Trump Umumkan Tarif Impor Baru 14 Negara, Indonesia Kena 32%

Avatar of Redaksi
SmartSelect 20250410 153516 Instagram
Donald Trump. (Instagram @whitehouse)

Internasional, Kabarterdepan.comPresiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan tarif impor hingga 40 persen terhadap barang kepada 14 negara, termasuk Indonesia mulai 1 Agustus, Senin (7/7/2025).

Kebijakan ini disebut sebagai langkah untuk memperbaiki ketimpangan perdagangan yang dinilai merugikan industri dalam negeri AS.

Dalam pernyataan resmi yang diunggah melalui akun Truth Social miliknya, Trump menyebut bahwa Amerika Serikat akan tetap bekerja sama dengan negara-negara tersebut, meskipun hubungan dagang dinilai “jauh dari timbal balik”.

Ia menegaskan bahwa tarif ini hanyalah langkah awal untuk menekan negara-negara yang dinilai merugikan ekonomi AS.

“Jika kalian menaikkan tarif terhadap kami, maka sebesar apapun kenaikannya, akan kami balas dengan jumlah yang sama dalam bentuk tarif impor,” tulis Trump dalam suratnya.

Berikut rincian besaran tarif yang dikenakan pada 14 negara, di antaranya:

– Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Kazakhstan, dan Tunisia: 25%

– Afrika Selatan dan Bosnia: 30%

– Indonesia: 32%

– Bangladesh dan Serbia: 35%

– Thailand dan Kamboja: 36%

– Myanmar dan Laos: 40%

Sebelumnya, Trump sempat memberlakukan jeda tarif selama 90 hari sejak April lalu, namun pada Senin malam ia memperpanjang masa jeda tersebut hingga 1 Agustus 2025.

Dalam surat yang sama, Trump juga membuka peluang untuk mengubah keputusan tersebut jika negara-negara terkait bersedia membuka akses pasar mereka untuk produk-produk AS dan menghapus kebijakan tarif serta hambatan perdagangan lainnya.

“Jika kalian ingin membuka pasar kalian dan menghapus berbagai hambatan dagang, maka kami akan mempertimbangkan untuk menyesuaikan kembali kebijakan ini,” tambahnya.

Sementara, Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari strategi Trump untuk mengembalikan kekuatan industri Amerika Serikat.

“Dia (Trump) benar-benar mengamati setiap negara di dunia untik melihat mana yang merugikan rakyat Amerika, melihat di mana industri kita jadi lemah, dan melihat pekerjaan kita pindah ke luar negeri karena kebijakan tarif mereka. Inilah upayanya untuk memperbaiki kondisi itu,” ujar Leavitt, dikutip dari The Washington Post. (Riris)

Responsive Images

You cannot copy content of this page