
Kesehatan, Kabarterdepan.com – Tuberkulosis (TBC) sering kali hanya dihubungkan dengan gejala batuk kronis. Namun, faktanya, TBC bisa hadir tanpa batuk sama sekali.
Kondisi ini, menurut dokter spesialis paru dr. Eric Hermansyah, terjadi ketika infeksi tidak menyerang paru-paru, melainkan organ tubuh lainnya. TBC jenis ini dikenal sebagai TBC ekstrapulmonal.
Dokter Eric menjelaskan bahwa TBC ekstrapulmonal memiliki gejala yang sangat bervariasi, tergantung pada lokasi infeksi.
“Kalau TBC-nya menyerang organ lain selain paru, itu disebut TBC luar paru atau TBC ekstrapulmonal. Gejalanya tergantung organ mana yang terinfeksi,” ujarnya.
Berbagai bagian tubuh dapat menjadi target TBC ekstrapulmonal, mulai dari kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hingga selaput otak. Jika TBC menyerang kelenjar getah bening, gejala yang muncul bisa berupa pembengkakan kelenjar di leher atau ketiak.
Sementara itu, TBC pada tulang bisa menyebabkan nyeri hebat, bahkan kelumpuhan. Kondisi yang paling mengkhawatirkan adalah TBC pada selaput otak atau meningitis tuberkulosis, yang gejalanya meliputi sakit kepala parah, demam, dan leher kaku.
Dilansir dari berbagai sumber, berikut sederet bentuk TBC luar paru yang wajib Anda waspadai.
Jenis TBC Luar Paru atau Ekstrapulmonal yang Wajib Diwaspadai
1. TBC kelenjar
TBC jenis ini biasanya muncul dalam bentuk benjolan di leher atau area kelenjar getah bening lain. Benjolan cenderung tidak nyeri, tetapi terus membesar dan tidak kunjung sembuh.
Banyak pasien mengira benjolan hanya pembengkakan biasa. Padahal, bisa jadi itu adalah tanda TBC.
2. TBC tulang
Ditandai dengan nyeri tulang yang menetap dan tak kunjung membaik, meski sudah diobati dengan analgesik. TBC tulang umumnya menyerang tulang belakang. Bila terlambat ditangani, TBC tulang bisa memicu kelumpuhan.
3. TBC selaput otak (meningitis TBC)
TBC jenis ini adalah bentuk TBC yang paling berat. Gejalanya berupa sakit kepala berkepanjangan, muntah, kejang, hingga penurunan kesadaran. Karena menyerang sistem saraf pusat, kondisi ini membutuhkan penanganan intensif.
Tuberkulosis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyebar melalui udara. Setelah masuk ke tubuh, bakteri ini biasanya menyerang paru-paru terlebih dahulu.
Namun dalam beberapa kasus, terutama pada orang dengan daya tahan tubuh lemah, bakteri bisa menyebar melalui aliran darah atau sistem limfatik ke organ-organ lain.
“Jadi meskipun awalnya dari paru, bakteri ini bisa ‘berkelana’ ke tempat lain. Dan di sana ia menimbulkan gejala yang sama sekali tidak terkait batuk,” terangnya.
Karena gejalanya tidak khas dan sering menyerupai penyakit lain, TBC ekstrapulmonal kerap terlambat terdiagnosis. Banyak pasien yang sudah berobat ke berbagai dokter, namun belum membaik karena penyebab utamanya tidak terdeteksi.
Diagnosis TBC luar paru biasanya membutuhkan pemeriksaan lanjutan, seperti biopsi, CT scan, MRI, atau pemeriksaan cairan tubuh (misalnya cairan otak atau cairan sendi).
Satu hal penting yang perlu digarisbawahi, meski gejala TBC luar paru tidak melibatkan batuk, penularan penyakit ini tetap hanya bisa terjadi dari penderita TBC paru yang aktif dan menularkan lewat udara. (*)
