Bahasa Madura Pernah Menjadi Senjata Rahasia Kemerdekaan Indonesia, Sukses Kelabuhi Jepang

Avatar of Redaksi
IMG 20250808 WA0192
Naskah proklamasi berbahasa madura yang tersebar di media cetak pada saat itu (redaksi/kabarterdepan.com)

Sampang, kabarterdepan.com – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI yang jatuh setiap 17 Agustus selalu diwarnai dengan pembacaan teks Proklamasi secara serentak di seluruh Indonesia.

Namun, tak banyak yang tahu bahwa pada awal kemerdekaan, Proklamasi pernah disiarkan dalam bahasa Madura untuk mengelabui penjajah Jepang.

Hal itu diungkapkan oleh Karso, relawan muda asal Kajuk Sampang yang ditemui di sela persiapan kegiatan perlombaan dalam memperingati HUT RI ke 80. Ia mengaku merasa bangga sekaligus tersentuh mengetahui peran bahasa daerahnya dalam sejarah bangsa.

“Saya kesal, Madura dicap ‘Mexico City’. Padahal kalau kalian tahu, Proklamasi itu dulu pernah dibacakan pakai bahasa Madura. Itu bukti bahwa orang Madura punya kontribusi besar dalam kemerdekaan Indonesia,” ujarnya dengan nada tegas, Jumat, (8/8/2025).

Dikutip dalam Atlas Sejarah Indonesia: Berita Proklamasi Kemerdekaan. Jakarta: Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pada 18 Agustus 1945 pukul 19.00 WIB, radio Hosokyoku (sekarang RRI Surabaya) menyiarkan berita proklamasi dalam Bahasa Madura agar tidak dimengerti oleh Jepang. Bahasa Madura dipilih karena dimengerti oleh sebagian masyarakat Jawa Timur di Surabaya dan sekitarnya.

Selain itu, penggunaan Bahasa Madura juga bertujuan agar siaran radio tersebut terhindar dari sensor Kempeitai atau polisi militer Jepang, yang selalu menempatkan seorang petugasnya yang mampu berbahasa Indonesia.

Penyiaran teks proklamasi kemerdekaan baru dilakukan dalam Bahasa Indonesia pada 19 Agustus 1945, saat petugas Kempeitai lengah.

Teks Proklamasi versi Madura yang disiarkan berbunyi:

“Sengko kabbhi bangsa Indonesia klaban reja anjata’agi kamardhika’anna Indonesia. Hal-hal tasangkot bi’ ngallena kakobasa’an ban en-laenna elampa’agi klaban tjara se tartib tor edalem bakto se pande’. Djakarta tanggal 17 boelan 8 1945. Attas nyamana bangsa Indonesia, Soekarno Hatta.”

Relawan muda tersebut juga menegaskan bahwa masyarakat Madura dikenal sebagai kelompok yang memegang teguh nilai sopan santun dan penghormatan kepada sesama.

“Selain itu, orang Madura kalau kalian tahu, ras yang menjunjung tinggi etika, hormat, dan menghargai kyai serta orang tua, bahkan kepada orang yang lebih tua meskipun bukan orang yang kita kenal akrab,” tutupnya. (Fais)

Responsive Images

You cannot copy content of this page