
Kota Mojokerto, kabarterdepan.com – Perjalanan Jonata Sahrul Fernando dari Kelurahan Pulorejo menjadi Gus Bahasa Kota Mojokerto 2025 dalam ajang Gus Yuk 2025 yang digelar Sabtu (14/06/2025) di Ampiteater Taman Bahari Majapahit penuh inspiratif.
Dengan advokasi bertajuk “Ketumbar Ijo” dan kampanye personal bertema Is Journey John, Jojo, sapaan akrabnya, berhasil menembus lima besar dan meraih salah satu gelar bergengsi.
Tentu bukanlah proses yang mudah. Jojo mengakui bahwa tantangan terberat justru datang dari dirinya sendiri. Ia harus melawan rasa ragu, pesimisme, dan tekanan mental yang muncul akibat overthinking. Namun keyakinan yang ia tanamkan membuatnya terus maju dan tidak menyerah.
“Sebenarnya kalau dibilang berjalan dengan lancar ya lancar, tetapi pasti ada kendala. Aku ini sering overthinking, merasa tidak mampu, padahal sudah berusaha maksimal. Rasanya seperti tidak layak,” ujar Jojo.
“Tapi aku terus ingatkan diriku sendiri, bahwa sebuah proses sulit pasti ada titik kemenangannya,” Imbuhnya.

Jojo juga harus menunda pekerjaannya demi fokus mengikuti seluruh rangkaian kegiatan Gus Yuk Kota Mojokerto. Ia menyadari bahwa fokus dan ketulusan adalah kunci untuk mencapai hasil yang bersahabat. Bahkan ia rela tidak jajan dan memilih menabung agar bisa membiayai semua kebutuhannya sendiri.
“Buah yang aku ambil sekarang adalah hasil dari yang aku tanam. Jadi aku menekuni semua ini dengan sungguh-sungguh dan tulus banget,” ungkapnya.
Ia juga mengaku sering jatuh sakit selama masa karantina, tetapi berusaha tetap kuat demi tujuannya.
Tidak hanya soal perjuangan pribadi, Jojo juga membawa harapan besar dari kampung halamannya. Ia berasal dari lingkungan yang dulunya dikenal kumuh dan sering dipandang sebelah mata. Namun ia membuktikan bahwa generasi muda dari Balong Cangkring bisa berprestasi dan membanggakan Kota Mojokerto.
Perjalanan Jojo tidak lepas dari dukungan penuh orang tua dan teman-temannya. Mereka menjadi garda terdepan dalam menyemangatinya hingga mencapai titik ini. Dukungan itu menjadi bahan bakar emosional yang membuatnya terus melangkah, bahkan ketika semangatnya mulai goyah.
Baginya, hadiah terbesar bukan sekadar gelar atau materi, melainkan kesempatan untuk mewakili Kota Mojokerto di tingkat Jawa Timur.
“Aku yakin Tuhan memberi gelar ini bukan tanpa sebab. Ada sesuatu besar yang menunggu. Ini bukan akhir, tapi awal dari perjalanan yang lebih jauh lagi,” tutup Jojo penuh haru dan semangat.
Ia meyakini bahwa gelar Gus Bahasa adalah amanah yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya, bukan hanya sebagai kebanggaan pribadi, tetapi juga sebagai tanggung jawab untuk membawa perubahan positif lewat bahasa. (ceci)
