
Mojokerto, Kabarterdepan.com – Isu temuan ulat sayur dan dugaan makanan basi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMK Negeri 2 Kota Mojokerto sempat bikin heboh di media sosial. Namun, pihak sekolah akhirnya buka suara dan memberikan klarifikasi resmi pada Kamis (18/9/2025).
Menurut Humas SMKN 2 Kota Mojokerto, kejadian itu langsung ditangani oleh penyedia makanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Makanan yang bermasalah langsung diganti di hari yang sama, sehingga siswa tidak ada yang sampai sakit atau mengalami gangguan kesehatan.
“Langsung anak-anak boleh tukar, gitu. Dan SPPG-nya semakin lama semakin baik koordinasinya,” ujar perwakilan Humas SMKN 2 Kota Mojokerto yang enggan disebutkan namanya.
Distribusi Makanan Kini Lebih Tertib
Memasuki minggu ketiga, pelaksanaan MBG di SMKN 2 Kota Mojokerto disebut semakin membaik. Setiap hari, sekitar 850 siswa kelas 10 dan 11 mendapatkan jatah makanan bergizi yang dibagikan segera setelah tiba sekitar pukul 09.00 WIB.
Untuk memastikan makanan tetap segar, pihak sekolah menyesuaikan waktu konsumsi agar tidak terlalu lama dibiarkan. Koordinasi antara siswa piket, guru koordinator, dan penyedia makanan kini berjalan lebih cepat berkat adanya grup komunikasi khusus.
Jadi Media Belajar Disiplin dan Kebersamaan
Selain untuk memenuhi gizi siswa, program MBG ini juga menjadi sarana pembelajaran. Anak-anak dikenalkan dengan pola makan sehat, kebiasaan makan bersama, hingga menjaga kebersihan dan kedisiplinan.
Guru koordinator menjelaskan, siswa bebas mendokumentasikan kegiatan MBG, baik untuk konsumsi pribadi maupun diunggah ke media sosial. Hal ini justru dianggap sebagai pengalaman positif yang bisa mempererat interaksi antarsiswa.

Klarifikasi Soal Ulat dan Dugaan Makanan Basi
Pihak sekolah tidak menampik adanya keluhan makanan basi dan dugaan ulat dalam sayuran. Namun, mereka memastikan kejadian tersebut tidak menimbulkan dampak kesehatan.
“Memang waktu itu anak langsung mengganti omprengnya. Petugas juga mengirim foto ke pihak SPPG untuk ditindaklanjuti,” jelas guru koordinator.
Sekolah pun mengimbau agar siswa segera melapor jika menemukan makanan kurang layak. Mereka bahkan diperbolehkan menukar atau menambah jatah dari sisa siswa yang tidak hadir.
Harapan Mendatang
SMKN 2 Kota Mojokerto optimis program MBG akan semakin baik. Sekolah juga membuka komunikasi seluas-luasnya dengan siswa maupun wali murid, agar setiap permasalahan bisa langsung diselesaikan tanpa menimbulkan keresahan.
“Jika ada masalah, silakan langsung ditukar. Jangan berlama-lama,” tegas guru koordinator. (Redaksi)
