
Kabupaten Mojokerto, Kabarterdepan.com – Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Amanatul Ummah Pacet Mojokerto, Prof Dr KH Asep Saifuddin, MA memberikan tanggapan soal dirinya yang dilaporkan relawan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Mojokerto nomor urut 1 Ikfina Fahmawati-Sa’dulloh Syarofi (Idola) ke Bawaslu.
Dikutip dari Bangsaonline.com, relawan Ikfina yang menamakan diri Nderek Kiai Majapahit dan Loyalis Ikfina (LOBI) itu melaporkan Kiai Asep pada Senin (18/11/2024) lalu terkait dugaan pelanggaran netralitas ASN (Aparatur Sipil Negara) dalam pagelaran Pilkada Kabupaten Mojokerto.
Saat melapor ke Bawaslu Kabupaten Mojokerto, para relawan Ikfina itu didampingi Achmad Arif, Ketua Tim Pemenangan Idola sekaligus Divisi Hukum dan Akvokasi, Achmad Maulana Robitoh dan Mujiono.
Namun laporan itu tampaknya salah alamat. “Saya kan sudah mengajukan pengunduran diri dari ASN sejak saya diumumkan sebagai Dewan Pembina TKN Prabowo,” tegas Kiai Asep, Selasa (19/11/2024).
Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya itu mengaku menyampaikan surat pengunduran diri dari ASN lewat Rektorat UINSA Surabaya.
“Surat pengunduran diri saya itu langsung diproses dan sekarang SK pensiun saya sudah turun,” tegas Kiai Asep yang selama pandemi Covid-19 turun ke pedagang kaki lima dan masyarakat Mojokerto untuk memberikan beras dan uang karena alasan agama dan kemanusiaan. Beras yang dibagi berton-ton.
“Jadi saya mengundurkan diri dari ASN sejak 10 bulan lalu, saat menjelang Pilpres, karena saya harus all out untuk memenangkan Pak Prabowo,” kata putra KH Abdul Chalim, salah seorang ulama pendiri NU dan pejuang kemerdekaan RI yang pada November 2023 ditetapkan sebagai pahlawan nasional itu.
Ia mengaku tak beban meski harus mundur dari ASN demi memenangkan Prabowo.
“Saya tak mau menodai Pak Prabowo. Karena itu saya harus mengundurkan diri dari ASN, meski orang menyatakan saya akan ada beban karena tak bisa menerima gaji lagi,” tegas Kiai Asep.
Kiai Asep mengaku, sejak mengudurkan diri ia tak lagi mengajar atau melakukan aktivitas terkait tugasnya sebagai ASN.
“Saya juga tak mengirim asisten untuk mengajar. Dan saya juga tak mau menerima gaji lagi sejak saya mengundurkan diri,” tegasnya.
Kiai Asep menyadari bahwa dirinya adalah seorang kiai. “Sebagai seorang kiai, ucapan dan tindakan saya harus sesuai dengan hukum,” tambahnya.
Sementara Wakil Sekretaris Partai Amanat Nasional (PAN) Jawa Timur, Malik Effendi mengecam tindakan tim atau relawan Ikfina yang melaporkan Kiai Asep ke Bawaslu. Menurut dia, relawan Ikfina itu tak paham tata krama politik.
“Seharusnya hati-hati, tak asal lapor tanpa melakukan pendalaman lebih dulu. Ini berpotensi menjadi pencemaran nama baik. Faktanya ternyata mereka salah. Kiai Asep sudah lama mengundurkan diri dari ASN,” tegas Malik Effendi sembari mengatakan bahwa tim Ikfina-Gus Dulloh sangat ceroboh.
“Kiai Asep itu ulama besar, putra pahlawan nasional, pengasuh pesantren besar Amanatul Ummah yang santrinya puluhan ribu. Kiai Asep juga banyak jasanya untuk masyarakat Mojokerto,” tambah mantan anggota DPRD Jawa Timur.
“Bahkan nama Mojokerto terkenal secara nasional dan sampai internasional sampai Mesir, Maroko, Thailand, dan negara-negara lainnya juga berkat jasa dan kebesaran Kiai Asep,” tegas Malik Effendi.
Senada dengan Malik Effendi, Ketua DPW Harian PAN Jatim Dr Achmad Rubaie juga menyayangkan langkah gegabah relawan Ikfina.
“Mereka suul adab, tak bisa membedakan orang besar dan orang banyak manfaatnya bagi masyarakat Mojokerto. Silakan beda pilihan politik dan bersaing untuk memenangkan pertarungan Pilbup tapi akhlak dan moralitas politik harus tetap dikedepankan,” kata mantan anggota DPR RI itu.
Menurut Achmad Rubaie, presiden saja sangat hormat kepada Kiai Asep. Bahkan para menteri mencium tangan Kiai Asep.
“Lah, orang-orang ini tanpa tabayun malah melaporkan Kiai Asep. Salah lagi laporannya,” katanya sembari mengatakan bahwa tim Ikfina-Gus Dulloh sangat tidak cerdas. (*)
