
Padang, Kabarterdepan.com – Peristiwa yang melibatkan seorang gadis berusia 14 tahun di Padang Sidimpuan, Sumatera Utara, telah memicu kontroversi dan perhatian besar di media sosial untuk meminta keadilan. Senin (11/11/2024).
Meskipun seharusnya menjadi korban, gadis ini justru dijadikan tersangka oleh pihak kepolisian setelah menerima video tak pantas yang dikirimkan oleh anak seorang pejabat di kota tersebut.
Ayah korban, TS Pardede, menyampaikan permohonan keadilan secara terbuka, mengungkapkan rasa frustrasinya dan ketidakadilan yang dialami keluarganya.
“Kami hanya ingin keadilan, Pak, karena bukan anak kami yang bersalah,” ujar TS Pardede dengan suara penuh harap.
Keluarga korban telah berupaya untuk menyelesaikan masalah ini dengan damai melalui mediasi bersama keluarga pelaku, Julpan Tambunan. Namun, upaya ini gagal memberikan hasil positif, bahkan situasi menjadi semakin rumit.
TS Pardede menyampaikan bahwa sudah berupaya meminta damai, tapi malah dilawan.
“Kami sudah mencoba berdamai di rumah keluarga Julpan Tambunan, tapi akhirnya dia malah melawan. Tidak ada jalan keluar yang kami temukan,” paparnya.
Sejak kejadian ini, keluarga korban terus berusaha mencari keadilan, meskipun proses tersebut penuh tantangan.
Situasi semakin pelik ketika, sebelum status tersangka diberikan kepada gadis ini, ia menerima somasi dari seorang pengacara dan dosen di kota itu, yang bertindak mewakili pihak keluarga pengirim video. Meskipun usianya masih sangat muda, anak ini kini menghadapi tekanan hukum yang sangat berat. Ayahnya berupaya keras membela putrinya, bahkan dengan membawa rekaman video sebagai bukti ke Polres dan Polda Sumatera Utara. Sayangnya, usaha TS Pardede untuk mengajukan bukti tersebut tidak diterima oleh kepolisian.
“Bukti yang kami miliki bahkan tidak diterima di Polres maupun di Polda, padahal kami menyerahkan rekamannya sebagai bagian dari upaya mencari keadilan,” tambah TS Pardede.
Menyadari ketidakadilan yang mereka alami, TS Pardede memutuskan untuk mengunggah video permohonannya ke media sosial dengan harapan mendapatkan perhatian publik. Dalam video yang diunggah ke akun TikTok @novie.hrp, ia terlihat menangis dan memohon agar Presiden Prabowo Subianto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo turun tangan membantu menyelesaikan kasus ini.
“Saya memohon kepada Bapak Presiden dan Kapolri, mohon perhatikan keadilan hukum untuk anak saya ini. Anak saya menerima video dari seorang anak pejabat di Kadin Padang Sidimpuan, tetapi malah dijadikan tersangka. Padahal, usianya baru 14 tahun,” ungkapnya dalam video tersebut.
Video berdurasi 5 menit 4 detik itu dengan cepat menjadi viral, ditonton lebih dari 6 juta kali, dan mendapatkan ribuan komentar dukungan dari netizen yang mendesak agar keadilan ditegakkan.
Sementara itu, gadis korban, yang kita sebut saja Bunga, juga muncul dalam video tersebut dan menyampaikan perasaannya. Dengan nada penuh harap, ia meminta agar dirinya diperlakukan secara adil di mata hukum.
“Saya ingin keadilan, jangan hanya karena kami orang biasa kami diperlakukan seperti ini. Saya bukan pelaku penyebaran video itu, tapi malah saya yang dianggap menyebarkannya,” tuturnya dengan penuh emosi.
Bunga, yang masih sangat muda dan tengah menjalani masa-masa pertumbuhan, kini harus menghadapi tekanan yang seharusnya tidak dialami oleh anak seusianya.
Kasus ini pun menarik perhatian masyarakat luas yang berharap agar para penegak hukum, termasuk Presiden dan Kapolri, dapat mengambil tindakan tegas untuk menuntaskan kasus ini dengan adil. Tidak sedikit warganet yang berkomentar dan menyoroti bagaimana hukum seharusnya berjalan tanpa pandang bulu, khususnya dalam kasus yang melibatkan korban anak di bawah umur.
TS Pardede mengungkapkan bahwa upaya mediasi yang dilakukan dengan keluarga pengirim video, yakni ZT, ayah MRST, gagal. Meskipun sudah berusaha untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan, pertemuan mereka diwarnai dengan ketegangan.
Bunga mengungkapkan bahwa hingga saat ini, bukti yang mereka ajukan tidak diterima oleh pihak kepolisian, dan mereka tidak tahu pasti mengapa.
“Kepada netizen, kami meminta empati dan dukungan, agar kasus ini bisa mendapatkan perhatian yang layak dan keadilan benar-benar ditegakkan,” pungkas Bunga dengan penuh harapan.
Kasus ini menjadi cerminan betapa pentingnya peran publik dalam mengawasi jalannya proses hukum, terutama dalam kasus yang melibatkan korban anak di bawah umur dan keluarga yang merasa diperlakukan tidak adil. (Firda*)
