
Opini, Kabarterdepan.com – Akhir-akhir ini, kita sering mendengar tentang berbagai aksi dari kelompok kerja, masyarakat, hingga mahasiswa dan lainnya yang turun ke jalan untuk menyampaikan pendapat mereka.
Aksi protes mereka salah satunya terkait Makan Bergizi Gratis (MBG), program dari pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk menyediakan makanan sehat dan bergizi kepada kelompok yang membutuhkan, dengan fokus pada anak-anak sekolah.
Berbagai kelompok turut ambil bagian dalam gerakan ini untuk mengekspresikan aspirasi mereka.
Bisa jadi yang baru pertama kali ikut turun ke jalan, mungkin merasa bingung dengan beberapa istilah yang sering digunakan, seperti demonstrasi, unjuk rasa, dan aksi massa.
Ketiganya memang sering digunakan bergantian, namun ada perbedaan yang perlu dipahami. Memahami perbedaan ini penting, terutama jika berencana ikut serta dalam kegiatan semacam itu.
Pengetahuan ini akan membantu lebih memahami situasi dengan baik dan memastikan bisa berpartisipasi dengan aman dan bertanggung jawab.
Berikut adalah perbedaan antara demonstrasi, unjuk rasa, dan aksi massa serta sejarahnya di Indonesia.
1. Demonstrasi
Demonstrasi, yang sering disingkat demo adalah istilah yang paling umum. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), demonstrasi adalah “pernyataan protes yang dikemukakan secara massal”.
Demonstrasi biasanya melibatkan banyak orang yang berkumpul di tempat umum untuk menyampaikan pendapat atau tuntutan mereka kepada pihak berwenang atau publik.
2. Unjuk Rasa
Unjuk rasa adalah terjemahan dari istilah “protest” dalam bahasa Inggris, yang lebih berfokus pada tindakan menunjukkan ketidaksetujuan atau ketidakpuasan terhadap suatu kebijakan atau tindakan.
Istilah ini sering digunakan oleh media untuk menggambarkan protes yang dilakukan dengan damai, seperti berkumpul di suatu tempat untuk menyampaikan aspirasi.
Perbedaan utama antara unjuk rasa dan demonstrasi terletak pada skala dan intensitasnya. Unjuk rasa biasanya lebih kecil dan tidak selalu melibatkan pergerakan massa besar, tetapi lebih menekankan pada penyampaian pesan secara simbolis.
3. Aksi Massa
Aksi massa adalah istilah yang lebih umum dan mencakup berbagai bentuk kegiatan protes atau perlawanan publik.
Istilah ini sering digunakan oleh aktivis untuk menggambarkan situasi di mana banyak orang berkumpul untuk menunjukkan kekuatan atau menekan pihak tertentu agar memenuhi tuntutan mereka.
Aksi massa bisa berupa demonstrasi, unjuk rasa, atau kegiatan lainnya, seperti pawai, karnaval, atau acara teatrikal yang melibatkan banyak orang.
Aksi massa sering terjadi dalam situasi krisis atau ketika isu yang dihadapi sangat penting bagi masyarakat luas.
Sejarah Aksi Massa di Indonesia
a. Era Kolonial
Aksi massa di Indonesia dimulai pada masa penjajahan Belanda, ketika rakyat Indonesia mulai menentang penjajahan.
Gerakan nasionalis seperti Sarekat Islam dan Budi Utomo mengorganisir aksi massa untuk menuntut hak-hak politik dan sosial, serta kemerdekaan.
Salah satu aksi besar pada masa ini adalah demonstrasi anti-penjajahan pada tahun 1926, yang menjadi tonggak penting pergerakan kemerdekaan.
b. Era Orde Lama
Pada era Orde Lama, aksi massa digunakan oleh Presiden Sukarno untuk mendukung kebijakan-kebijakannya, seperti politik luar negeri dan ekonomi.
Salah satu aksi terkenal adalah aksi “Ganyang Malaysia” pada tahun 1963, di mana ribuan orang turun ke jalan untuk menentang pembentukan Federasi Malaysia.
c. Era Reformasi
Era reformasi yang dimulai pada akhir 1990-an ditandai oleh aksi massa besar-besaran yang menggulingkan rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto.
Demonstrasi mahasiswa pada 1998 adalah salah satu contoh aksi massa yang signifikan, di mana ribuan mahasiswa menuntut reformasi politik, ekonomi, dan hukum.
Aksi ini berujung pada pengunduran diri Soeharto pada 21 Mei 1998.
d. Pasca-Reformasi
Setelah Reformasi, aksi massa terus menjadi bagian penting dalam dinamika politik Indonesia.
Aksi-aksi ini sering terkait dengan isu sosial, politik, dan ekonomi, seperti demonstrasi menentang kenaikan harga BBM atau undang-undang yang dianggap merugikan rakyat.
Salah satu aksi terkenal setelah Reformasi adalah demonstrasi menentang Undang-Undang Cipta Kerja pada 2020.
e. Era Teknologi Digital
Dalam beberapa tahun terakhir, aksi massa di Indonesia semakin dipengaruhi oleh teknologi dan media sosial.
Teknologi memungkinkan mobilisasi massa menjadi lebih cepat dan efisien.
Contoh dari gerakan ini adalah “Save KPK” pada 2015, yang menggunakan media sosial untuk mengorganisir dukungan dan aksi massa dalam mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi. (Tantri*)
