BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Jawa Timur dan Bali, Waspada Banjir, Longsor, dan Gelombang Tinggi

Avatar of Redaksi
Screenshot 20241217 071713 Google
Potret logo BMKG. (Redaksi / Kabarterdepan.com)

Surabaya, Kabarterdepan.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan terkait ancaman cuaca ekstrem yang diperkirakan melanda Jawa Timur (Jatim) dan Bali dalam beberapa hari ke depan. Fenomena ini berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, termasuk banjir, tanah longsor, dan gelombang tinggi.

Fenomena cuaca ekstrem ini, menurut BMKG, dipengaruhi oleh kondisi global seperti La Nina dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif. Meskipun kedua fenomena ini diprediksi netral pada awal 2025, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menegaskan bahwa curah hujan tinggi masih akan terjadi hingga akhir tahun 2024.

Untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem tersebut, Dwikorita melakukan pertemuan langsung dengan Pj. Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono di Surabaya, Sabtu (14/12/2024) dan Pj. Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya di Denpasar, Minggu (15/12/2024).

Dalam pertemuan ini, Dwikorita memaparkan analisis terbaru mengenai kondisi cuaca di kedua provinsi, serta langkah mitigasi yang harus diambil oleh pemerintah daerah dan masyarakat.

“Kondisi global seperti La Nina dan IOD negatif meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur dan Bali. Hal ini berpotensi menimbulkan berbagai bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan gelombang tinggi. Meski fenomena La Nina diprediksi netral pada awal 2025, kewaspadaan harus tetap ditingkatkan,” kata Dwikorita, dikutip dari situs resmi BMKG, Senin (16/12/2024).

Dwikorita menjelaskan bahwa curah hujan tinggi di Jawa Timur akan mencapai puncaknya pada Desember 2024. Data BMKG menunjukkan peluang curah hujan menengah (51-150 mm) di wilayah tersebut lebih dari 70%, sementara peluang curah hujan tinggi (151-300 mm) mencapai lebih dari 60%.

Akibatnya, beberapa daerah di Jawa Timur diprediksi rawan banjir, yaitu:

– Blitar: Kecamatan Gandusari, Nglegok

– Gresik: Kecamatan Sangkapura, Tambak

Jember: Kecamatan Bangsalsari, Panti, Sumberbaru, Tanggul

– Malang: Kecamatan Ngantang

– Pacitan: Kecamatan Kebonagung, Pacitan, Pringkuku

– Probolinggo: Kecamatan Krucil, Tiris

Selain banjir, wilayah perairan selatan Jawa Timur juga berpotensi mengalami gelombang tinggi antara 1,25 hingga 2,5 meter, termasuk di Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, dan Banyuwangi.

Sementara itu, Bali juga menghadapi risiko cuaca ekstrem, terutama di wilayah Tabanan, Badung, Gianyar, Bangli, dan Denpasar. Curah hujan di wilayah tersebut diprediksi berada dalam kategori menengah hingga sangat tinggi, meningkatkan risiko bencana seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang.

BMKG juga memperkirakan gelombang tinggi mencapai 2,5 hingga 4 meter di perairan selatan Bali. Dwikorita mengimbau masyarakat pesisir, termasuk nelayan, untuk menghindari aktivitas di laut selama periode 15-21 Desember 2024, yang diprediksi sebagai puncak cuaca ekstrem.

Merespons peringatan BMKG, Pj. Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan langkah antisipasi. Ia menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama.

“Kami telah berkoordinasi dengan BMKG dan instansi terkait untuk mengantisipasi dampak bencana. Masyarakat kami minta tetap tenang, tetapi selalu waspada. Pemantauan informasi cuaca secara berkala sangat penting agar mitigasi bisa dilakukan tepat waktu,” paparnya.

Pj. Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya menyampaikan hal serupa. Ia berjanji memastikan koordinasi berjalan lancar untuk menghadapi potensi bencana.

“Kami terus memantau situasi bersama BMKG dan instansi terkait. Warga Bali diminta tetap waspada terhadap cuaca ekstrem ini. Keselamatan masyarakat adalah prioritas, dan kami mengimbau masyarakat untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin,” katanya.

BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terkini melalui saluran resmi mereka, seperti aplikasi Info BMKG, website, atau media sosial. Selain itu, Dwikorita menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah daerah, lembaga terkait, dan masyarakat untuk memitigasi dampak bencana.

Dengan ancaman cuaca ekstrem yang terus mengintai, BMKG mengingatkan bahwa kewaspadaan, kesiapan, dan langkah antisipasi dini adalah kunci untuk mengurangi risiko dampak bencana di wilayah rawan seperti Jawa Timur dan Bali.

Responsive Images

You cannot copy content of this page