Peneliti ECOTON Ungkap Air Hujan di Jombang Mengandung Mikroplastik

Avatar of Redaksi
ECOTON
Ecoton bersama siswa saat meneliti air hujan di asrama MTSN 16 Tembelang, Jombang. (Karimatul Maslahah/Kabarterdepan.com)

Jombang, kabarterdepan.com – Ancaman mikroplastik tidak hanya berasal dari laut atau makanan, tetapi juga telah terdeteksi dalam air hujan.

Hal tersebut terungkap dari hasil penelitian yang dilakukan Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) bersama para pelajar.

Metodologi Penelitian Air Hujan oleh ECOTON

Kepala Laboratorium Mikroplastik ECOTON, Rafika Aprilianti, mengatakan hasil penelitian menunjukkan partikel mikroplastik ditemukan di sejumlah wilayah di Kabupaten Jombang. Sumber utama mikroplastik tersebut diduga berasal dari aktivitas manusia, khususnya pembakaran sampah plastik.

“Penelitian ini dilakukan dengan metode pengambilan air hujan menggunakan wadah nonplastik berbahan stainless steel yang ditempatkan di ruang terbuka pada ketinggian sekitar 1,5 hingga 1,8 meter,” ujar Rafika saat dikonfirmasi, Jumat (26/12/2025).

Ia menjelaskan, wadah pengambilan sampel diletakkan tanpa penghalang seperti tanaman, kabel, maupun atap, guna memastikan air yang diteliti benar-benar berasal dari hujan dan tidak terkontaminasi lingkungan sekitar.

Selanjutnya, sampel air hujan disaring menggunakan mesh stainless steel berukuran 300 mikron, lalu diteliti di laboratorium menggunakan mikroskop stereo.

“Hasil pemeriksaan menunjukkan mikroplastik ditemukan di seluruh sampel air hujan,” katanya.

Jumlah mikroplastik tertinggi ditemukan di wilayah Genukwatu, Kecamatan Ngoro, disusul kawasan Perum Tambakrejo, Kecamatan Jombang, kemudian Karangmojo, Kecamatan Plandaan. Sementara jumlah mikroplastik paling sedikit ditemukan di Kecamatan Tembelang.

Rafika menyebutkan, mikroplastik di udara umumnya berasal dari dua sumber utama, yakni pembakaran sampah plastik dan emisi kendaraan bermotor.

“Aktivitas pembakaran sampah yang masih sering dilakukan masyarakat menjadi penyumbang signifikan penyebaran mikroplastik di udara, yang kemudian turun bersama hujan,” jelasnya.

Ia menambahkan, dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia tergolong serius. Berdasarkan berbagai penelitian internasional, mikroplastik dapat memicu peradangan pada sel karena sifatnya yang kasar.

“Jika terakumulasi dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menyebabkan penyakit serius seperti tumor hingga kanker. Mikroplastik juga mengandung ribuan bahan kimia berbahaya, termasuk senyawa pengganggu hormon yang dapat merusak sistem endokrin manusia,” ungkapnya.

WhatsApp Image 2025 12 26 at 6.50.13 AM

Rafika mencontohkan, di beberapa negara seperti Amerika Serikat, isu mikroplastik telah mendapat perhatian serius. Di negara bagian California, misalnya, telah diterapkan standar baku mutu air bersih yang mewajibkan air minum bebas dari kontaminasi mikroplastik.

“Sementara di Indonesia, hingga saat ini regulasi khusus terkait ambang batas mikroplastik masih belum tersedia,” katanya.

Ia menegaskan pentingnya peningkatan riset mikroplastik di Indonesia, mengingat jumlah penelitian di dalam negeri masih sangat terbatas dibandingkan negara lain.

“Temuan ini diharapkan menjadi peringatan sekaligus bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan lingkungan dan kesehatan publik,” ujarnya.

Selain itu, masyarakat diimbau untuk menghentikan kebiasaan membakar sampah. Praktik tersebut telah dilarang dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, dengan ancaman sanksi denda bagi pelanggarnya.
Pemerintah daerah juga didorong untuk memperkuat implementasi aturan tersebut melalui penegakan hukum dan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat.

Sebagai langkah paling sederhana, ECOTON menekankan pentingnya penerapan prinsip reduce atau mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

“Menggunakan wadah guna ulang, membawa tas belanja sendiri, serta menghindari pembakaran sampah merupakan solusi paling mudah, murah, dan dapat dilakukan setiap hari oleh masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu, salah seorang siswi yang mengikuti penelitian, Ananda Ayu (14), mengaku baru mengetahui bahwa air hujan juga dapat mengandung mikroplastik.

“Jujur saya baru tahu kalau air hujan ternyata bisa menyebarkan mikroplastik. Dari penelitian ini saya mendapat banyak ilmu baru untuk saya sampaikan ke keluarga dan teman-teman agar bisa mengurangi penggunaan plastik,” kata siswi kelas IX tersebut.

Responsive Images

You cannot copy content of this page