
Jawa Timur, Kabarterdepan.com – Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) baru-baru ini berhasil mengungkap keberadaan dua ekor macan tutul Jawa yang terdeteksi melalui pemasangan kamera jebak (camera trap) pada Kamis, 23 Januari 2025.
Penemuan ini menjadi sangat menarik karena kedua macan tutul tersebut memiliki postur tubuh yang berbeda, yang diduga menunjukkan bahwa salah satunya adalah induk dan satunya lagi adalah anak.
Ketika dimintai keterangan, Ketua Tim Data Evaluasi Kehumasan TNBTS, Hendra Wisantara, mengungkapkan bahwa informasi mengenai keberadaan kedua macan tutul tersebut berasal dari hasil rekaman gambar yang dihasilkan oleh kamera jebak yang dipasang di kawasan TNBTS.
Hendra menambahkan bahwa meskipun hasil gambar tersebut sudah diunggah ke media sosial Instagram TNBTS, berupa potongan gambar yang menunjukkan keberadaan kedua macan tutul, namun laporan lengkap beserta video utuhnya masih dalam penguasaan tim yang menangani.
Sebelumnya, pada 16 Januari 2025, pihak TNBTS telah mempublikasikan sebuah video di akun Instagram resmi mereka (@bbtnbromotenggersemeru), yang menampilkan kedua macan tutul Jawa tersebut sedang beraktivitas di bawah rimbunnya pepohonan di kawasan TNBTS.

Dalam video tersebut, terlihat jelas bahwa kedua macan tutul memiliki perbedaan postur tubuh yang signifikan.
Perbedaan ini memunculkan dugaan bahwa satu macan tutul tersebut merupakan induk, sementara yang lainnya adalah anaknya.
Ciri khas macan tutul Jawa yang ditemukan di TNBTS juga cukup berbeda dari macan tutul pada umumnya.
Meskipun secara umum dikenal dengan nama macan tutul, kedua ekor macan tutul Jawa yang terlihat dalam video tersebut tidak menunjukkan corak tutul pada kulit mereka, melainkan memiliki warna kulit hitam pekat yang menyelimuti tubuh mereka.
Fenomena ini disebabkan oleh kelainan genetik yang disebut melanisme, yang merupakan kondisi di mana hewan memiliki kelebihan pigmen gelap pada kulit atau tubuh mereka.
Melanisme terjadi akibat mutasi genetik yang meningkatkan produksi melanin, pigmen yang bertanggung jawab atas warna gelap pada kulit atau bulu hewan tersebut.
Hal ini juga diungkapkan oleh pihak TNBTS dalam caption pada unggahan Instagram mereka yang menjelaskan bahwa macan tutul Jawa dengan kondisi melanisme ini memiliki warna hitam pekat, meskipun dalam intensitas cahaya tertentu, pola tutul pada tubuh mereka masih tetap terlihat, meskipun lebih samar.
Upaya pencarian macan tutul Jawa di kawasan TNBTS sudah dilakukan sejak tahun 2024.
Pihak TNBTS, bekerja sama dengan Yayasan Sintas Indonesia, melakukan pemantauan secara rutin untuk mengidentifikasi keberadaan dan jumlah populasi macan tutul Jawa di kawasan tersebut.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan sejak Juni 2024, diperkirakan terdapat sekitar 24 ekor macan tutul Jawa yang berkeliaran di zona TNBTS.
Meskipun demikian, Hendra Wisantara menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu informasi lebih lanjut dari petugas lapangan mengenai titik-titik kemunculan macan tutul Jawa yang terpantau tersebut.
Namun, Hendra juga menegaskan bahwa informasi mengenai lokasi dan waktu kemunculan macan tutul Jawa tersebut tidak akan dipublikasikan untuk menjaga kerahasiaan demi melindungi hewan langka ini dari ancaman perburuan liar.
“Karena kami khawatir keberadaan macan tutul Jawa ini bisa menjadi sasaran perburuan liar, maka data-data yang terkumpul mengenai titik dan waktu kemunculannya tidak akan kami sebarluaskan,” ungkap Hendra.
Pernyataan ini menunjukkan upaya serius dari pihak TNBTS untuk melindungi macan tutul Jawa, yang merupakan satwa yang terancam punah, dari bahaya perburuan ilegal yang dapat mengancam kelestariannya di alam liar.
Sebagai informasi tambahan, macan tutul Jawa, yang juga dikenal dengan nama Matulja, adalah satwa endemik yang hanya dapat ditemukan di Pulau Jawa, Pulau Kangean, dan Pulau Nusakambangan.
Macan tutul Jawa ini berperan sebagai predator puncak dalam ekosistem hutan di Jawa, yang telah hidup sejak ribuan tahun yang lalu.
Saat ini, macan tutul Jawa tergolong sebagai satwa yang dilindungi oleh undang-undang, mengingat keberadaannya yang semakin terancam.
Sebaran keberadaan Matulja tercatat mulai dari Taman Nasional Ujung Kulon di Provinsi Banten hingga Taman Nasional Alas Purwo di Provinsi Jawa Timur.
Sebagian besar populasi macan tutul Jawa ini hidup di kawasan-kawasan konservasi, seperti taman nasional dan cagar alam, termasuk di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Macan tutul Jawa memiliki dua variasi warna bulu, yaitu berwarna gelap seperti macan kumbang yang sering disebut sebagai “macan kumbang” dan berwarna terang seperti macan tutul pada umumnya.
Meskipun berbulu gelap, macan kumbang tetap memiliki corak tutul yang dapat terlihat dalam kondisi cahaya tertentu.
Keberadaan macan tutul Jawa di TNBTS, dengan bulu gelap khasnya, memberikan gambaran betapa unik dan langkanya spesies ini, serta betapa pentingnya upaya konservasi yang dilakukan untuk melindungi mereka dari ancaman yang ada. (Tantri*)
