Angin Kencang dan Pohon Tumbang di Mojokerto, Pakar: Perlu Mitigasi Serius

Avatar of Redaksi
5DDE9226 A054 485E 84BA FEEC8614A40D
Potret Direktur Sahabat Lingkungan, Satrijo Wiweko bersama host pada Podcast Kabar Terdepan, Kamis (14/2) siang. (Redaksi / Kabarterdepan.com)    

Mojokerto, Kabarterdepan.com – Fenomena angin kencang yang mengguncang Kota Mojokerto kembali menjadi sorotan setelah sejumlah pohon tumbang dan menyebabkan kerusakan infrastruktur. Isu ini dibahas dalam Podcast Kabar Terdepan pada Jumat (14/2/2025) siang, dengan menghadirkan Satrijo Wiweko, Direktur Sahabat Lingkungan dan peraih Kalpataru Jawa Timur sebagai narasumber.

Dalam diskusi tersebut, host Andy Yuwono mengangkat pertanyaan kritis mengenai penyebab utama pohon tumbang yang sering terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

“Membahas terkait pohon tumbang, apakah ini karena angin kencang atau sebenarnya human error atau bagaimana? Karena kita melihat ya dalam tujuh bulan ini Kota Mojokerto hampir berkali-kali, lima atau enam kali pohon tumbang itu terjadi. Padahal kita bisa melihat Kota Mojokerto tidak terlalu luas, hanya tiga kecamatan. Tapi sering terjadi yang namanya pohon tumbang. Dan dinas terkait menyalahkan karena angin, hujan, dan menyalahkan cuaca,” tanyanya.

Menanggapi hal tersebut, Satrijo Wiweko mengungkapkan bahwa berdasarkan kajian para pakar, ancaman bencana hidrometeorologi, terutama angin kencang, akan semakin meningkat di Indonesia pada masa mendatang. Oleh karena itu, mitigasi harus menjadi prioritas.

A320BA6D 49D2 4EAF B6C4 5BB2DE3E6AA1
Potret Direktur Sahabat Lingkungan, Satrijo Wiweko pada Podcast Kabar Terdepan, Kamis (14/2) siang. (Redaksi / Kabarterdepan.com)

“Diskusi terakhir kami dengan berbagai pakar itu mengatakan Indonesia ini ke depannya itu kecenderungan bencana hidrometeorologi, khususnya angin, itu akan semakin dahsyat. Dan ini perlu adanya mitigasi,” jelasnya pada Podcast Kabar Terdepan Jumat (14/2) siang.

Lebih lanjut, Satrijo menyoroti minimnya ruang hijau di Kota Mojokerto dan kesalahan dalam teknik penanaman pohon di area perkotaan.

“Kalau di Mojokerto ini kami lihat untuk space penghijauan itu juga sangat minim sekali. Kalau kita lihat di Jalan Majapahit dan Jalan Gajah Mada, menanam pohonnya seperti dijepit karena di sana ada aspal dan cor beton sehingga akarnya tidak bisa berkembang dengan baik. Padahal secara ekologis, pohon itu antara kanopi dan sistem perakaran tajuknya itu harus sama. Dan kalau di bawahnya dijepit oleh cor, beton, dan aspal, pasti dia tidak bisa berkembang. Padahal yang di atas berkembang terus, pasti kalau ada puting beliung, pasti akan roboh,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa pohon seharusnya menjadi pelindung dari angin kencang, tetapi jika penanamannya salah, justru bisa menjadi ancaman bagi masyarakat sekitar.

“Padahal pohon itu justru sebagai pencegah terjadinya kerusakan angin, pohon ditanam untuk melindungi rumah kita. Tapi kalau salah menanamnya, salah perawatannya, pohon tidak menjadi pelindung, melainkan menjadi bencana memilukan. Entah itu menerpa orang, rumah, atau kendaraan bermotor yang lewat,” katanya.

Satrijo menekankan bahwa pohon yang sudah tua dan memiliki akar yang lemah harus terus dimonitor dan dirawat agar tidak membahayakan. Selain itu, kebiasaan masyarakat yang membakar sampah di bawah pohon juga dapat mempercepat proses korosi dan memperlemah struktur akar.

“Upaya-upaya mitigasinya sering melakukan monitoring dan perawatan, apalagi yang tumbang sudah pohon-pohon lama dan perakarannya kurang kokoh. Dan ditambah perilaku masyarakat yang membakar sampah di bawah pohon, itu juga menyebabkan korosi. Melakukan upaya regenerasi menanam di sampingnya,” jelasnya.

Terakhir, ia mengingatkan bahwa menanam pohon tidak cukup hanya sekali tanpa pemeliharaan berkelanjutan.

“Jangan pohon sekali ditanam tidak dipelihara. Supaya fungsi dari hidrometeorologinya berfungsi,” pungkasnya.

Diskusi ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi bagi pemerintah daerah dan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan serta menerapkan mitigasi bencana yang lebih baik untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. (Inggrid*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page