Ansor Kota Yogyakarta Tanggapi Isu Sopir Truk Kibarkan Bendera One Peace karena Protes Aturan ODOL

Avatar of Redaksi
IMG 20250801 WA0083
Ketua PC Ansor Kota Yogyakarta Mohammad Jafar saat ditemui di Titik Nol Kilometer, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta, DIY, Jumat (1/8/2025). (Hadid Husaini/kabarterdepan.com)

Yogyakarta, kabarterdepan.com  – Pengurus Cabang (PC) Ansor Kota Yogyakarta menanggapi isu pengibaran bendera One peace mengganti bendera merah putih oleh sopir yang memprotes terkait kebijakan Over Dimension Overloading (ODOL) sebagai hal yang wajar jelang peringatan Hari Kemerdekaan ke-80 RI.

Hal tersebut sebelumnya beredar di media sosial dan banyak menarik perhatian publik.

“Kita tetap menghormati alasan para sopir truk mengibarkan bendera. Bukan karena tidak cinta NKRI, tapi mungkin itu berkaitan tentang kebijakan di bidang ODOL transportasi angkutan barang,” katanya Ketua PC Ansor Kota Yogyakarta Mohammad Jafar saat ditemui di Titik Nol Kilometer, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Jumat (1/8/2025).

Sebagai masyarakat, ia menilai apa yang disampaikan oleh para sopir truk sebagai bagian hak berekspresi dan berpendapat.

Menanggapi anggapan rasa tidak-nasionalisme nya para sopir truk, ia beranggapan bahwa hal tersebut hanya masalah persepsi.

Menurutnya, seharusnya pemerintah mendengarkan aspirasi yang banyak menjadi kegelisahan para sopir truk.

“Karena ini mempengaruhi ceruk rezeki mereka,  akan ada hal yang bagus jika pemerintah merespon dengan baik (keluhan terkait ODOL). Jangan sampai masalah ini menjadi bola liar dan akan mengarah ke mana mana,” katanya.

“Kami menanggapinya (pengibaran bendera One Piece) ini sebagai kebebasan berpendapat. Saya yakin mereka tetap cinta NKRI,” imbuhnya.

Bendera One Piece sendiri disebutnya memiliki arti perdamaian. Sehingga Jafar menganggap para sopir truk dalam berbagai aksinya di berbagai wilayah ingin agar ada situasi yang lebih damai.

“One piece mereka perdamaian mereka ingin damai. Ini juga terjadi di berbagai daerah, apalagi di Yogyakarta.

“Ketika ada kebijakan berpengaruh terhadap wilayah mereka, sebagai kegiatan ekonomi atau wisata, tapi sebagai masyarakat mereka direlokasi,” katanya.

Ia mendorong baik para pelaku sopir truk dan pemerintah setempat dapat menemukan solusi dengan mengedepankan dialog. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page