Hasil Panen Kedelai di Jombang Tak Sesuai Harapan, Berikut Curhatan Petani

Avatar of Redaksi
panen kedelai
Petani kedelai di Kecamatan Kesamben, Jombang, memanen hasil tanamannya di tengah cuaca ekstrem. (Karimatul Maslahah/Kabarterdepan.com)

Jombang, Kabarterdepan.com – Harapan besar para petani kedelai di Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur pupus sudah. Cuaca ekstrem yang melanda dalam beberapa pekan terakhir membuat hasil panen kedelai tak sesuai harapan.

Fenomena kemarau basah yakni hujan lebat yang datang di tengah musim kemarau menyebabkan tanaman kedelai tak tumbuh optimal. Akibatnya, hasil panen turun, sementara harga jual di tingkat petani justru anjlok.

Hasil Panen Kedelai

WhatsApp Image 2025 11 13 at 7.35.14 AM

Miskun, petani asal Desa Podoroto, mengaku kecewa dengan hasil panen kali ini. Selain jumlahnya berkurang, kualitas kedelai juga tidak sebagus tahun lalu.

“Menjelang panen harga kedelai turun di kisaran Rp6.000 per kilogram. Padahal biasanya bisa sampai Rp14 ribu. Panen kali ini ya cuma cukup buat biaya. Daripada sawah tidak ditanami, ya tetap tanam kedelai walau hasilnya pas-pasan,” keluhnya, Kamis (13/11/2025).

Ia menambahkan, biaya produksi semakin tinggi seiring naiknya harga bibit dan tenaga kerja.

“Biaya tanam mulai bibit sampai tenaga kerja sekitar Rp1,5 juta. Panen juga butuh biaya besar. Soal untung belum tahu, karena baru dipanen dan hasilnya belum dihitung,” ujarnya.

Menurut para petani, kondisi cuaca yang tak menentu menjadi penyebab utama penurunan produksi. Panas terik yang tiba-tiba disusul hujan deras membuat bunga kedelai banyak yang rontok dan polong tidak terisi penuh.

“Kedelai ini tanaman yang manja. Kalau kebanyakan air, akarnya busuk. Kalau terlalu panas, bunganya rontok. Sekarang cuacanya sulit diprediksi, kami cuma bisa pasrah,” ungkap Miskun.

Anasrul Hakim, Koordinator Wilayah Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kesamben, membenarkan bahwa cuaca kemarau basah berdampak langsung terhadap produktivitas kedelai di wilayahnya.

“Di Kecamatan Kesamben ada pola tanam padi–padi–bero atau padi–padi–kedelai. Dari total 4.125 hektare, sekitar 1.300 hektare merupakan lahan bero. Biasanya dimanfaatkan untuk menanam kedelai,” jelasnya.

Namun, program Optimalisasi Lahan (OPLAH) tahun ini harus menghadapi tantangan besar karena kondisi tanah terlalu lembap.

“Musim ini kemarau basah, jadi meskipun ada program OPLAH, kandungan air terlalu tinggi. Itu membuat isi polong kedelai tidak maksimal. Harapannya nanti harga bisa menolong,” ujarnya.

Ia menambahkan, di Desa Podoroto saja, dari 9 hektare lahan yang mulai dipanen, hasilnya turun jauh dari tahun sebelumnya.

“Produktivitasnya menurun. Dari lahan sekitar 1.400 meter persegi hanya menghasilkan sekitar 4 kuintal. Tahun kemarin hasilnya lebih bagus,” katanya. (Karimatul Maslahah)

Responsive Images

You cannot copy content of this page