Madura  

Diduga Korban Begal, Driver Ojol di Jembatan Suramadu Viral di Media Sosial

Avatar of Redaksi
IMG 20241221 WA0024
Cuplikan foto dari salah satu bukti bahwa sebuah ojol dibegal dan sedang membawa penumpang. (Redaksi / Kabarterdepan.com)

Madura, Kabarterdepan.com – Video yang menunjukkan seorang pengendara motor berhenti di Jembatan Suramadu viral di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Pengendara yang diduga merupakan seorang driver ojek online (ojol) itu diduga menjadi korban aksi pembegalan. Kejadian ini sontak memicu kekhawatiran publik, terutama di kalangan pengguna jembatan sepanjang 5,4 kilometer yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura.

Dalam video berdurasi 30 detik yang beredar luas di grup WhatsApp, terlihat seorang perempuan mengenakan pakaian hitam dan helm kuning, yang diduga sebagai penumpang ojol. Di video tersebut terdengar suara pria mengatakan,

“Korban begal, tolong ojol-ojol pantau Suramadu. Pelaku begal menuju arah Madura, korban Honda Beat,”

Situasi ini menggambarkan kondisi yang sangat mencekam. Kejadian ini diduga terjadi pada malam hari di jalur roda dua Jembatan Suramadu, yang sering kali minim penerangan. Banyak warganet yang prihatin dan menyayangkan kurangnya keamanan di jembatan ikonik tersebut.

Menanggapi viralnya video tersebut, Kanit Pidum Satreskrim Polres Bangkalan, Ipda M. Nur Cahyo, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan pemeriksaan di sejumlah polsek terdekat. Namun, hingga kini belum ada laporan resmi dari korban. Ia berharap korban segera melapor agar pihak kepolisian dapat menyelidiki dan menangani kasus ini secara menyeluruh.

“Kami sudah melakukan patroli siber dan menemukan unggahan video terkait dugaan pembegalan ini. Namun, sampai sekarang, baik di polsek maupun di Polres Bangkalan, tidak ada laporan yang masuk. Kami mengimbau kepada masyarakat untuk melapor jika menjadi korban atau memiliki informasi terkait kejadian ini,” ungkap Ipda Nur Cahyo.

Selain itu, ia juga mengimbau kepada seluruh pengendara, baik roda dua maupun roda empat, untuk tetap waspada saat melintas di Jembatan Suramadu, khususnya pada malam hari. Jika merasa diikuti atau berada dalam situasi mencurigakan, ia menyarankan agar pengendara tidak berhenti di tempat sepi, melainkan melaju hingga menemukan lokasi yang ramai atau mendatangi kantor polisi terdekat.

Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat, terutama mereka yang sering melintasi Jembatan Suramadu. Minimnya penerangan di jalur roda dua, terutama di malam hari, menjadi perhatian utama. Kondisi gelap sepanjang jalur sering kali memicu rasa tidak aman, karena membuka peluang bagi pelaku kejahatan untuk melancarkan aksinya tanpa terdeteksi.

Zainal, seorang pengendara asal Bangkalan, menyampaikan rasa prihatin dan keinginannya agar keamanan di Jembatan Suramadu ditingkatkan. Ia bahkan mendukung gagasan untuk mengembalikan sistem karcis penyeberangan yang sebelumnya dihapus pada 2015 untuk kendaraan roda dua dan 2018 untuk semua jenis kendaraan.

“Saya setuju jika karcis kembali diterapkan, asalkan uangnya digunakan untuk menambah fasilitas keamanan seperti lampu penerangan, patroli keamanan, dan perawatan jembatan. Selain itu, sistem karcis juga dapat membantu mengatur lalu lintas sehingga pengendara tidak saling menerobos jalur seperti yang sering terjadi,” ujar Zainal.

Jembatan Suramadu mulai beroperasi pada Juni 2009 dan saat itu menerapkan tarif untuk kendaraan roda dua dan roda empat. Namun, pada 2015, Presiden Joko Widodo memutuskan untuk membebaskan tarif bagi kendaraan roda dua, yang kemudian diperluas untuk semua jenis kendaraan pada Oktober 2018. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan perekonomian di wilayah Madura.

Namun, insiden pembegalan ini kembali memunculkan wacana untuk mengembalikan sistem karcis. Banyak yang berpendapat bahwa penerapan tiket bisa menjadi solusi untuk membiayai penerangan, patroli keamanan, serta perawatan jangka panjang jembatan.

Satreskrim Polres Bangkalan telah berkomitmen untuk meningkatkan patroli siber dan memantau perkembangan di lapangan. Ipda Nur Cahyo menegaskan bahwa pengendara harus berhati-hati dan tidak mudah berhenti di tempat sepi, terutama jika merasa diikuti oleh orang yang mencurigakan.

“Kami mengimbau kepada masyarakat, jika merasa terancam, jangan berhenti di lokasi sepi. Teruslah melaju hingga menemukan tempat aman seperti polsek atau area ramai untuk meminta bantuan,” tegasnya.

Masyarakat berharap insiden ini menjadi perhatian serius bagi pihak berwenang. Mereka juga meminta agar fasilitas dan keamanan di Jembatan Suramadu dapat ditingkatkan, terutama dengan pemasangan lampu penerangan yang lebih baik di jalur roda dua. Selain itu, wacana untuk menerapkan kembali sistem karcis juga banyak didukung, selama hasilnya digunakan untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pengguna jembatan.

Jembatan Suramadu, yang awalnya dibangun untuk mendukung konektivitas dan pertumbuhan ekonomi antara Pulau Jawa dan Madura, kini diharapkan kembali menjadi simbol keamanan dan kenyamanan bagi para pelintas. (Firda*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page