwa waktu memulai, dirinya tidak berjualan getuk. Namun hanya berjualan tahu bakso sembari melayani pesanan katering.
“Dulu saya titipkan tahu bakso ke warung-warung di sekitar sini, dan saya bawa ke kampus untuk diletakkan di kantin kejujuran,” ujarnya.
“Seiring waktu, usaha jualan saya tambah dengan makanan ringan tradisional yang bahannya mudah didapat yakni Gethuk,” beber Lely saat dikonfirmasi Sabtu (8/3/2025).
Diketahui, selain Getuk Presiden dan tahu bakso, usaha Ibu Lely juga memproduksi Jadah Presiden, Lumpia, Sosis Solo, dan Aneka Roti.
“Penjualan Getuk Presiden bisa mencapai omset 25-35 juta perbulan, atau 3 juta per hari setiap outletnya,” terangnya.
Lely menuturkan, jika getuk produksi mereka sangatlah istimewa karena tidak menggunakan bahan pengawet, tekstur lebih lembut dan memiliki berbagai varian, sehingga Getuk Presiden disukai oleh semua kalangan.
Lely mengaku, jika usaha produksi Gethuk Presiden yang ia rintis hingga saat ini mampu menyerap puluhan tenaga kerja yang berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Sragen.
“Hingga saat ini jumlah keseluruhan karyawan ada sekitar 60 karyawan,” tuturnya.
Direktur Getuk Presiden ini juga berpesan kepada anak-anak muda di Kabupaten Sragen untuk mencintai pekerjaan dan memunculkan ide kreatif disetiap bidang usaha, sebab hasil kerja keras tidak akan menghianati hasil.
“Cintai dunia usahamu dan teruslah berkarya sesuai dengan passionmu,” pungkasnya. (Masrikin)
